Seorang Jaksa di Bandarlampung Diduga Kena Suap

Foto:aryashari.blogspot.com

Bandarlampung, Sayangi.com – Setelah ketua MK ditangkaptangan karena terima suap, di Bandarlampung, seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandarlampung, inisial EA diduga menerima suap dari terdakwa Deka Putra bin Khatib Sutan, berdasarkan pengakuan istri terdakwa.

Berdasarkan pengakuan istri terdakwa, Maryati, di Bandarlampung, Kamis (3/10), menyatakan ketika itu mobil keluarganya berada bersebelahan dengan mobil EA, dan dia melihat Deka memberikan amplop yang diduga berisikan uang suap itu.

“EA menerima amplop dari Deka di mobil, pada saat itu dari mobil keluarga kami melihat itu tapi tidak sempat difoto. Mobil EA langsung berjalan keluar melihat mobil kami,” kata Maryati.

Dia mengatakan, semenjak menerima amplop tersebut, EA tidak pernah ada lagi kontak, bahkan sikapnya sangat berubah tidak seperti sebelumnya.

“Bahkan EA sempat berbicara di hadapan kami dengan berkata, puas kalian, sekarang ke atas,” katanya lagi.

Menurut dia, Deka juga sempat menanyakan kepada EA, apakah dia harus keluar. Namun EA menahan dirinya dan menyatakan untuk tetap di dalam, karena dirinya yang akan mengatur.

Maryati menyatakan, uang suap tersebut dimaksudkan agar JPU tidak melakukan perpanjangan status penahanan rumah yang dikenakan kepada terdakwa.

Dugaan tersebut mengarah setelah masa penahanan rumah terhadap terdakwa habis kemudian tidak diperpanjang lagi.

Sementara itu, EA menanggapi tuduhan dirinya telah menerima suap itu, dia menepiskannya dan mengatakan bahwa dirinya hanya menerima amplop berisikan surat penahanan dari terdakwa.

“Yang saya terima dari terdakwa itu amplop yang berisi surat penetapan penahanan, bukan duit. Tolong saya minta nomor telepon Maryati, biar saya telepon dia,” katanya pula.

Namun, Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang diketahui baru mengeluarkan penetapan penahanan terhadap terdakwa pada persidangan Kamis (3/10).

Sedangkan dalam surat dakwaan dijelaskan penyidik kepolisian tidak melakukan penahanan, sementara JPU menetapkan status penahanan rumah bagi terdakwa dari tanggal 17 Juli 2013 sampai dengan 5 Agustus 2013, dan JPU tidak melakukan perpanjangan penahanan pertama bagi terdakwa.

Terdakwa Deka Putra adalah suami dari saksi korban Maryati. Terdakwa telah berumah tangga dan dikaruniai dua anak.

Namun prahara rumah tangga kandas setelah Deka Putra menikahi Rosida Ardiani kekasih gelapnya yang telah hamil tiga bulan.

Kemudian, Deka memutuskan untuk meninggalkan Maryati dan menikahi kekasihnya yang telah hamil empat bulan untuk menjadi istrinya.

Menanggapi permasalahan itu, Maryati merasa kesal kemudian melaporkan kepada pihak berwajib, dan akhirnya sampai di persidangan dengan terdakwa dikenai pasal 279 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman lima sampai tujuh tahun penjara. (ANT)