Jamaah Haji “Sandal Jepit” Indonesia Berkurang Drastis

Ilustrasi jemaah haji: Setkab.go.id
Ilustrasi: Jemaah umroh melakukan towaf

Jeddah, Sayangi.com – Jumlah jamaah haji nonkuota atau dikenal dengan jamaah “sandal jepit” dari Indonesia berkurang drastis pada tahun ini. Baru tercatat 41 orang tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, dibandingkan pada 2010 yang mencapai 3.000 orang.

“Jumlah jamaah nonkuota tahun ini berkurang drastis dan baru terdeteksi 41 orang,” kata Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia Daerah Kerja (Daker) Jeddah, Endang Jumali di Jeddah, Sabtu. Ia menambahkan, jemaah nonkuota itu walau mempunyai visa haji namun soal akomodasi dan biaya layanan umum haji diurus oleh biro perjalanan yang tidak terdaftar di Kementerian Agama, bahkan ada yang mengurus sendiri.

Mereka yang terekam oleh Daker Jeddah antara lain sebelas calon jamaah haji Indonesia yang tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah pada Jumat (4/10). Jamaah tersebut belum mengurus dan membayar biaya layanan umum atau general service kepada asosiasi layanan haji di Arab Saudi. Mereka tidak termasuk jamaah yang diberangkatkan resmi oleh Kementerian Agama sehingga tidak ada yang mengurus biaya tersebut.

“Mereka terhambat keluar dari bandara karena belum membayar general service dan naqobah sebesar 1.029 riyal. Kalau jamaah haji yang diberangkatkan resmi ‘kan sudah diurus oleh Kemenag,” kata kepala Seksi Pendataan Haji Khusus Kemenag, Cecep Nursamsi.

Ia menjelaskan, general service terdiri atas 594 riyal untuk biaya pelayanan jamaah haji selama di Arab Saudi yang antara lain untuk biaya angkut barang, tenda di Arofah, Mudzdalifah, dan Mina serta untuk air zamzam. Sedangkan sisanya sebesar 435 riyal untuk naqobah atau transportasi selama di Arab Saudi.

Ia mengungkapkan jamaah haji nonkuota yang tertahan di Bandara Jeddah itu berangkat menggunakan jasa travel yang tidak terdaftar di Kementerian Agama dengan membayar Rp70 juta sampai Rp80 juta per orang. Kementerian Agama berkali-kali mengimbau jamaah Indonesia supaya berhaji lewat jalur resmi untuk menghindari penipuan dan urusan yang merepotkan para jamaah.

Jamaah yang tertahan ini berbeda dengan jamaah haji yang berangkat atas undangan resmi Kerajaan Arab Saudi seperti bekas Wapres Jusuf Kalla yang menjadi salah seorang tamu resmi kerajaan lewat Bulan Sabit Merah. Kerajaan Arab Saudi mengundang 1.400 orang dari seluruh dunia untuk berhaji dan sekitar 400 orang diantaranya berasal dari Indonesia. Mereka akan dilayani oleh kerajaan termasuk soal biaya general service itu. (MSR/ANT)