Tak Boleh Satupun Pahlawan Devisa Yang Terlunta-Lunta

Foto : Antara

Sayangi.com – Berdasarkan data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), jumlah TKI Indonesia di luar negeri mencapai 6,5 juta jiwa yang tersebar di 142 negara. Padahal, ungkap Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat, jumlah anggota PBB ada 194 negara. Artinya, TKI ada di 73 persen negara-negara yang bergabung di PBB.

Sumbangsih TKI kepada perekonomian Indonesia juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Diantara 3,01 juta TKI yang tercatat di 46 negara saja, mengutip data dari Kepala Biro Humas dan Luar Negeri Badan Pemeriksaan Keuangan Negara (BPK) devisa yang dihasilkan mencapai 4,37 miliar dolar AS atau senilai dengan Rp 39,3 triliun per tahun. Itu belum dari semua TKI yang jumlahnya mencapai 6,5 juta jiwa.

Jadi, tidak berlebihan bila TKI disebut sebagai pahlawan devisa. Setidaknya, dengan adanya TKI, daerah-daerah miskin sumber daya alam (SDA) seperti Nusa Tenggara Timur dan sejumlah Kabupaten di Pulau Jawa mendapatkan manfaat langsung ekonomi dari keberadaan warganya yang merantau ke negeri asing. Setiap tahun atau bulan mereka mengirimkan jerih-payahnya ke tanah air sehingga keluarga yang ditinggalkan tetap bisa hidup berkecukupan.

Namun, tentu saja tidak semua TKI bernasib beruntung. Terlebih mayoritas TKI yang diberangkatkan ke luar negeri bekerja di sektor rumah tangga yang rata-rata hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar. Baru belakangan ini saja, pemerintah melalui BNP2TKI berusaha memberangkatkan TKI yang relatif memiliki keterampilan sehingga jumlah pengiriman TKI pekerja rumah tangga setiap tahunnya cenderung menurun, dari 835 ribu pada 2010 menjadi sekitar 500 ribu pada 2011.

Tentu saja, berbagai upaya pemerintah memperbaiki pelayanannya, baik dalam sisi penempatan maupun perlindungannya, patut diapresiasi. Namun kita juga tidak menutup mata terhadap TKI-TKI korban traficking (perdagangan manusia) yang mengalami nasib mengenaskan di negeri orang. Selain mengalami kekerasan fisik, tidak sedikit pula TKI yang dipulangkan ke Indonesia dalam peti mayat akibat kasus pembunuhan atau karena sakit tanpa perawatan yang memadahi, sehingga tampak ironis pula bila negara terkesan absen dalam menangani nasib pahlawan devisa yang memiliki kontribusi nyata dalam membangun ekonomi asal daerahnya.

Sebut saja nasib Wilfrida Siok (20), TKI asal Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terancam hukuman mati akibat tidak tahan lagi disiksa dan melawan yang berujung matinya sang majikan. Padahal, selain Wilfrida kini tercatat sekitar 420 terancam hukuman mati yang rata-rata memiliki kasus yang sama dengan Wilfrida. Oleh karena itu, upaya BNP2TKI untuk memperjelas identitas TKI, pendidikan TKI yang akan diberakatkan ke luar negeri semoga saja membuahkan hasil yang bagus untuk perbaikan nasib 6,5 juta saudara sebangsa se-tanah-air di luar negeri.

Artinya, perlindungan segenap tumpah darah dan bangsa Indonesia adalah kewajiban penyelenggara negara, tidak terkecuali ke-5 lembaga yang terkait dengan perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri, sehingga negara benar-benar dirasakan hadir dalam melindungi, mensejahterakan dan mencerdaskan rakyatnya, termasuk para pahlawan devisa kita yang sebagian kecil bernasib terlunta-lunta di negeri orang.

Sangat ironis memang, bila para Pahlawan Devisa itu, hingga hari Pahlawan 10 November 2013 ini, ada yang sebagian kecil bernasib mengenaskan di negeri orang. Justru karena masih ada sebagian kecil TKI mengalami nasib buruk itu maka citranya akan menghapus sebagian besar TKI yang sudah pasti bernasib lebih baik ketimbang bekerja dengan upah seadanya di kampung halaman.

Maka, jangan biarkan satu pun Pahlawan Devisa yang terlunta-lunta di negeri seberang. Semoga itu menjadi tekad lembaga-lembaga pemerintahan yang mengurus TKI di luar negeri, termasuk tentu saja BNP2TKI yang sudah melakukan upaya-upaya perbaikan nasib TKI lewat berbagai upaya yang telah dilakukannya selama ini.