99 Persen Buruh Migran Indonesia Tak Punya Asuransi?

Foto: bbc

Jakarta, Sayangi.com – Pemberitaan mengenai Kartika Puspitasari, pembantu rumah tangga asal Indonesia yang dianiaya majikannya di Hong Kong baru saja reda pertengahan September kemarin, publik kembali disuguhkan dengan berita vonis mati yang mengancam TKI asal Nusa Tenggara Timur, Wilfrida Soik.

Jaksa menuntut Wilfrida dengan hukuman mati atas dugaan pembunuhan pada 7 Desember 2010 terhadap Yeap Seok Pen, warga negara Malaysia yang merupakan orangtua majikan tempat Wilfrida bekerja.

Bila dilihat lagi belakang, ada Satinah asal Ungaran, Jawa Timur yang terancam hukuman pancung di Arab Saudi dan Ruyati asal Bekasi, Jawa Barat yang dihukum pancung juga di Arab Saudi 2011 lalu.

Daftar ini bisa bertambah panjang dan persoalan yang menimpa tenaga kerja migran perempuan asal Indonesia seolah tidak berhenti.

Bukan hal baru lagi bila perempuan, khususnya di Indonesia, untuk menjadi tulang punggung keluarga. Asalkan bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga, mereka rela menjadi pembantu ke negara lain.

Rentan kekerasan

Setiap bulannya Indonesia mengirim sekitar 80.000 tenaga kerja migran ke berbagai negara dan sekitar 80% di antaranya adalah perempuan. Kebanyakan di antara mereka bekerja di menjadi pembantu tumah tangga.

Arimbie Heroepoetri, Ketua sub-komisi pemantauan Komisi Nasional Anti-kekerasan Terhadap Perempuan, mengatakan hingga saat ini buruh migran perempuan masih rentan mengalami kekerasan, pelecehan seksual, jam kerja yang terlalu panjang hingga gaji yang tidak dibayar.

Arimbie menyesalkan banyaknya tenaga kerja migran yang sebenarnya belum siap bekerja di luar negeri, tetapi tetap diberangkatkan.

“Orang (mau) dikirim kemana, dia (TKW) tidak tahu hak dan kewajibannya, tidak tahu hukumnya, tidak tahu kulturnya,” kata Arimbie.

Senada dengan Arimbie, Renata Arianingtyas, Manajer Program untuk Hak Asasi Manusia di lembaga swadaya masyarakat TIFA, mengatakan, “TKW kalau bekerja ke luar negeri sebagai domestic worker, posisinya akan selalu rentan (terhadap kekerasan dan pelecehan) karena mereka bekerja di wilayah privat satu keluarga.”

Lebih lanjut ia mengatakan buruh migran yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga seringnya tidak mengerti hak-hak mereka dan kewajiban majikan yang harus diberikan kepada mereka.

Pemberangkatan TKI lewat jalur resmi bisa mengurangi kemungkinan tertipu oleh calo.

“Bila ditanya tahukah mereka punya asuransi? 99% tidak tahu.”

Negara tujuan penempatan TKI

Arab Saudi: 2.855.856 orang

Malaysia: 2.097.760 orang

Taiwan: 773.872 orang.

Singapura: 457.750 Orang

Uni Emirat Arab: 441.640 Orang

Sumber: BNP2TKI tahun 2012
(BBC Indonesia)