Mahfud MD: Hakim MK Sering Ditawari Uang

Foto: sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Tawaran sejumlah uang kerap kali dialami beberapa hakim dalam penyelesaian perkara sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi. Hal ini terjadi bukan saja di era kepemimpinan Akil Mochtar, tapi juga pada periode sebelumnya di bawah kepemimpinan Mahfud MD.

Hal itu secara gamblang diceritakan oleh mantan Ketua MK, Mahfud MD dalam rekaman wawancara via telepon dengan salah satu presenter Metro TV, Rabu (2/10) malam. Mahfud menjelaskan bahwa godaan sebagai hakim MK sangat besar.

“MK itu menangani lebih dari 400 kasus sengketa Pilkada, dan lebih dari separuh dari kasus itu selalu saja ada iming-iming uang. Untuk satu hakim ditawari 2 atau 3 miliar, di jaman saya juga selalu terjadi seperti itu”, katanya.

Untuk membangun lembaga MK yang kredibel, maka pada saat menjadi Ketua MK, Mahfud selalu mengingatkan para hakim agar tidak tergoda tawaran seperti itu. “saya ingatkan hakim agar jangan sampai tembus oleh godaan itu. Kalau sampai hakim menerima suap, lembaga MK ini akan hancur”, sambung Mahfud.

Ketika ditanya tentang track record Akil Mochtar di bawah kepemimpinannya, Mahfud menilai tidak ada kejanggalan.
“Saya rasa dia bersih-bersih saja, karena dia menjadi tim B di dalam persidangan Pilkada”.

Namun demikian, Mahfud mengakui bahwa Akil memang pernah diterpa isu suap seperti dilontarkan oleh Refly Harun walaupun dalam perjalanannya isu tersebut tidak terbukti. KPK dalam kasus tersebut juga tidak mendapatkan bukti keterlibatan Akil dalam prakti suap menyuap. Pada saat itu menurut Mahfud, Akil sendiri yang berinisiatif minta diperiksa KPK dan komisi disiplin MK untuk membersihkan namanya.

Saat ini, KPK memang belum menentukan status tersangka untuk Akil Mochtar. Juru bicara KPK, Johan Budi menyebut status Akil Mochtar masih terperiksa. KPK akan mengumumkan perkembangan status Ketua MK tersebut dalam 24 jam sejak penangkapan. Dalam tradisi di KPK selama ini, belum ada catatan bahwa KPK pernah membebaskan pejabat yang telah tertangkap tangan.

Seperti diberitakan, KPK telah menangkap tangan Ketua MK, Akil Mochtar di rumah dinasnya di kompleks Widya Chandra Jakarta Selatan. Turut ditangkap di rumah tersebut seorang anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Dapil Kalteng bernama Chairunnisa. Dari rumah tersebut KPK menyita barang bukti berupa uang dalam pecahan dollar Singapura dengan nilai sekitar 2-3 miliar rupiah. Selain itu, di tempat terpisah KPK juga menangkap Bupati Gunung Mas, Hambit Bintih. Uang suap yang diterima Akil Mochtar diduga terkait sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. (S2)