Sebut Si Dul Salah Asuhan, Roy Suryo Sindir Ahmad Dhani

Foto: Sayangi.com/Chapunk

Jakarta, Sayangi.com – Dalam kesempatan pembukaan acara Banten Youth Culture Festival, Kemenpora Roy Suryo ikut serta memberikan kata sambutannya. Namun, ada yang menarik dari isi pidato Roy Suryo kali ini.

Tak hanya ungkapan perihal apresiasinya terhadap Soka Gakkai, sang penyelenggara acara, Roy Suryo juga sempat mengungkapkan sindirannya yang kemungkinan besar  tertuju pada  tanggapan yang merebak terkait kasus kecelakaan beruntun yang melibatkan Abdul Qodir Jaelani alias Dul, putera musisi Ahmad Dhani.

Meski tak menyebutkan langsung atau memaparkan langsung perihal kasus tersebut, Roy Suryo dengan lantang menyambung isi pidato dari Yenni Wahid tentang peran orang tua dalam memberi contoh anak-anaknya.“Bagi para pemuda, memang betul tadi kata mbak Yenni, kadang-kadang mencontoh yang salah, tapi juga kadang-kadang para orang tua memberikan contoh tidak benar juga. Bagaimana sekarang anak-anak mau bernyanyi lagu anak-anak jika lagu anak-anak tak tersedia, bagaimana anak-anak mau menari tarian anak-anak kalo koreografernya mengajari tarian dewasa, bagaimana anak-anak mau belajar atau bermain mobil-mobilan kalo oleh orang tuanya diberikan mobil beneran?” ujar Roy Suryo dalam kata sambutannya.

Lebih lantangnya lagi Roy Suryo menutup  pidatonya dengan sebuah jargon unik, sebelum akhirnya menutup pidatonya dengan ungkapan terimakasih.
Jargon tersebut diketahui mulai merebak sejak kasus tabrakan beruntun yang ditersangkai AQJ diangkat publik. “Kalo dulu ada si Doel Anak Betawi, terus ada Si Doel Anak Sekolahan, sekarang ada Si Dul salah asuhan” pungkas Roy Suryo.

Sebelumnya, Yenni Wahid yang kala itu mewakili kehadiran Shinta Nuriyah, istri dari Almarhum KH Abdurahaman Wahid yang berhalangan hadir karena sedang  melaksanakan Ibadah Haji, berpidato terkait situasi dan kondisi pemuda pemudi saat ini.

Ia miris dengan banyaknya tawuran dan kekerasan yang terjadi yang pelakunya adalah anak muda. Dalam isi pidatonya Yenni mengatakan bahwa perilaku para pemuda pemudi yang seperti itu juga didukung oleh perilaku atau contoh dari perilaku orang tua.

Banten Youth Culture Festival For Peace sendiri merupakan festival kebudayaan yang menghadirkan kebolehan dari 250 orang seniman yang berasal dari berbagai daerah di Propinsi Banten dan Jakarta.

Festival  tersebut digagas oleh Soka Gakkai Indonesia yang merupakan organisasi kemasyarakatan yang aktif dalam memajukan pendidikan, kebudayaan dan perdamaian. Soka Gakkai Indonesia pun merupakan bagian dari Soka Gakkai Internasional yang berpusat di Jepang.

Festival budaya ini menampilkan seni suara instrumental seperti Koto, dawai khas ala Jepang, adapula kesenian angklung, Kolintang, hingga kesenian Rampak Bedug.

Selain itu, digelar pula seni tari tradisional seperti tari tradisional Banten; tari Kalengkangandan Tari Lenggang Cisadane. Tak ketinggalan pula tari tradisional Jepang daerah Okinawa; Tari Eisha. Tak hanya tari budaya, festival ini juga menampilkan tari modern; Dynamic dance dan Tari Human Tower. (RH)