JK: Pemilu 2014 Seperti Konser Musik

Jakarta, Sayangi.com – Dalam ceramahnya di Lemhanas Senin (7/10) Jusuf Kalla menyampaikan bahwa Pemilu 2014 nanti itu adalah pemilu yang seperti kompetisi band musik. “Pemilu (2014) nanti itu seperti kompetisi band. Ada band-nya ada penyanyinya,” ujar JK.

Menurut JK, saat ini ada 3 band besar yakni PDIP, Golkar dan Demokrat. Sementara partai-partai lainnya adalah band kecil. Dalam pemilu nanti, Ketua PMI ini
menyatakan bahwa band-band ini semua nanti akan mencari penyanyi. “Jadi nanti mereka akan cari penyanyi. Bukan sebaliknya,” kata JK.

JK berpendapat bahwa saat ini di Indonesia benar-benar diperlukan penyanyi yang baik. Artinya, negara ini membutuhkan pemimpin yang tepat untuk membawa Indonesia lebih maju. Menurutnya, posisi presiden bukanlah posisi untuk main-main atau coba-coba.”Presiden itu bukan soal umur. Tua muda, bukan itu (masalahnya).

Tapi soal pengalaman dan wibawa. Karena presiden itu bukan coba-coba!” Tegas JK.

JK menegaskan bahwa yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk saat ini adalah pemimpin yang punya pengalaman, kemampuan dan track record (rekam jejak) yang baik.

Sebab, kata JK, situasi Indonesia saat ini ada di tengah-tengah krisis di banyak bidang seperti ekonomi, politik dan sosial. Situasi ini diperburuk dengan minimnya pemimpin yang mau bertanggung jawab.”Siapa yg menentukan arah negeri ini sekarang? (Pejabat) Eselon III dan IV. Karena mereka semua saling lempar tanggung jawab,” ujar JK.

JK berpendapat bahwa kini bila ada masalah, presiden tentu akan meminta informasi dan bantuan ke menteri. Itu lumrah. Tapi karena tak ada yang bertanggung jawab, menteri pun bertanya ke dirjen.

Begitu terus ke bawah, kata JK.”Dan parahnya, mereka (pejabat eselon III dan IV) cenderung bilang ‘tidak,’ karena setelah itu habis perkara. Lepaslah tanggung jawab.

Jadi arahan dari atas adalah silahkan laksanakan sesuai perundang-undangan dan peraturan terkait,” tukas JK.

Maka dari itu, menurut JK, karena sekarang menteri pun tak mau bertanggung jawab, dirjen juga tak mau tanggung jawab, jadilah pejabat eselon III dan IV yang jadi sasaran. “Jadi intinya menjadi pemimpin itu harus mau ambil tanggung jawab.

Ketika dulu saya keluarkan kebijakan tentang konversi gas dan pembuatan panser Anoa, saya katakan ke semua menteri, saya yang tanggung jawab! Beres semua, dan cepat,” kata Wakil Presiden RI 2004-2009 itu. (HA)