Kekerasan Terhadap Umat Islam di Myanmar Makin Parah

Foto: iranreview.org

Yangon, Sayangi.com – Polisi menahan 44 orang yang terlibat dalam aksi kekerasan anti-Muslim di Myanmar barat. Hal diberitakan media pemerintah pada Minggu (6/10/2013), setelah kerusuhan terbaru meletus dalam kunjungan presiden ke daerah itu.

Ketegangan yang terjadi selama beberapa hari di kota Thandwe di negara bagian Rakhine berobah menjadi pertumpahan darah, Selasa, dengan ratusan orang turun ke satu desa membakar rumah-rumah dan menyerang penduduk Muslim lokal.

Kerusuhan berlanjut Rabu kendatipun Presiden Thein Sein sedang melakukan kunjungan dan bermalam di Thandwe. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertamanya ke Rakhine sejak gelombang aksi kekerasan menyangkut agama meletus di sana tahun lalu, yang menyebabkan puluhan orang tewas dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Surat kabar The New Light of Myanmar dilansir Antara mengatakan, 42 pria dan dua wanita diperiksa atas dugaan keterlibatan mereka dalam kerusuhan 29 September sampai 1 Okober.

“Akibat kerusuhan yang terjadi di Kotapraja Thamdwe, 114 rumah, tiga gedung agama dan satu empat penyimpanan bensin dibakar, yang menyebabkan 482 orang kehilangan tempat tinggal, lima orang tewas dan lima orang cedera,” kata surat kabar berbahasa Inggris itu.

Koran itu mengatakan “para pekerja pertolongan” berada di daerah itu, tetapi tidak merinci lebih jauh mengenai situasi mereka yang kehilangan tempat tinggal itu.

Seorang perwira polisi mengemukakan kepada AFP bahwa seorang lagi meninggal akibat serangan jantung dalam kerusuhan berdarah Selasa itu, yang terjadi dekat lokasi tujuan wisata terkenal Ngapali Beach.

“Situasi kini tenang. Kami juga tetap berjaga-jaga,” katanya.

Satu kelompok massa sekitar 800 orang terlibat dalam pertumpahan darah Selasa, kata polisi dengan seorang wanita berusia 94 tahun termasuk di antara yang tewas.

Apa yang terjadi tahun lalu satu bentrokan massa antara warga Buddha Rakhina dan warga Rohingyanya yang Muslim sejak itu meluas, dengan minoritas Muslim lainnya juga menjadi sasaran yang meningkat.

Sekitar 250 orang tewas dan lebih dari 140.000 orang kehilangan tempat tinggal dalam beberapa aksi kekerasan antara warga Buddha dan Muslim di negara itu sejak Juni 2012, sebagian besar di Rakhine.

Satu gerakan nasionalis Buddha, yang dipelopori para biksu yang radikal dengan nama “p69” dituduh memanasi kebencian dan melalui plakat-plakat yang ditempelkan oleh kelompok itu yang dapat dilihat di sekitar kota Thandwe.

Kerusuhan di kota itu tampaknya dipicu oleh satu pertengkaran mengenai satu tempat parkir antara seorang sopir “tuk tuk” yang beragama Buddha dan seorang pemilik rumah yang beragama Islam.

Sejumlah properti Muslim dibakar,kata pihak aparat keamanan , dan ia ditahan atas sejumlah tuduhan.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia sebelumnya menuduh pihak berwenang Myanmar terlibat membantu para perusuh di negara yang berpenduduk mayoritas beragama Buddha itu — satu klaim yang dibantah pemerintah.

Baik PBB maupun Amerika Serikat menyatakan sangat prihatin atas insiden-insiden terbaru itu.