Harga Minyak Naik Meskipun Persediaan AS Melonjak

Foto: energitoday.com

London, Sayangi.com – Harga minyak naik pada Rabu (2/10), karena dolar lebih lemah mengimbangi data resmi yang mengungkapkan kenaikan lebih besar dari perkiraan dalam persediaan minyak mentah AS, kata para pedagang.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November, naik 1,68 dolar AS menjadi 103,72 dolar AS per barel.

Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman November naik 1,01 dolar AS menjadi berdiri di 108,95 dolar AS dalam transaksi akhir di London.

Euro melonjak terhadap dolar pada Rabu, karena Italia menghindari sebuah krisis politik dan Bank Sentral Eropa (ECB) mengisyaratkan lebih banyak upaya untuk meningkatkan pemulihan di zona euro.

Melemahnya dolar membuat harga minyak mentah dalam unit AS lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang saingan, sehingga mendorong permintaan.

Sementara Departemen Energi AS pada Rabu mengatakan cadangan minyak mentah Amerika naik 5,5 juta barel pada pekan lalu, jauh lebih tinggi dari perkiraan para analis untuk kenaikan sebesar 2,1 juta barel.

Amerika Serikat adalah konsumen minyak mentah terbesar di dunia dan laporan mingguan memberikan indikasi kekuatan permintaan energi di negara itu.

Di tempat lain pada Rabu, Menteri Perminyakan Libya, di mana produksi minyak mentahnya telah tersendat karena pemogokan, mengatakan ia berharap untuk secepatnya memulai produksinya secara normal 1,6 juta barel per hari.

“Kami berhasil mencapai kesepakatan dengan sebagian besar orang, hanya sedikit orang yang masih membuat masalah bagi kami,” kata Menteri Perminyakan Libya Abdelbari al-Aroussi pada Rabu di London.

Produksi minyak Libya anjlok hingga sempat mencapai di bawah 150.000 barel per hari karena pemogokan atas dugaan korupsi menutup fasilitas produksi dan ekspor, yang membantu menjaga harga minyak global tinggi.

Aroussi mengatakan pemerintah mereka tidak beralih memaksa dan berharap bisa segera membujuk mereka yang tidak sepakat untuk kembali bekerja.

“Segera setelah kami memecahkan masalah ini, saya percaya bahwa kita dapat menempatkan kembali produksi dalam tiga hingga empat hari,” kata Aroussi pada konferensi Minyak dan Uang. (ANT)