AS Gagal Bayar Hutang, Harga Minyak Tertekan

Foto: telegraph.co.uk

Singapura, Sayangi.com – Harga minyak melemah di perdagangan Asia pada Senin (7/10), di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa krisis anggaran AS bisa meruncing menjadi gagal bayar (default) utang yang menghancurkan dan memorakporandakan perekonomian global.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 49 sen menjadi 103,35 dolar AS dalam perdagangan sore, sementara minyak mentah Brent North Sea untuk November turun 35 sen menjadi 109,11 dolar AS.

Penutupan sebagian kegiatan (shutdown) pemerintah AS tampaknya akan memasuki hari ketujuh pada Senin, karena serangkaian pembicaraan maraton antara Demokrat dan Republik di Washington gagal mencapai resolusi untuk kebuntuan atas anggaran.

Menteri Keuangan AS Jack Lew pada Minggu (6/10) memperingatkan bahwa Kongres “bermain api” karena Partai Republik mengangkat ancaman gagal bayar (default) AS jika Presiden Barack Obama menolak untuk bernegosiasi tentang pengurangan pengeluaran.

Lew mengatakan Amerika Serikat akan kehabisan uang tunai pada 17 Oktober dan dengan hanya 30 miliar dolar AS di tangan untuk memenuhi kewajiban yang dapat berjalan menjadi 60 miliar dolar per hari, dengan cepat akan terjadi gagal bayar. Kekhawatiran berkembang bahwa “shutdown” bisa mengancam pemulihan ekonomi yang rapuh di AS, dengan beberapa analis menyatakan hal itu bisa mendorong ekonomi negara itu kembali ke resesi.

“Kedua belah pihak telah menjadi lebih bercokol di posisi mereka masing-masing, menyiratkan bahwa setiap kesepakatan tentang peningkatan plafon utang yang dibutuhkan pada 17 Oktober juga terlihat di luar dari jangkauan,” kata bank Prancis Credit Agricole dalam sebuah catatan kepada investor.

“Pasar diperkirakan akan menjadi semakin gelisah selama beberapa hari mendatang menunjukkan peningkatan penghindaran risiko,” tambahnya.

Mata juga tertuju pada Bank Sentral AS atau Federal Reserve AS, yang pada Rabu (9/10) akan mengumumkan risalah dari pertemuan kebijakan pada September. Risalah akan memberikan petunjuk tentang masa depan program stimulus bank sentral yang besar, yang telah terbukti memicu ekuitas global reli untuk sebagian besar tahun. (MSR/ANT)