Terowongan Wihelmina, Destinasi Tua Yang Terlupakan

Foto: Kakigatel

Ciamis, Sayangi.com – Ingin suasana yang lain dari wisata air? Atau sedang menyukai wisata penuh peninggalan-peninggalan masa lampau? Anda bisa menukik ke arah perbatasan desa Bagolo dan Desa Emplak, masih dalam lingkup kabupaten Ciamis, sekitar satu setengah jam perjalanan dari Pangandaran. Tak sampai di situ, perjalanan masih harus menyusuri kebun-kebun liar dan beberapa mata air selama hampir setengah jam, untuk menuju sebuah destinasi tua yang terlupakan di Pangandaran.

Dipenuhi semak belukar, struktur lengkungan tua itu masih nampak sangat kokoh. Yah, dialah aset kota Ciamis yang terlupakan, Terowongan Wilhelmina. Terowongan yang juga dijuluki terowongan Sumber ini memiliki nama unik dari seorang Ratu Belanda yang berkuasa 1890 hingga 1948, Ratu Wilhelmina Helena Pauline Marina. Terowongan yang dianugerahi mahkota sebagai terowongan terpanjang di Indonesia ini membentang sepanjang 1.200 meter atau 1,2 km.

Dibangun oleh Perusahaan kereta api Staats Spoorwegen pada tahun 1914, khusus untuk rute Banjar–Pangandaran–Cijulang, yang melintas sepanjang 82 km. Namun sejak awal penggunaanya di Januari 1921 silam, terowongan ini menjadi barang terlupakan seiring ditutupnya jalur Banjar–Cijulang.

Rencana PT Persero untuk merenovasi dan mangaktifkan keberadaan terowongan ini juga nampaknya menjadi rencana yang terlupakan. Pasalnya hingga kini terowongan itu tetap dalam rimbunan semak belukar yang kian merambat liar, ketika menemukannya. saya pun tak menyangka ada terowongan sepanjang 1,2 km ditengah perkebunan liar.

Dalam gelap dan dipenuhi kelelawar saya memberanikan diri untuk menjelajah terowongan ini hingga ke ujungnya. Perlu jasa pemandu untuk menemukan terowongan ini berada. Lampu senter atau penerangan juga sangat dibutuhkan bila anda ingin nekad menjelajah terowongan tersebut. Anda harus tetap berhati-hati, karena medan disepanjang terowongan selain gelap juga licin dan masih terdapat tapak tilas rel kereta. (VAL)