Ada Tim Indonesia di Reli Tenaga Surya Darwin-Adelaide

Foto: world solar challenge

Darwin, Sayangi.com – Perkembangan teknologi kendaraan bertenaga surya kini sedang diuji coba di Australia. Ada 40 mobil tenaga surya bertekad menjadi yang tercepat, melintasi 3 ribu km dari Darwin ke Adelaide. diam-diam, ternyata ada tim Indonesia yang berpartisipasi.

Tercatat ada 23 negara, termasuk Indonesia mengikuti balapan Mobil Tenaga Surya yang mulai digelar di Darwin, Australia yang dimulai hari Minggu (6/10) dan akan berakhir Kamis pekan ini di Adelaide. Tapi karena menggunakan tenaga surya, tentu saja jangan dibayangkan seperti balapan mobil biasa.

Para peserta akan mencoba untuk menjadi yang pertama tiba di Adelaide, meski hanya bisa melakukan perjalanan di siang hari saat masih ada matahari. Semua tim yang ikut serta diharuskan menyetir dari pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore untuk bisa mengoptimalkan tenaga surya.

Balapan tahun ini menjadi balapan pertama sejak 2011, sempat dihentikan karena kebakaran hutan yang melanda kawasan tengah Australia. Tahun ini pun tidak hanya dinilai siapa yang menjadi tercepat di kelas “challenger”, tapi juga kepraktisan dan bentuk mobil atau kategori “cruiser class”

Salah satu tim yang turun di kategori ini adalah tim dari Belanda yang membuat mobil bertenaga surya pertama di dunia yang berkapasitas empat penumpang. Di tahun ini juga, salah satu persyaratan lainnya adalah harus memiliki empat roda. Sayangnya, ekstra roda bisa memberikan beban tambahan sehingga membutuhkan lebih banyak energi yang digunakan.

Sejumlah mobil memiliki beban berat 150 kg tanpa sopir, karenanya menjadi kurang efisien dan meningkatkan resiko kecelakaan karena menjadi kurang kokoh.

Tim dari University of Cambridge adalah salah satu yang mengalami kesulitan karena masalah beban ini. Mobil mereka rusak dua kali saat sedang diuji coba di Darwin. Untuk mengatasi hal ini, pihak penyelenggara sudah memastikan bahwa ajang balapan mobil bertenaga surya akan aman dengan mengetatkan sejumlah peraturan, terutama soal waktu berpergian.

Sementara itu, tim Indonesia kali ini mengambil tantangan baru dengan memproduksi mobil tenaga surya yang menggabungkan tiga elemen: efisiensi, durabilitas, dan akselerasi. Mobil yang digunakan menggunakan bahan foil dari pesawat terbang yang diharapkan bisa memperluas area untuk penyerapan sinar matahari. Nama tim ini, “Sapu Angin Surya”, memiliki arti kemampuan untuk dapat bergerak cepat tanpa menggunakan banyak energi. Nama ini diambil dari jurus “Sapu Angin” milik Sunan Kalijaga. (MSR/ABC)