Thailand: Kebijakan Impor Holtikultura Indonesia Memberatkan

Ilustrasi tanaman holtikultura: setkab.go.id

Jakarta, Sayangi.com – Menteri Perdagangan Thailand Niwattumrong Boonsongpaisan mengeluhkan kebijakan impor produk hortikultura dan impor beras ke Indonesia. Kebijakan itu dinilai Thailand sangat memberatkan.

Hal tersebut disebabkan pemberlakuan peraturan impor serta pembatasan di pelabuhan saat masuk ke Indonesia.

“Keinginannya untuk mengekspor produk-produk hortikultura seperti cabai, wortel, durian, dan produk pertanian lainnya seperti beras ke Indonesia. Namun, keinginan tersebut terhambat dengan adanya kebijakan di Indonesia mengenai pengaturan impor produk hortikultura,” kata Niwattumrong, pada saat melakukan pertemuan dengan Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan di Jakarta, Senin (7/10).

Sedangkan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menjelaskan, peraturan impor produk hortikultura dirancang untuk meminimalkan kasus karantina dan memastikan terpenuhinya persyaratan keamanan pangan nasional. “Indonesia kini lebih terbuka untuk sektor swasta, transparan, serta tidak ada pembatasan kuota,” ujar Gita.

Terkait dengan pelabuhan masuk, Thailand dapat menggunakan pelabuhan Tanjung Perak, Tanjung Mas, Belawan, Soekarno Hatta. Namun, khusus untuk Tanjung Priok, Thailand harus mempunyai country recognation agreement (CRA) dengan Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

Sementara itu, menanggapi keinginan Thailand untuk mengekspor beras, Gita menyampaikan bahwa perdagangan beras menjadi kewenangan Bulog. “Oleh karena itu, Mendag Thailand dapat menghubungi Bulog jika berminat untuk mengekspor beras ke Indonesia,” tukas Gita.

Untuk diketahui, nilai perdagangan Indonesia-Thailand pada 2012 mencapai USD 18,1 miliar atau naik 36,7% dibandingkan dengan tahun 2011 yang mencapai USD 16,3 miliar. Pertumbuhan perdagangan selama lima tahun terakhir rata-rata 21,11%. Pada tahun 2013 (Januari-Juni) total perdagangan kedua negara sebesar USD 8,9 miliar, atau turun 0,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 sebesar USD 9 miliar. Sedangkan neraca perdagangan pada tahun 2013 (Januari-Juni) Indonesia mengalami defisit sebesar USD 2,6 miliar. (MSR)