Bentrokan Marak Kembali di Mesir

Foto : BBC

Kairo, Sayangi.com – Bentrokan kembali marak antara pendukung mantan Presiden Mesir Mohammed Morsi dan aparat keamanan di beberapa kota, Jumat 4 Oktober.

Wartawan BBC di ibukota Kairo, Quentin Sommerville, mengatakan terdengar suara tembakan senjata dan letusan di pusat ibukota.

Aparat keamanan melepas tembakan gas air mata ke arah kerumunan pengunjuk rasa yang berupaya mendekati Lapangan Tahrir, yang menjadi tempat unjuk rasa besar-besaran yang menjatuhkan Presiden Hosni Mubarak.

Laporan-laporan menyebutkan peluru tajam juga sudah ditembakkan aparat keamanan dan sumber-sumber di rumah sakit mengatakan seorang pengunjuk rasa tewas akibat luka tembak.

Sementara itu stasiun TV negara melaporkan bentrokan juga berlangsung di kawasan utara Sharqiya dan di kota bagian timur, Giza, maupun kota pelabuhan Alexandria.

Sebagian pengunjuk rasa memekik ‘Rabaa, Rabaa’ yang merujuk kepada lapangan di dekat Masjid Rabaa al-Adawiya, tempat mereka berkemah untuk mendukung Presiden Morsi sebelum dibubarkan aparat keamanan.

Aksi pembubaran pada bulan Agustus di dua perkemahan pengunjuk rasa itu -di dekat Rabaa al-Adawiya dan di Lapangan Nahda- menyebabkan sedikitnya 500 orang tewas dan lebih dari 3.000 lainnya cedera.

Keamanan Ditingkatkan

Sebelum unjuk rasa hari Jumat ini, tentara dan polisi sudah meningkatkan keamanan di beberapa tempat di Kairo, termasuk Lapangan Tahrir.

Hal itu menanggapi seruan beberapa pendukung Presiden Morsi yang menyatakan akan meningkatkan unjuk rasa menjelang peringatan 40 tahun perang Arab-Israel tahun 1973 yang jatuh pada Minggu 6 Oktober.

Sementara para penentang Presiden Morsi -yang digulingkan militer pada 3 Juli lalu- juga mengatakan akan turun ke jalan.

Ketegangan antara pemerintah sementara Mesir, yang didukung militer, dengan kelompok Ikhwanul Muslimin, yang mendukung Morsi, masih belum mereda.

Mereka menentang penggulingan Presiden Morsi dan dalam pernyataan Kamis (03/10) menyamakan militer Mesir dengan Adolf Hitler serta Kaisar Nero.

Ribuan anggota Ikwanul Muslimin ditangkap dalam dua bulan belakangan, termasuk beberapa pemimpinnya.

Presiden Morsi sendiri kini sudah didakwa dengan menghasut kekerasan dan pembunuhan terkait dengan kekerasan yang terjadi di luar istana presiden Desember tahun lalu yang mengakibatkan tujuh orang tewas. (bbc)