Begini Gaya Tony Abbott Memikat Indonesia

Foto: smh.com.au

Canberra, Sayangi.com – Kalau Perdana Menteri baru Australia, Tony Abbot, benar-benar ingin membina hubungan baru dengan Indonesia, ia harus mengubah ‘gaya’nya. Dengan kata lain, gaya retorika Australia yang dilancarkan selama ini harus dihentikan. Australia harus ‘lebih rendah hati’.

Indonesia sudah banyak mendengar tentang obsesi Australia pada pencari suaka, kebijakan ‘mengirim balik kapal pencari suaka’ dan rencana membayar penduduk desa untuk memberi informasi tentang penyelundup manusia. Dalam kunjungan singkat ini, bagi mereka yang memperhatikan, telah muncul pesan baru lagi.

Terdapat pengertian, konsiliasi, permintaan maaf dan respek dari kata-kata dan tindakan Perdana Menteri Abbott. Kalau ini mengejutkan pihak Indonesia, mungkin bahkan lebih mengejutkan lagi bagi orang Australia. Apakah Tony Abbott sedang mengambil langkah-langkah pertama menuju negarawan abad ke-21?

Ia nampaknya mengerti Indonesia bakal mendapat tempat terkemuka di kancah dunia dan ia nampaknya mengerti bahwa kendati mengalami kemunduran dan kesulitan, Indonesia mencapai kemajuan besar. Malah Indonesia mencapai kemajuan yang mengagumkan.

Masih terlalu dini untuk mengumumkan suatu terobosan dalam hubungan, tapi jelas Perdana Menteri Abbott sudah berhasil melakukan ‘perubahan gaya’ tahap awal. Perdana Menteri Abbott mengatakan, hubungan dengan Indonesia adalah yang paling penting bagi Australia mengingat besarnya wilayah Indonesia, jaraknya yang dekat dari Australia dan potensinya. Ia mengatakan, Australia ingin ikut bersama Indonesia dalam perjalanan ekonomi dan demokrasinya.

Ia percaya, hubungan itu sebaiknya dibangun sebagai suatu’ urgensi’ dan bahwa Indonesia akan segera mengambil peranan sebagai pemimpin global.

Perdana Menteri Abbott menekankan dukungannya bagi kedaulatan Indonesia, khususnya di Papua, suatu isu yang terus menimbulkan kekhawatiran Jakarta. Dukungan bagi integritas wilayah Indonesia ini sudah lama menjadi sikap pemerintah Australia, yang berulang-kali ditegaskan oleh pemerintah terdahulu. Akan tetapi, aksi protes belakangan ini oleh para aktivis di Australia dan Papua telah menjadikan isu ini kembali masuk dalam agenda Indonesia.

Kekhawatiran di pihak Indonesia sudah lama ada. Jakarta menginginkan suatu deklarasi publik dan Australia dengan senang hari melakukannya. Mungkin statement yang paling mengejutkan adalah ketika ia meminta maaf atas kekeliruan masa lalu oleh pemerintah Australia, khususnya larangan ekspor ternak sapi oleh Pemerintahan Gillard.

Abbott tidak menggurui. Ia tidak mengucapkan ataupun merefleksikan superioritas Australia. Pendekatan ittu sendiri adalah suatu permulaan baru karena seringkali tanpa sengaja politisi Australia bisa nampak bagi orang lain seolah-olah mereka merasa superior atau nampak menunjukkan mereka merasa mempunyai penilaian superior. Abbott mendapat saran yang baik dari para diplomat dan staff intinya dan nampaknya ia mengikutinya.

Tony Abbott bukanlah seorang internasionalis secara alami. Fokus politiknya selama ini selalu pada agenda politik domestik. Ia baru mulai mengenal Asia. Kiblatnya adalah pada Inggris. Ia lahir di Inggris. Ia adalah pendiri Australians for a Constitutional Monarchy dan dikenal dengan komentar-komentarnya dulu tentang kekuatan apa yang dinamakan ‘Anglosphere’ dari negara-negara yang berbahasa Inggris.

Ia menginstruksikan pemasangan kembali protret Ratu Elizabeth di sebagian kantor pemerintah Australia dan di kantornya sendiri di Parlemen dipasang sebuah foto Ratu Elizabeth. Tapi Tony Abbott juga ingin sukses sebagai pemimpin dan secara internasional. Ia tahu ia perlu membina hubungan dengan Indonesia dan ia berusaha untuk itu. Ia meneladani mantan perdana menteri John Howard, yang berhasil membina hubungan yang sangat kuat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bagi Australia, issue pencari suaka masih menjadi berita besar di Australia dan masih merupakan issue terpenting bagi Perdana Menteri. Abbott kembali ke Australia dengan sesuatu yang diinginkannya, suatu persetujuan dari Indonesia untuk menyusun langkah-langkah bilateral untuk ‘menghentikan kapal-kapal pencari suaka’.

Pada konferensi pers bersama kedua pemimpin, Presiden Yudhoyono mengucapkan beberapa kata yang sangat penting dari prespektif Australia. Presiden Indonesia itu mengatakan, kerjasama bilateral mengenai pencari suaka dapat dijalin sebagai tambahan dari Proses Bali. “Kita menyadari bahwa kita perlu suatu tipe kerjasama lagi pada tingkat bilateral antara Indonesia dan Australia.”

Presiden Yudhoyono mengatakan, kedua negara telah berusaha sebaik-baiknya untuk memberantas penyelundupan manusia “namun akan jauh lebih baik jika kerjasama pada tingkat bilateral diteruskan lebih jauh.” Australia kini berjanji untuk melakukan pembahasan pencari suaka di masa depan secara tertutup. (MSR/ABC)