Gus Sholah: Konvensi Rakyat untuk Pendidikan Politik

Foto: Sayangi.com/Okky

Tokoh Nahdatul Ulama, KH. Salahuddin Wahid atau biasa disapa Gus Sholah akan memprakarsai sebuah konvensi untuk menyeleksi Calon Presiden RI 2014. Konvensi yang dikenal Konvensi Capres versi Rakyat ini dipandang bisa menjadi alternatif, karena ia tidak sama dengan konvensi yang diadakan Partai Demokrat yang kini sedang berlangsung.

Lantas apa alasan tujuan digelarnya Konvensi Capres versi Rakyat ini? Berikut wawancara Bursah Zarnubi dari Sayangi.com dengan Salahuddin Wahid.

Siapa Saja yang Menjadi Komite Konvensi Rakyat?

Ada Bang Buyung (Adnan Buyung Nasution), Jaya Suprana, Pendeta Natan Setiabudi, Romo Frans Magnes-Suseno, dan ada beberapa profesor dari dari ITB, Unair. Selain komite, ada tim yang mendampingi. Di antaranya ada Lius Sungkarisma, Adi Massardi, dan Agung, dan ada beberapa orang lagi.

Apa Ini untuk Menjawab Konvensi Demokrat yang Enggak ‘Nendang’?
Nggak. Kami sudah pernah bikin tahun 2009. Jadi masing-masing punya pemikiran, punya keinginan yang sama. kan ada juga Forum Rektor juga bikin.

Apa Poin dari Gagasan Konvensi versi Rakyat Ini?
Kita ingin memberikan pendidikan politik, untuk menampilkan orang-orang yang sebetulnya punya potensi, cuma selama ini tidak muncul, dan juga mungkin mengangkat konsep-konsep dan gagasan-gagasan besar yang perlu diangkat. Sebab menurut saya, program konvensi tadi sebagian besar sudah bagus, tapi ada juga yang terlupakan. Jadi ini coba kita angkat untuk memberikan pendidikan politik ke masyarakat, agar masyarakat bersemangat dan bergairah untuk berpartisipasi, sehingga dalam Pemilu nanti tidak golput.

Apa Karena Mekanisme Melalui Partai Tidak Memuaskan Rakyat?
Tidak seperti itu. Kan semuanya melalui partai. Kami mencoba menampilkan orang-orang yang mungkin terlupkan atau tidak kelihatan. Dan lebih jauh lagi pemikiran tadi. Kami akan berkeliling ke berbagai kota untuk  menggali berbagai aspirasi dan pendapat sebetulnya apa sih yang terjadi kok sampai kita nggak bisa maju-maju. Apa masalahnya? Yang kita tahu kan ada korupsi, tapi tidak hanya itu kan? Banyak masalah besar lainnya yang harus diperhatikan oleh calon pemimpin bangsa ke depan.

Kapan Mulai Melakukan Penjaringan dan Pendaftaran?
Setelah konferensi pers ini, penjaringan dan pendaftaran langsung dibuka. Jadi, dengan adanya konferensi pers ini, masyarakat tahu. Yang punya minat, ya monggo mendaftar.

Bagaimana Tahapan Setelah Pendaftaran?
Ya sekarang dibuka, dan pada tanggal 10 Desember, Pendaftaran akan ditutup. Kemudian setelah itu, yakni pada pertengahan Desember, kita akan keliling ke berbagai kota, seperti Surabaya, Medan, Makassar, Bandung, Balik Papan, dan seterusnya.

Keliling Daerah Sudah dengan Peserta Konvensi?
Sudah.

Apa Kriteria Calon Peserta Konvensi?
Kami menerima calon yang tentunya sesuai undang-undang. Selain itu tidak tidak pernah terlibat pelanggaran HAM dan tidak pernah korupsi, dan lain-lain.

Bagaimana Soal Usia Peserta Konvensi?
UU kan bilang 40 tahun untuk minimal. Tapi untuk maksimum tidak dibatasi, 65 tahun pun masih oke.

Apa yang Membedakan dengan Konvensi Demokrat?
Bedanya, konvensi ini tidak mengundang calon. Tapi cuma mengumumkan secara terbuka untuk masyarakat. Ini juga beda dengan Forum Rektor, karena mereka mengundang orang-orang yang sudah di partai, seperti Jokowi, Prabowo, Aburizal. Kalau di sini tidak mengundang.

Apa Ini untuk Mengakomodir Orang-orang yang enggak Diakomodir di Konvensi Demokrat?
Tidak dimaksudkan seperti itu, siapapun saja. Kalau Demokrat kan mengundang, kalau kami tidak mengundang. Kami mengumumkan saja.

Siapa Saja yang Sudah Mendaftar?
Insyaallah sudah ada, tapi saya belum bisa umumkan sekarang, sampai mereka betul-betul mendaftarkan. Sudah ada yang daftar, tapi saya belum bisa buka sekarang.

Mengenai Pendanaan dari Mana?
Ada beberapa pihak yang mau membantu, kalau pendanaan sudah siap

Apakah Menjaring Paket atau dengan Pasangan Wakil Presiden?
Satu saja untuk capres. Tapi nanti tergantung kondisi. Kami pilih satu orang dulu, bisa disampaikan kepada partai-partai. Kalau tidak capres, bisa juga untuk wapres, bisa juga enggak jadi apa-apa… hehehe

Kalau Orang Seperti Aburizal Bakrie Mendaftar Boleh?
Boleh saja. Cuma kalau dalam logika saya, kayaknya tidak mungkin terjadi itu.