Dinasti Ratu Atut Terancam Pasca Penangkapan Wawan

Foto : Antara

Serang, Sayangi.com – Suhu politik di Banten memanas pasca Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan, adik kandung Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.

Wawan, yang merupakan suami Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, kini ditahan di KPK dan berstatus tersangka dengan tuduhan menyuap Ketua MK Akil Mochtar dalam kasus sengketa Pilkada Lebak. Sedangkan Ratu Atut Chosiyah, yang seolah menghilang sejak peristiwa penangkapan Wawan, juga sudah dicegah untuk bepergian ke luar negeri oleh Kemenkumham selama 6 bulan ke depan.

Para kolega Ratu Atut Chosiyah di jajaran Pemprov Banten kompak mengatakan “no comment” saat ditanya wartawan soal penangkapan Wawan dan pencekalan Ratu Atut. Sebaliknya, berbagai kelompok mahasiswa dan elemen masyarakat pada hari Jumat (4/10) melakukan aksi unjuk rasa di Kota Serang, bertepatan dengan HUT ke-13 Provinsi Banten.

Dua kelompok mahasiswa melakukan unjuk rasa di depan gedung DPRD Banten, menuntut Ratu Atut agar segera mundur dari jabatannya sebagai Gubernur Banten. Sedangkan satu kelompok masyarakat melakukan sujud syukur di perempatan Ciceri, Kota Serang.

Dinasti Ratu Atut Terancam?

Peristiwa penangkapan Wawan oleh KPK, dan pencekalan Ratu Atut , jelas menghebohkan masyarakat Banten. Sebab selama 10 tahun terakhir ini, keluarga Ratu Atut Chosiyah dikenal sebagai dinasti paling berpengaruh di Provinsi Banten. Dinasti itu dibangun oleh ayah Ratu Atut, KH Chasan Sochib (alm), tokoh jawara Banten yang sampai akhir hayatnya mengendalikan tiga organisasi penting: Golkar Banten, Pendekar Banten, dan Kadin Banten.

Melalui pengaruhnya, KH Chasan Sochib (alm) berhasil menjadikan Ratu Atut (anak sulung dari ibu asal Bandung) sebagai wakil Gubernur Banten, dan selanjutnya sebagai Gubernur Banten selama dua periode. Keluarga besar almarhum Chasan Sochib, satu persatu selanjutnya menduduki pos-pos penting politik dan pemerintahan di wilayah Banten.

Haerul Jaman, adik tiri Ratu Atut, menjadi Wali Kota Serang. Airin Rachmi Diany, istri Wawan atau adik ipar Atut, menjadi wali kota Tangerang Selatan. Ratu Tatu Chasanah, adik perempuan Ratu Atut, menjadi wakil bupati Serang. Salah satu ibu tiri Ratu Atut menjadi wakil bupati Pandeglang. Hikmat Tomet, suami ratu Atut, menjadi ketua DPD Partai Golkar Banten dan saat ini duduk sebagai anggota DPR.

Atut pun sudah menyiapkan regenerasi politik di keluarganya. Andika Hazrumy, anak lelakinya, memimpin sejumlah Ormas di wilayah Banten dan saat ini duduk sebagai Anggota DPD RI mewakili dapil Banten. Sedangkan Ade Rossie, istri Andika atau menantu Ratu Atut, menjabat sebagai wakil ketua DPRD Kota Serang.

Beberapa kerabat lainnya juga duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Banten dan anggota DPRD Kabupaten Serang. Sedangkan Ratu Atut sendiri, selain menjadi Gubernur Banten, juga menjabat sebagai wakil bendahara DPP Partai Golkar.

Tubagus Chaeri Wardhana atau Wawan, yang saat ini ditahan KPK, memang tidak duduk di jabatan pemerintahan di lingkungan Banten. Ia hanya menjadi ketua Kadin Banten, menggantikan posisi ayahnya, dan menjadi Ketua DPD AMPI Provinsi Banten. Tapi pria murah senyum dan dikenal berperilaku santun inilah yang dianggap mengendalikan kekuasaan politik dan bisnis keluarga Ratu Atut di wilayah Banten.

Wawan berperan penting dalam berbagai Pilkada di wilayah Banten, baik Pilgub maupun Pilkada Kabupaten/Kota. Dalam beberapa Pilkada, dimana keluarga besarnya ikut mencalonkan diri, Wawan aktif mendekati partai politik dan menggalang dukungan dari tokoh-tokoh berpengaruh di masyarakat. Sedangkan menyangkut bisnis, Wawan punya pengaruh besar kepada para kepala dinas atau SKPD di lingkungan Provinsi Banten. Para pebisnis yang biasa mengikuti tender proyek dari APBD Banten, pasti tahu bagaimana kuatnya pengaruh Wawan.

Dengan peran Wawan yang begitu besar dalam menopang kekuasaan politik dan bisnis keluarga besarnya, wajar jika Ratu Atut Chosiyah sangat terpukul dengan peristiwa penangkapan adik kesayangannya. Barangkali, karena itulah Ratu Atut perlu waktu untuk menenangkan diri.

Sebagai politisi yang sudah cukup berpengalaman, Ratu Atut pasti mengerti bahwa kasus yang menimpa adik dan dirinya saat ini, akan menjadi pintu bagi para lawan politik untuk menggoyang kekuasaanya.

Sejumlah mahasiswa sudah memberi tekanan kepada Ratu Atut. Tidak tertutup kemungkinan, di hari-hari mendatang akan muncul gelombang perlawanan yang lebih massif, seiring dengan proses hukum yang berjalan di KPK terhadap Tubagus Wawan. (BB)