Geng Motor Kian Meresahkan

Foto : Sayangi.com/doc

Bandung, Sayangi.com – Geram oleh perilaku geng motor yang sudah menjurus ke kriminalitas sehingga amat meresahkan masyarakat, ratusan warga Paseh, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya beberapa waktu lalu melakukan sweeping di beberapa titik yang diduga lokasi pangkalan geng motor.

Sweeping atau razia oleh warga itu dilakukan setelah warga menyaksikan perilaku berandal geng bermotor itu makin menggila dan upaya kepolisian untuk menindak mereka dinilai kurang memberi efek jera. Pencetus sweeping adalah insiden yang menimpa dua warga Paseh, Kecamatan yang mengalami luka serius setelah diserang geng motor yang membawa senjata tajam.

Kapolsekta Cihideung, AKP Tri Sumarsonon membenarkan, aksi sweeping itu dipicu oleh kejadian penganiayaan oleh sekelompok anggota geng motor terhadap dua warga Paseh hingga babak belur.

Saat kejadian, dua warga itu tengah nongkrong di pinggir jalan, tiba-tiba diserang sekelompok orang bersenjata. Akibatnya, dua warga mengalami luka sabetan senjata tajam di bagian kepala.

Tembak di Tempat

Sementara Polresta Cirebon memberlakukan tembak di tempat kepada geng motor yang dinilai meresahkan warga sekitar. “Jadi jika para anggota geng motor ini kedapatan melakukan aksi kejahatan, petugas di lapangan langsung mengambil langkah tegas. Kalau perlu tembak di tempat, sekalipun itu anak polisi,” kata Kapolresta Cirebon, AKBP Dani Kustoni.

Menurut Dani, apa yang dilakukan berandal bermotor di beberapa kota, sudah sangat meresahkan masyarakat, karena tidak jarang aksi mereka kerap berujung pada rusaknya fasilitas umum, bahkan, hilangnya nyawa orang. Dalam satu bulan misalnya, jajarannya telah menangani tiga kasus dugaan berandalan bermotor. Paling akhir, tiga remaja anggota geng motor diamankan di Polsek Mundu.

Di Kota Cirebon ada beberapa titik rawan yang sering dijadikan tempat berkumpulnya anggota geng motor adalah Kecamatan Kesambi, Kejaksan, Lemahwungkuk dan Harjamukti yang diketahui setelah kepolisian memetakan beberapa kasus tindak kekerasan dan kriminal yang melibatkan anggota geng motor.

“Jadi masyarakat diimbau selalu waspada,” katanya. Jika ada yang mencurigakan langsung saja melapor ke kepolisian terdekat. Aksi beberapa geng motor di Cirebon sudah menelan korban jiwa, diantaranya Hardi Purwanto tewas pada 2010 setelah disiksa secara brutal oleh anggota geng motor. Satpam BRI Syariah itu baru pulang dari tugas di kantornya ketika tiba-tiba dihadang gerombolan bermotor. Tanpa alasan jelas, ia langsung dipukuli dengan pecahan paving block. Hardi tewas di lokasi kejadian.

Anggota Polres Cirebon, Athoillah, juga menjadi korban penyiksaan anggota geng motor pada 2010. Sekalipun selamat, dia yang kini berpangkat Briptu itu mendapatkan beberapa jahitan di bagian kepala, kaki, badan dan tangan. Dia dipukul dengan samurai, gir yang diikat dirantai, golok dan berbagai senjata tajam lain. Dia dipukuli saat tengah berada di pedagang jagung bakar kaki lima di kawasan Jl. Kartini.

Sejak adanya ancaman tembak di tempat bagi berandalan bermotor yang melakukan aksi kekerasan dan kejahatan, mereka mengubah strategi untuk tetap eksis. Semula berkeliling kota dengan cara konvoi puluhan motor, kini mereka paling banyak berkeliling kota hanya 6 motor, dibagi dalam beberapa kelompok dan mereka menyebar di beberapa ruas jalan di Kota Cirebon.

Geng Motor Menggila

Aksi terbaru geng motor di Kota Semarang adalah pengeroyokan terhadap Nur Rohman (24) warga Kalialang Baru, Gunungpati, hingga meninggal dunia. Tiga pelaku telah ditangkap polisi kurang lebih empat jam setelah mengeroyok korban di Taman Sudirman Gajahmungkur, Semarang.

Beberapa waktu lalu Yusrifal Rahmadi (26), warga Tangkerang, Pekanbaru berada dalam perjalanan pulang menuju rumahnya setelah bersama teman-temannya menggelar nonton bareng pertandingan bola. Subuh itu hujan gerimis dan saat mengendarai sepeda motornya dia dipepet dari belakang oleh pengendara dua sepeda motor.

“Mereka merapat, lantas yang dibonceng menempelkan samurai ke leher. Saya dipaksa turun, jika tidak leher saya ditebas,” kata Yusrifal dan menambahkan, “Saya pasrah saat ditodong dengan samurai. Setelah itu mereka kabur dengan membawa sepeda motor saya.” Perampasan sepeda motor itu terjadi di Jl. Ponegoro Pekanbaru. Dia meyakini pelaku kejahatan itu adalah bagian kelompok geng motor. Rahmadi hanyalah satu di antara korban dari banyak aksi brutal yang dilakukan kelompok geng motor ini.

“Mereka itu ada pelaku curanmor, menjarah, dan pemerkosa. Mereka ini akan kami sikat,” tegas Kapolresta Pekanbaru, Kombes Adang Ginanjar.

Asal Muasal Geng Motor

Awalnya geng motor hanyalah kumpulan anak-anak remaja yang hobi ngebut dengan sepeda motor, baik siang maupun malam hari di Kota Bandung. Mereka melakukan balapan motor alias trek-trekan di jalanan umum. Tapi kini, geng motor kini sudah meresahkan masyarakat, karena sepak terjangnya makin beringas.

Kelompok ini sekarang sudah menyebar ke berbagai wilayah, meski organisasi induknya tetap berada di Kota Bandung, Jawa Barat. Saat mereka direkrut sebagai anggota geng motor mereka wajib bersumpah berani melawan polisi berpangkat komisaris ke bawah, melawan orang tuanya sendiri dan bernyali baja dalam melakukan kejahatan.

Tiga jenis sumpah anggota geng motor di Bandung dalam buku putihnya itu ditemukan polisi pada 1999. Dokumen setebal 20 halaman yang diamankan Kapolwiltabes Bandung saat itu, Kolonel (Kombes Pol -Red) Yusuf Mangga Barani, nampaknya menjadi sumpah atau patokan geng motor selama ini.

Berdasarkan penyelidikan, ada empat geng motor terkenal di Kota Bandung, yakni Exalt To Coitus (XTC), Grab On Road (GBR), Berigade Seven (Briges) dan Moonraker yang pada hakikatnya memiliki ideologi sama, mencetak anggota dari kalangan siswa SMP dan SMA menjadi remaja yang berperilaku jahat dan tak lepas dari tiga jenis sumpah di atas.

Anggota geng motor bukan saja laki-laki, tetapi banyak juga remaja putri yang senang ngumpul-ngumpul, berbaur dengan putra.

Merujuk pada tiga poin doktrin geng motor tersebut, dapat dimaklumi kalau mereka selalu berbuat jahat karena termotivasi doktrin yang ada di kumpulannya itu. Hanya saja, aksi kejahatan mereka kini semakin membabi buta. Bukan saja sebatas tawuran atau merampas sepeda motor, tapi mereka sudah berani merampok dan membunuh.

Masalah kejahatan inilah yang kini jadi momok warga Bandung untuk keluar pada malam hari. Dan sering membuat kewalahan polisi untuk memberantasnya. Empat geng motor yang terus membuat kisruh di Bandung membuat polisi berang. Kapolrtesta Bandung Tengah AKBP Mashudi menyebutkan, empat geng motor itu yang menjadi incaran kepolisian.

Tak heran jika polisi geram, pasalnya sudah banyak korban berjatuhan. Tiga warga tewas sia-sia akibat dibantai anggota geng motor. Asep siswa SMA tewas dibantai kemudian mayatnya dibuang ke sungai di Cileunyi Kabupaten Bandung, Sensi juga siswa SMA tewas dibantai mayatnya dibuang di selokan daerah Margahayu Raya. Korban ketiga, Putu, PNS Kanwil Bea Cukai Merak Banten dibantai ketika sedang silaturahim ke temannya di Bandung.

Aksi kejahatan yang dilakukan geng motor, kata Mashudi, sangat monoton. Mereka berkelompok menyergap merampas dan menguras hartanya. Bila melawan korban dihabisi. Geng ini tak mau bergerak sendirian, tegasnya. Dari fakta yang ada, korban warga biasa (di luar anak sekolah) dibunuh saat mereka melawan. “Alasan pembunuhan sangat enteng, salah sasaran,” kata Mashudi.

Jika korbannya anak SMA, dihabisi karena adanya permusuhan antara geng. Korban terpaksa dianiaya karena diduga menyakiti anggota geng lain, atau mengkhianati geng yang korban masuki. Pengungkapan kasus sangat alot karena pelajar yang berhasil ditangkap selalu tutup mulut tentang masalah gengnya itu.

Berdasar bukti yang ada, banyak anggota geng motor adalah anak para pejabat di Kota Bandung, sehingga ada kesan polisi nampak menutup sebelah mata terhadap aksi kejahatan ini. Namun, Kapolda Jabar (waktu itu) Irjen Pol Sunarko Danu, memberikan sinyal, supaya geng motor yang berulah diproses secara hukum. Tak peduli anak siapa dan dari mana asalnya. (Ant)