Soedomo: Dipo, Boleh Kritik Jenderal, Tapi Tidak Yang Itu

Ilustrasi foto: setkab.go.id

Jakarta, Sayangi.com – Di akun twitternya, seperti bisa dibaca di laman situs Sekretariat Kabinet (Setkab), Sekretaris Kabinet  Dipo Alam bercerita tentang pengalamannya menjelang Pemilu dan Pemilihan Presiden tahun 1977.

Saat itu, ia mencalonkan Ali Sadikin sebagai Presiden. “Karena pencalonan itu, saya dipenjara 7 (tujuh) bulan, ditangkap seperti ayam (yang kemudian) dilepas tanpa pengadilan,” kenang Dipo. Menurut Seskab Dipo Alam, hal itu terjadi pada zaman Demokrasi “Pancasila” ala ORBA (Orde Baru), saat Pak Harto selama 32 tahun menjabat sebagai Presiden. Sebelumnya, Demokrasi “Terpimpin” era Soekarno, selama 22 tahun menjabat sebagai Presiden.

Dipo Alam melanjutkan, sehari setelah bebas, ia dipanggil Pangkopkamtib saat itu, almarhum Soedomo. “Saya tanya kenapa saya ditahan? Jawabnya: “Karena kamu calonkan Ali Sadikin sebagai Presiden,” ungkap mantan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia itu. Dipo mengingat, ada satu nasehat yang disampaikan Pangkopkamtib Soedomo saat bertemu dirinya setelah bebas dari penjara. “Nasehat saya Dipo, kamu boleh kritik jendral dan menteri siapa saja, tapi jangan sekali-kali yang “satu” itu dan keluarganya,” kata Dipo Alam mengutip pesan Pangkopkamtib Soedomo waktu itu.

Cerita Dipo tadi tampaknya untuk menegaskan “curhat” Presiden SBY yang mengaku sebagai “korban bulan-bulanan kritik”. Seskab Dipo Alam membandingkan dengan era Demokrasi Reformasi saat ini, dimana Presiden SBY dan keluarganya yang telah  menjabat selama 9 tahun bisa bebas dikrtitik sana-sini. “Tidak ada yang ditangkap masuk penjara karena kritik Presiden, tidak ada bredel untuk pers, bebas kritik walau mengutip sana-sini tanpa bukti,” kata Seskab.

Presiden SBY, saat silaturahmi dengan pengurus PWI dan tokoh pers nasional di Banjar Baru beberapa waktu lalu sempat berkata, “Saya adalah salah satu korban pers.” Ia mengaku sangat sering menjadi korban pemberitaan pers. Selama Sembilan tahun memimpin, hampir setiap hari, kata Presiden, ia diberitakan yang tidak baik. “Tapi saya patut berterima kasih, karena pers telah memberikan kritik yang baik. Saudara menyelamatkan saya untuk tidak terlena, sehingga saya berhati-hati dalam mengambil keputusan,” kata SBY. (MSR/Setkab)