Penyelamatan Century, Sebuah Preseden Buruk

Ilustrasi foto: wordpress.com

Jakarta, Sayangi.com – Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas) menilai, penyelamatan kasus Bank Century yang saat ini telah berganti nama menjadi Bank Mutiara namun proses divestasinya belum kunjung usai, dapat menimbulkan preseden buruk.

“Dampak langsung (penanganan Century) tidak ada, langsung ke dalam kinerja perbankan secara individu ya tidak ada pengaruh. Tapi secara umum preseden ini gak baik untuk penanganan bank gagal di masa depan,” ujar Sigit Pramono, Ketua Perbanas saat ditemui di sela-sela Seminar LPS bertemakan “Peran Lembaga Penjamin Simpanan Dalam Penyelamatan Bank Gagal” di Jakarta, Rabu (2/10) lalu.

Menurut Sigit, Indonesia bisa kapan saja mengalami krisis yang membuat risiko terjadinya bank gagal semakin besar, terlebih interval terjadinya krisis relatif semakin pendek jangka waktunya.

“(Perlu diperhatikan) ketika kita harus ada penyelamatan bank lagi, bisa saja lebih dari satu, ratusan bank kita pernah alami. Tapi kita tangani bank Century ini saja tidak selesai,” tutur Sigit.

Ia mengatakan, jika penjualan Bank Mutiara tidak jua rampung sesuai batas waktu yang ditentukan, maka hal tersebut dikhawatirkan memberikan keraguan bagi FKSSK untuk mengambil keputusan penyelamatan jika kembali ada kasus bank gagal sistemik. “Preseden ini, siapapun nanti yang duduk di lembaga baik Kemenkeu, OJK, dan BI dalam FKSSK, nanti bisa gamang dalam menyelamatkan bank. Mereka nanti akan lebih baik untuk tutup dibanding penyelamtan bank,” katanya.

Sigit mengingatkan, semua pihak harus bisa membedakan antara politik dan keuangan negara. Prinsip penjualan Bank Mutiara adalah meminimalisasi kerugian, bukan memaksimalisasi keuntungan. “LPS khawatir kalo Rp 6,7 triliun nanti ada korupsi dan lain-lain. Kita bantu menjalankan sesuai UU-nya. Ini harga krisis Rp 6,7 triliun lebih murah dibanding negara lain,” ujar Sigit. (MSR/ANT)