Akil Nyanyikan Lagu Lama, KPK Jangan Tertipu

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar mengaku tidak mengenal anggota DPR Chairun Nisa dan pengusaha bernama Cornelis. Meski ketiganya ditangkap secara bersamaan di rumah dinas Akil.

Kalimat penyangkalan tersebut diucapkan sang hakim konstitusi sehabis diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang berlangsung hampir 10 jam. Akil juga membantah menerima uang yang dibawa oleh anggota DPR-RI Chairun Nisa dan pengusaha Palangkaraya, Cornelis Nalau. Dia bahkan mengaku sama sekali tidak tahu maksud kedatangan Chairun Nisa dan Cornelis ke rumah dinasnya.

“Saya tidak tahu maksud dan kepentingannya apa,” bilang Akil, seraya keluar dari Gedung KPK, untuk masuk ke mobil tahanan. Cerita versi Akil, “Tadi malam (mereka) ke rumah saya pukul 21.00 WIB. Ngakunya dari Kalteng,” sambung Akil. Dia lalu menemui keduanya di teras rumahnya. Nah, pas keluar rumah, penyidik KPK langsung meringkus mereka.  

Akil Mochtar boleh berkilah, tapi track record-nya menunjukkan, alasan yang dikemukakan itu bak lagu lama yang dinyanyikan ulang.

Sekitar tiga tahun lalu (2010), pakar hukum Tata Negara Refly Harun pernah membeberkan dugaan praktik suap di Mahkamah Konstitusi. Hal itu berawal dari laporan tim investigasi yang dipimpin oleh Refly, karena dia menduga ada makelar kasus di Mahkamah Konstitusi. Refly saat itu terang-terangan menyebut Akil Mochtar telah menerima uang Rp 1 miliar dalam bentuk pecahan dolar AS dari Bupati Simalungun, JR Saragih.

Anehnya, Ketua MK saat itu, Mahfud MD akhirnya malah membentuk Majelis Kehormatan Hakim untuk menyelidiki dugaan “pemerasaan” terhadap JR Saragih, bukannya dugaan Akil telah memeras atau menerima suap dari Saragih. Boleh dibilang, saat itu Mahfud lebih percaya pada Akil ketimbang Refly. Bupati Simalungun, Sumatera Utara JR Saragih saat itu memang tengah mengurus sengketa pilkada.

Mahfud bahkan sempat melaporkan kasus ini ke KPK. Tapi tak sejalan dengan keinginan Refly yang ingin membongkar kasus suap terkait Akil Mochtar, Mahfud justru melaporkan dua orang yang diduga berniat menyuap hakim konstitusi, yaitu dua pengacara yang menangani sengketa Pilkada di MK, Refly Harun dan Maheswara Prabandono.

Kemarin, hakim Akil tertangkap tangan di rumah dinasnya di Perumahan Widya Chandra bersama CHN dan CN, yang diduga memberikan suap terkait sengketa Pilkada di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Barang buktinya berupa uang dolar Singapura yang nilainya antara Rp 2,5 miliar sampai Rp 3 miliar. Penangkapan terjadi pada Rabu (2/10), sekitar pukul 22.00 WIB. Penyidik KPK juga menangkap tangan Hambit Bintih, Bupati petahana Gunung Mas yang sedang menghadapi sidang perselisihan hasil pilkada Gunung Mas 2013 di MK dengan tuduhan politik uang.

Akankah kali ini, pengakuan Akil bisa mengecoh (lagi) KPK? Hanya keledai yang terantuk dua kali pada batu yang sama, dan KPK bukan keledai. (MSR)