Hanya 15% Orang Indonesia Paham Soal Industri dan Keuangan

Foto: bloomberg.com

Nusa Dua, Sayangi.com – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad meyakini bahwa investor pasar modal dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat dari jumlah saat ini yang sekitar 400.000 pemodal.

“OJK dan para self regulatory organization (SRO) kompak mengusung sosialisasi dan edukasi dengan harapan jumlah investor dapat meningkat. Dalam lima tahun ke depan jumlah investor kami harapkan bertambah dua hingga tiga kali lipat,” ujar Muliaman D Hadad pada “workshop wartawan pasar modal” di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali.

Berdasarkan survei yang dilakukan OJK, ia mengemukakan bahwa baru sekitar 15 persen masyarakat Indonesia yang mengenal industri keuangan. “Ini tantangan besar yang harus kami hadapi, saya yakin upaya tersebut akan mencapai hal yang baik,” ujarnya.

Muliaman mengemukakan bahwa upaya sosialisasi bukan hanya dilakukan pada pasar modal konvensional, tetapi juga lebih luas pada pasar modal syariah. Ini terkait dengan potensi pasar syariah yang begitu besar.

Saat ini, kata Muliaman, banyak negara yang juga berupaya menjadi pusat syariah finansial di dunia, bukan hanya negara-negara Timur Tengah tapi juga Inggris. Di kawasan Asia, Singapura, Malaysia dan Hongkong berupaya untuk menjadi pusat pasar syariah dunia. “Potensi syariah merupakan isu besar yang harus ditangkap,” ujarnya.

Seiring berkembangnya pasar modal di Indonesia, Muliaman mengaku gembira kepada pelaku pasar domestik, inisiatif pengembangan suatu model perdagangan “online” yang sesuai Syariah atau “Syariah Online Trading System” (SOTS) telah diaplikasikan oleh tujuh Anggota Bursa (AB).

Dengan adanya sistem itu, lanjut dia, maka perkembangan investasi syariah di pasar modal Indonesia diharapkan semakin meningkat karena investor akan lebih mudah dan nyaman dalam melakukan perdagangan saham syariah.

Muliaman mengemukakan, pasar modal syariah di Indonesia terus mengalami perkembangan. Sampai dengan bulan Oktober, terdapat penambahan sebanyak 764 investor syariah, 22 reksadana syariah baru dengan rata-rata pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB) sebesar 30 persen, dan peluncuran Exchange Traded Fund (ETF) berbasis syariah pertama di Indonesia.

“Antusiasme masyarakat terhadap investasi syariah juga cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan keikutsertaan masyarakat umum dan akademisi dalam Sekolah Pasar Modal Syariah (SPMS) yang mengalami peningkatan dari 2.306 peserta (tahun 2011) menjadi 4.292 peserta (tahun 2012) serta 3.411 peserta sampai dengan Oktober 2013,” kata dia. (MSR/ANT)