BI Prediksi Defisit Neraca Berjalan 2014 2,5-2,7%

Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.com – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara memprediksi, pada 2014 mendatang, defisit transaksi berjalan bisa mencapai 2,5-2,7% dari produk domestik bruto (PDB), jauh lebih rendah dibandingkan defisit Semester I 2013 4,4% dari PDB atau 9,8 miliar dolar AS.

“Defisit kita ini sudah tidak sehat. Pada 2014 bisa mencapai 2,5 persen atau 2,7 persen dari PDB. Kita harapkan ini bisa terjadi,” ujar Mirza di Jakarta, Kamis. Mirza menilai, surplusnya neraca perdagangan pada Agustus 2013 menunjukkan bahwa defisit transaksi berjalan akan bisa berkurang dalam beberapa bulan ke depan.

Sebelumnya, BI memprediksikan pada kuartal ketiga ini defisit transaksi berjalan bisa berada di 3,4 persen dari PDB. “BI sudah meng-address kurs yang sesuai fundamental ekonomi. Sekarang kurs sudah bisa menurunkan impor,” kata Mirza.

Sejak 2011 hingga 2012, lanjut Mirza, pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak terlalu cepat, sedangkan di sisi lain industri di dalam negeri belum mampu mengoptimalkan produksi sehingga harus impor dan akhirnya menciptakan defisit transaksi berjalan.

Menurut Mirza, semakin melebarnya defisit transaksi berjalan telah mengubah fundamental ekonomi Indonesia. “Fundamental kita saat ini sangat berbeda dengan dua atau tiga tahun lalu. Ditambah lagi dengan impor minyak yang terus tinggi, akhirnya inflasi ikut naik,” ujar Mirza.

Kondisi tersebut selanjutnya mengakibatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah, meskipun saat ini sudah sesuai dengan fundamental ekonomi. Mirza mengatakan, pelemahan rupiah tersebut sebenarnya diharapkan bisa mengurangi impor barang yang tidak perlu. Namun jika rupiah ditahan di Rp 9.500 dapat membuat cadangan devisa akan terus menurun.

Sementara itu, dari sisi kebijakan fiskal, Mirza menuturkan pemerintah harus mampu mengendalikan harga produk hortikultura dan daging yang selama ini menjadi kontributor inflasi terbesar. (MSR/ANT)