Komunitas Taring Babi, 10 Pemuda yang Diminta Soekarno

Foto: facebook.com

Jakarta, Sayangi.com – Punk, adalah sebuah kelompok anti kemapanan yang secara sosiologis muncul sebagai kritik terhadap hegemoni kultural, ekonomi bahkan politik. Biasanya negara yang memiliki kesenjangan sosial yang tinggi cenderung mudah ditumbuhi punk. Seperti halnya di Indonesia. Kita banyak menemui komunitas punk di setiap sudut kota, terutama kota-kota besar. Salah satu aliran punk yang hidup di ibukota adalah Taring Babi. Taring Babi adalah sebuah komunitas yang independen yang dikenal juga sebagai komunitas marjinal atau AFRA (Anti Fasis, Anti Rasis).

Salah satu pendiri komunitas ini, Mike dan Bobby mengatakan bahwa salah satu tujuan utama dari komunitasnya adalah memerangi diskriminasi dari segala bidang melalui punk. Mike sendiri pada awalnya menyatakan bergabung dengan group Punk karena menyukai konsep mandiri yang biasa diebut DIY atau Do It Yourself.

Dengan konsep yang diusung punk mengajarkan Mike untuk mengandalkan karya sendiri. Selain itu, punk juga mengajarkan mereka untuk berani membuka suara. Berdasarkan atas kesukaan yang sama pada dunia musik membuat Mike dan Bobby membentuk komuntas yang berideologi Punk dengan nama Marjinal Taring Babi pada 22 desember 1997.

Marjinal sendiri sebenarnya merupakan nama kegiatan bermusik mereka. Marjinal dipilih sebagai nama musik mereka karena lagu yang mereka dendangkan syairnya bercerita tentang derita dan kehidupan masyarakat yang terpinggirkan. Sementara, Taring Babi pun terbentuk atas dasar kelompok marjinal itu bernaung.

Hal tersebut dilakukan agar dapat membentuk sebuah komunitas punk yang tidak lagi bersebrangan dengan masyarakat. Selain itu mereka berpendapat untuk dapat menghidupi komunitas yang mereka bangun ini, mereka membutuhkan sebuah tempat menetap untuk berkarya secara terus menerus. Tak hanya itu, punk yang satu ini lain dengan yang anda lihat di jalanan. Meski dandanan nyentrik ala punk tetap melekat kuat di pribadi masing-masing anggota komunitas, tapi Taring Babi konsisten dengan misi mereka. Tak ragu, mereka bergaul dengan masyarakat untuk menjaga keberlangsungan komunitas Taring Babi.

Pada awal mereka memutuskan untuk melebur bersama masyarakat, tidaklah mudah. Segala gerak – gerik mereka selalu diperhatikan dan semua wajah menatap penuh curiga kepada mereka. Bagaimana tidak? penampilan mereka yang sekilas nampak menyeramkan, dengan rambut berdiri seperti bulu ekor ayam jago, badan penuh tatto dan dengan tindikan dimana – mana yang tentu saja membuat siapapun menatap curiga. Namun mereka tetap berusaha untuk tersenyum, menyapa dengan suara yang dipelankan dan bahkan ikut dalam kegiatan kerja bakti di lingkungan kampung.

Diawali dengan sikap ramah dan kepedulian kelompok Taring Babi, menilik rasa ingin tahu warga atas apa saja yang dikerjakan oleh mereka. Setelah beberapa warga mencoba untuk mampir dan melihat kontrakan mereka, ternyata yang ada malahan setumpuk kaos sablonan yang siap dijemur dan berbagai kreativitas lainnya.

Kelompok Marjinal Taring Babi ini agaknya benar-benar menerapkan konsep punk yang berdiri di kaki sendiri. Mereka sangat mandiri dalam hal ekonomi. Mereka biasanya mencari makan dengan melakukan pertunjukan musik misalnya mengamen atau manggung, menjual desain gambar – gambar poster, membuat tatto, menyablon kaos, membuat gelang, mencetak undangan dan juga jual beli kaset.

Biasanya pendapatan yang didapatkan dari kegiatan usaha – usaha tersebut digunakan untuk membiayai kebutuhan komunitas ini. Usaha Marjinal Taring Babi untuk hidup dan berdikari ini membuat masyarakat sekitar menghargai dan dapat menerima hidup berdampingan dengan mereka. Bahkan, di waktu sulit mereka, suatu kali mereka tak bisa bayar kontrakan, masyarakat sekitar turut membantu dengan membeli berbagai kerajinan yang mereka jual.

Komunitas Marjinal ini merasa bisa bertahan hidup dengan karya – karyanya sendiri tanpa harus bergantung dengan dukungan dari pemerintah. Hubungan harmonis yang terjadi anatar komunitas Marjinal Taring Babi dan masyarakat setempat menandakan adanya perubahan sosial yakni bahwa hubungan antar-masyarakat tidak lagi hanya dimaknai dengan simbol-simbol material. Jadi sebaiknya memang kita tidak menilai buku hanya dari sampul luarnya saja, karena meski penampilannya sekilas seperti begundal yang menyeramkan, ternyata Komunitas Taring Babi patut diacungi jempol karena dapat hidup mandiri serta membaur dengan masyarakat. Mereka punya warna sendiri. Dan warna mereka turut serta membaur menjadi warna-warni indah bersama masyarakat.

Saya teringat dengan kata-kata Soekarno tentang Berdikari di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik dan berkepribadian di bidang budaya. Komunitas punk Taring Babi setidaknya telah memberikan contoh di tengah Pemerintah yang sibuk menjual tanah-tanah rakyat. Agaknya, Indonesia butuh pemuda seperti ini. Masih kata Soekarno, 10 pemuda Indonesia mampu mengguncang dunia. (FIT)

Berita Terkait

BAGIKAN