Meski Pemerintah Melarang, Perempuan Arab Tetap Menyetir Mobil

Foto: BBC

Ryadh, Sayangi.com – Meskipun pemerintah Arab Saudi melalui melarang perempuan di negara ini mengemudikan mobil, namun beberapa perempuan Arab Saudi tetap menyetir moibl mereka di jalanan untuk menentang larangan perempuan mengemudi, Sabtu 26 Oktober.

Kendati demikian, jumlahnya jauh dari yang diperkirakan dalam aksi yang awalnya direncanakan akan digelar bersama-sama oleh kaum perempuan di negara itu.

Sebelumnya Kementerian Dalam Negeri memperingatkan bahwa setiap orang yang terlibat dalam aksi unjuk rasa akan menghadapi sanksi, walau tidak ada rincian tentang hukumannya.

Rekaman video perempuan yang menyetir pada hari unjuk rasa Sabtu sudah ditayangkan di internet.
Seorang perempuan, Mal al-Sawyan yang menyetir di Riyadh, mengatakan tidak mendapat sanksi. “Saya pergi ke toko kelontong dekat rumah, ada wartawan bersama saya,” tuturnya.

Dia menambahkan tidak ada yang mendekatinya dan berharap larangan menyetir untuk perempuan segera dicabut. “Saya tahu ada tiga perempuan lain yang juga menyetir,” tambahnya.

Bagaimanapun seorang pegiat perempuan, Aziza al-Yousef, memutuskan ikut unjuk rasa setelah mendapat telepon peringatan dari pihak berwenang untuk.

Perbedaan sikap?
Unjuk rasa Sabtu ini merupakan yang ketiga kalinya sejak tahun 1990 dan sejumlah perempuan ditangkap maupun kehilangan pekerjaan karena ikut unjuk rasa.

Sekitar 17.000 orang sudah menandatangani petisi yang meminta agar perempuan boleh menyetir dan meminta penjelasan kenapa larangan masih dipertahankan.

Namun awal pekan ini, sekitar 100 ulama konservatif meminta waktu untuk bertemu raja guna menentang kampanye itu yang mereka anggap sebagai ancaman terhadap negara.

BBC berhasil mendapat dokumen tentang tindakan yang harus diambil polisi jika menemukan perempuan yang menyetir.

Polisi meminta pengemudi untuk berhenti dan kemudian memberi peringatan kepada pengemudi dan penumpang prianya dengan janji tidak akan menyetir lagi. Setelah itu kunci mobil diserahkan kepada penumpang pria.

Beberapa pihak menafsirkan, tidak adanya tindakan yang diambil terhadap perempuan yang menyetir pada hari Sabtu karena ‘perbedaan’ sikap di kalangan penguasa dan pemimpin agama.