Proyek CCTV Monas, Kasudin Kominfomas Jaksel Jadi Tersangka

Foto: kominfo.go.id

Jakarta, Sayangi.com – Proyek pengadaan closed circuit television (CCTV) untuk kawasan Monas pada tahun 2010 tak hanya menyeret Kepala Sudin (Kasudin) Komunikasi Informatika dan Kehumasan (Kominfomas) Jakarta Pusat, Ridha Bahar. Tapi, pejabat sebelumnya, Yuswil Iswantara yang kini sebagai Kasudin Kominfomas Jakarta Selatan juga ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang tengah disidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Pusat.  
Saat dikoonfirmasi mengenai hal ini, Yuswil mengakui jika dirinya telah dijadikan tersangka dalam kasus ini. Meski begitu, Yuswil menyatakan dirinya telah difitnah dan didzalimi. Sebab, ia mengaku jika proyek senilai Rp 1,7 miliar tersebut telah dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku.

“Saya disangka membayar kerjaan yang belum selesai. Nama proyeknya waktu itu adalah `Pembangunan Sistem Kawasan Monas`, dan semua sudah sesuai Kepres,” ujar Yuswil, Rabu (23/10).

Dikatakan Yuswil, proyek yang dilaksanakan pada Oktober-November tersebut merupakan dedicated program karena diperintahkan langsung oleh Walikota Jakarta Pusat saat itu Sylviana Murni. Sehingga proyek tersebut bukanlah program yang direncanakan oleh Sudin Kominfomas Jakarta Pusat yang saat itu dipimpin Yuswil.
“Itu dedicated program yang langsung diperintahkan Walikota Jakarta Pusat saat itu. Anggarannya Rp 2 miliar dan dikerjakan hanya menghabiskan Rp 1,7 miliar. Kan mala menghemat anggaran,” ucapnya.

Yuswil mengaku dirinya telah difitnah ketika Ridha Bahar yang menggantikan dirinya mengatakan jika CCTV tidak berfungsi hingga 2012. “Itu sejak Desember 2010 saja sudah berfungsi. Tapi menurut Ridho belum berfungsi, sehingga dia membuat pengadaan alat abal-abal yang dibilangnya untuk mengoperasikan alat saya,” katanya.

Ditegaskan Yuswil, dirinya siap menghadapi masalah ini. Penjelasan detail akan dipaparkan dihadapan penyidik Kejari Jakarta Pusat. “Saya siap hadapi ini. Akan dijelaskan semuanya,” ucapnya.

Proyek pengadaan CCTV untuk Monas ini diadakan pada 2010. Nilai proyek pengadaan tersebut sebesar Rp 1,7 miliar, dengan pemenang tender PT Harapan Mulya Karya. Dana pengadaan CCTV sebesar Rp 1,7 miliar digunakan untuk pemasangan CCTV di 8 titik, pembangunan ruang monitor, display, perangkat radio link sistem pemantauan tanpa kabel, server dan stored atau fasilitas penyimpanan gambar.

Sebelumnya, kasus dugaan korupsi juga melibatkan Kepala Sudin Tata Ruang Jakarta Selatan Raden Suprapto. Pihak Kejaksaan Agung yang menangani kasus pungutan liar ini suda menyiapkan pemeriksaan terhadap tersangka. “Sekarang penyidik sedang menyusun jadwal untuk pemeriksaan para saksi-saksi dan tersangka. Perkembangan selanjutnya akan kita informasikan nanti,” kata Agung Setia Untung, Kapuspenkum Kejaksaan Agung.(BRTJKT)