Diduga Terlibat Kasus Akil, KY Minta Hakim MK Diperiksa

Foto: sayangi.com/Emil

Jakarta, sayangi.com – Komisi Yudisial (KY) meminta Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi memeriksa hakim-hakim yang ada di MK. Sebab, bukan tidak mungkin para hakim di lembaga yang menangani kasus sengketa Pilkada tersebut tidak terlibat kasus suap yang menjerat Ketua MK Non-aktif Akil Mochtar.

Hal tersebut dikatakan Komisioner KY Imam Anshori Saleh usai menjadi pembicara pada diskusi bertajuk “Trias Politika Versus Trias Koruptika,” yang diselenggarakan oleh Kaukus Muda Indonesia (KMI) di Galery Cafe Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (23/10).

“Saya kira sekarang suda ada majelis kehormatan kontitusi. Itu harus memeriksa semua hakim-hakim kontitusi apakah ada keterlibatan dengan Akil,” katanya.

Pernyataan Imam ini merupakan tanggapan ketika ditanya bagaimana caranya memulihkan citra MK yang terpuruk pasca ditangkapnya Akil oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu. Akil ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka karena diduga menerima suap Rp 3 Milyar terkait sengketa Pilkada Gunung Mas. Akibat perbuatannya, Akil saat ini sudah mendekam di balik jeruji besi rumah tanahan KPK.

Pada kesempatan tersebut, Imam juga menyoroti merebaknya praktik korupsi di Indonesia. Menurutnya, pejabat negara yang melakukan korupsi bukan hanya disebabkan karena kebutuhan, tapi lebih pada karena keserakahan mereka dalam mengumpulkan kekayaan. Sudah tak terhitung jumlah pejabat negara yang berada dibalik jeruji besi karena perilakuknya yang serakah dalam mengambil uang negara.
“Banyak pejabat publik korupsi bukan karena kebutuhan tapi karena keserakahan. Itu  betul,” katanya

Saat ditanya kenapa pejabat publik bertindak serakah, Imam mengatakan, hal itu disebabkan karena mentalitas dan moralitas mereka. Pejabat publik semacam ini, lanjut dia, tidak punya orientasi mengabdi untuk memperbaki negara yang kaya dengan sumber daya alam ini.
“Mereka lebih banyak mencari kemewahan, kekayaan dan sebagainya. Gajinya di atas Rp 25 juta. Kalau sesuai dengan kebutuhan ya kurang terus, tapi sesuai dengan standar hidup kebutuhan di indonesia ya cukup,” pungkasnya.