Mahasiswa Unsyiah Aceh: Tangguhkan Penahanan 2 Profesor

Foto: Sayangi.com/Afifuddin

Banda Aceh, Sayangi.com – Belasan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menggelar aksi di Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, Kamis (24/10/2013). Dalam aksi tersebut mahasiswa meminta pengadilan untuk menangguhkan penahanan terhadap kedua guru besar Unsyiah, Prof Darni M Daud dan Prof Dr M Yusuf Aziz serta Mukhlis.

Perlu ditangguhkan penahanan kedua profesor dan dosen Unsyiah itu agar mereka bisa tetap mengajar. Alangkah bijaknya jika ketiga staf pengajar di Unsyiah itu menjadi tahanan kota di bawah pengawasan pihak kepolisian.

“Kita sangat menyayangkan Kejari Banda Aceh menahan ketiga dosen kami, seharusnya tidak ditahan, tapi menjadi tahanan kota, ini agar mereka tetap bisa mengajar,” kata koordinator aksi, Alfi Rian Tamara, Kamis (24/10/2013) di PN Banda Aceh.

Dari pantauan Sayangi.com, aksi di depan ruang pengadilan di bawah pengawalan ketat pihak kepolisian itu berlangsung tertib. Para demontran terlihat mengusung poster yang bertuliskan “Mohon izinkan Dosen Kami Bisa Mengajar.”

Dijelaskan kembali oleh Alfi, dengan ditahannya ketiga dosen tersebut proses belajar mengajar jadi terbengkalai. Begitu juga dengan konsultasi skripsi. Imbasnya banyak mahasiswa yang tertunda yudisium dan wisuda.

Kata Alfi, aksi yang digelar ini bukan maksud untuk menghambat proses pengadilan dan persidangan. Akan tetapi mahasiswa Unsyiah mendukung agar proses hukum ketiga dosen tersebut bisa selesai secepatnya. “Kita mendukung agar proses hukum bisa dipercepat, jangan sampai berlarut-larut,” tambahnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kedua profesor tersebut telah ditetapkan menjadi tersangka penyalahgunaan beasiswa Unsyiah yaitu Jaringan Pengembangan Daerah (JPD) dan dana Guru Daera Terpencil (Gurdacil) tahun anggaran 2009-2010.

Ketiga tersangka itu adalah Prof Dr Darni M Daud selaku mantan Rektor Unsyiah, Prof Dr M Yusuf Aziz, M.Pd Dekan FKIP Unsyiah dan Muklis S.Pd, M.Si kepala keuangan program Gurdacil. ketiga tersangka itu saat ini sudah mendekam di Rutan Kelas II B Kajhu, Aceh Besar. (VAL)