Polisi Pembunuh Siswa SMK Divonis Seumur Hidup

Foto : humas.polri.go.id

Sleman, Sayangi.com – Pengadilan Negeri Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjatuhkan vonis hukuman penjara seumur hidup terhadap Brigadir Hardani (53), Kamis, karena terbukti terlibat dalam pemerkosaan dan pembunuhan siswi SMK YPKK Sleman Ria Puspita Ristanti.

Dalam amar putusannya Majelis Hakim yang diketuai Riyadi Sunindyo SH mengatakan terdakwa yang merupakan oknum anggota Polsek Kalasan, Sleman, tersebut, terbukti melakukan pemerkosaan sekaligus sebagai otak pembunuhan terhadap siswi SMK YPKK Depok Sleman Ria Puspita Ristanti (16), warga Ngemplak Sleman pada April 2013.

“Berdasarkan keterangan saksi dan barang bukti yang dihadirkan selama dalam proses persidangan, terdakwa terbukti secara sah telah melakukan pembunuhan berencana,” katanya.

Putusan majelis hakim ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Wahyu Handono SH yang meminta hakim menjatuhkan vonis mati terhadap terdakwa.

Dalam putusannya, majelis hakim menilai tidak ada hal-hal yang meringankan. Sementara hal-hal yang memberatkan karena perbuatan terdakwa sadis, tidak berperikemanusiaan dan sebagai anggota Polri tidak seharusnya melakukan perbuatan sebagaimana dakwaan.

“Perbuatan terdakwa juga melukai harkat perempuan,” katanya.

Usai putusan, dengan pengawalan ketat Polres Sleman, terdakwa langsung dibawa ke Lapas Wirogunan Yogyakarta. Putusan hakim itu langsung mendapatkan respons dari sekitar 100 warga yang menghadiri persidangan.

Mereka berteriak dan tidak terima dengan putusan hakim. “Kami akan mengajukan banding,” ujar ayah korban Ri, Setyo Hidayat alias Joko usai persidangan.

Kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap korban Ria Puspita Ristanti (16) warga Medelan, Rt 02, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, dilakukan tujuh pelaku pada 9 April 2013.

Sebelum diperkosa, korban dipaksa untuk menenggak minuman keras terlebih dulu. Peristiwa ini dilakukan di rumah kosong milik keluarga Yonas (disidang pada berkas sendiri), Dusun Gatak, Selomartani, Kalasan, pada Selasa (9/4).

Setelah diperkosa oleh para pelaku, korban dibunuh dengan sadis, kemudian mayatnya dibuang ke persawahan dekat sungai di Dusun Kringinan, Selomartani, sekitar 500 meter dari tempat kejadian pertama.

Mayat korban baru ditemukan pada Selasa (16/4) oleh warga setempat dengan keadaan tidak utuh lagi sebab, mayat tersebut telah dibakar oleh para pelaku untuk menghilangkan jejak.