Merasa Dikhianati karena Disadap, Sekutu AS di Eropa Berang

Foto: myoor.com

Jerman, Sayangi.com – Pengungkapan rahasia yang dilakukan oleh Edward Snowden, mantan pegawai kontrak Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) membuat retak hubungan AS dengan negara-negara eropa, sekutunya.

Jerman dikabarkan akan mengirimkan petinggi dinas intelijennya ke Washington untuk menekan digelarnya penyelidikan terhadap tuduhan tentang upaya AS melakukan penyadapan terhadap pemimpin mereka, Angela Markel.

Juru Bicara Pemerintah Jerman mengatakan, Kepala Intelijen Dalam dan Luar Negeri akan menggelar pembicaraan dengan gedung putih dan Badan Keamanan Nasional AS, NSA. “Kami telah melakukan tekanan agar ini dilakukan dengan cepat.”

Sebelumnya Jerman dan Prancis mengatakan bahwa mereka menginginkan AS menandatangani kesepakatan untuk tidak memata-matai mereka pada akhir tahun ini. Pemimpin Eropa telah memperingatkan rasa kurang percaya AS terhadap negara-negara Eropa yang bisa membahayakan langkah memerangi terorisme.

NSA selain dituduh melakukan penyadapan terhadap telepon Merkel, lembaga itu juga dituding melakukan pemantauan jutaan panggilan telepon yang dilakukan oleh warga Jerman dan Prancis.

Selain pemerintah Jerman dan Prancis, pemerintah Spanyol juga memanggil duta besar AS untuk negara itu pada hari Jumat (25/10) dan meminta penjelasan adanya laporan yang menyebutkan bahwa mereka juga menjadi target operasi mata-mata AS. Italia juga dilaporkan menunjukan kemarahannya terhadap laporan yang menyebutkan negara itu ikut dimata-matai oleh AS.

Dalam pernyataannya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Jen Psaki mengakui pengungkapakan data yang sebagaian bersumber dari Edward Snowden telah menyebabkan adanya ketegangan dengan beberapa negara sekutu AS.

“Kami tengah berbicara dengan sekutu-sekutu kami dan pembicaraan itu masih berlanjut, dan sejumlah bukti juga akan dibawa oleh delegasi pemerintah Jerman ke AS pada pekan mendatang,” kata Psaki. Dia menambahkan kajian terhadap pengumpulan informasi oleh dinas rahasia AS sedang dilakukan.

Presiden Barack Obama ingin melihat bagaimana upaya itu mempengaruhi kebijakan luar negeri AS. (FIT/BBC)