Tim PBB Mulai Beraksi Hancurkan Senjata Kimia Suriah

Foto: news.yahoo.com

Washington, Sayangi.com – Tim dari Organisasi Pelarangan senjata kimia (OPW) mulai menuju Damaskus sebagai operasi pemeriksaan awal Suriah. Mereka memulai tugas pada Selasa (1/10) untuk menghilangkan amunisi tersebut dari Suriah. Damaskus mengaku, memiliki senjata kimia. Langkah yang diperlukan ketika menyetujui OPCW melalui Konvensi Senjata Kimia awal bulan ini adalah mengungkapkan persediaan senjata dan membantu tim OPCW untuk menghancurkan peralatan yang digunakan untuk memproduksi senjata dan sistem pengiriman untuk mereka. 

“Tim peneliti senjata kimia yang dipimpin oleh Profesor Ake Sellstrom saat ini mereka berada di Suriah untuk menyelidiki tuduhan senjata kimia di negara itu. Mereka akan segera meninggalkan negara itu setelah 6 hari tugas mereka selesai,” kata juru bicara PBB Martin Nesirky, dalam sebuah briefing berita harian.

Nesirky menambahkan, tim sekarang akan pindah untuk menyelesaikan laporannya sehingga akhir Oktober sudah bisa diselesaikan.

Sellstrom adalah seorang ilmuwan Swedia, seorang ahli dalam senjata kimia .

Tim ini terpisah dari operasi OPCW yang diamanatkan oleh Dewan Keamanan PBB dalam Resolusi 2118 Jumat malam untuk membersihkan Suriah dari senjata kimia pada pertengahan tahun depan . Tim Sellstrom didirikan sebagai tanggapan atas tuduhan senjata kimia yang digunakan di Suriah oleh pemerintah dan pasukan oposisi .

Tugas awal mereka adalah untuk menentukan apakah benar bahwa senjata kimia yang digunakan pada tanggal 19 Maret di Khan al – Asal dan dua lokasi lain yang lokasinya tidak dirilis. Disarankan beberapa lokasi tambahan tidak diidentifikasi karena alasan keamanan.

Namun, sementara tim Sellstrom berada di Damaskus pada 21 Agustus, sebuah senjata kimia yang diduga menyerang di Ghouta dekat Damaskus menewaskan ratusan dan bahkan mungkin sebanyak 1.400 orang termasuk perempuan dan anak-anak.

Tim Sellstrom diperintahkan untuk “memprioritaskan” situs itu dan pergi ke Ghouta dalam beberapa hari. Meskipun selama perjalanan mencapai lokasi, mereka disibukkan untuk menghindari penembak jitu yang menghalangi langkah mereka.

Setelah dari Ghouta, mereka kembali ke OPCW yang berkantor pusat di Den Haag . Sampel dikirim ke empat laboratorium di Eropa , wawancara dan bukti lain yang dikumpulkan dan dianalisis di Den Haag .

Tim kemudian melaporkan kembali kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki -moon , yang mendirikan kelompok pencari fakta, Maret atas permintaan pemerintah Suriah. Mereka menyampaikan informasi dapa dewas keamanan bahwa senjata kimia itu benar digunakan di Ghouta. Tim kemudian kembali ke Suriah untuk menyelesaikan tugas, tetapi, seperti yang dikatakan Nesirky, hari Senin (30/9), ia gagal mencapai Khan al – Asal.

Serangan di Ghouta membuat Presiden Obama mengatakan bahwa Washington menuding Pemerintah Suriah yang melakukan hal itu dan mengancam Suriah dengan serangan militer.

Sementara itu, Rusia, pendukung utama Suriah di Dewan Keamanan , mengatakan, telah memeiliki bukti bahwa pemberontak lah yang melakukan serangan senjata kimia di Ghouta untuk mendapatkan simpati.

Sergey Lavrov, menteri luar negeri Rusia dan mantan utusan Moskow untuk PBB bersama dengan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry kemudian memulai diplomasi yang intensi selama dua minggu hingga menghasilkan kompromi resolusi Dewan keamanan.

Sekarang, di bawah kesepakatan itu, PBB membawa ancaman dengan melakukan tindakan lebih lanjut di bawah Piagam PBB Bab VII yang memungkinkan penggunaan kekuatan. Misi baru akan berlangsung .

Tim advance yang terdiri dari 20 personil pergi ke Suriah Selasa (1/10) sebagai garda depan untuk menjalankan misi ‘menentukan ukuran dan lokasi baru yang diperkirakan terdapat senjata kimia Suriah.’ (FIT/xinhua)