Ratusan Warga Muba Nyaris Bentrok Dengan TNI

Foto : sayangi.com

Sekayu, Sayangi.com – Ratusan warga Kelurahan Mangun Jaya, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Minggu (10/11) sore, nyaris bentrok dengan anggota TNI satuan Raiders yang bertugas melakukan operasi penertiban pencurian minyak mentah di daerah itu.

Pantauan Antara di Kelurahan Mangun Jaya hingga Minggu malam, ratusan warga masih berkumpul di areal sumur minyak PT Pertamina Ubet Boran 49/50 dan 75 Mangun Jaya, mempersiapkan diri melakukan perlawanan jika anggota TNI membongkar sumur minyak yang selama ini dikelola warga.

Untuk melakukan perlawanan kepada anggota TNI yang akan melakukan penertiban penambangan minyak tanpa izin (ilegal) dan pencurian minyak mentah, tampak warga menyiapkan beberapa drum bahan bakar minyak (BBM) jenis premium/bensin di tiga truk untuk membumihanguskan areal itu seandainya aparat tetap membongkar sumur minyak yang selama ini menjadi mata pencarian warga.

Untuk mencegah terjadinya bentrokan antara warga dan anggota TNI, Wakil Ketua DPRD Muba Abusari turun ke lokasi. Abusari mencoba meredakan ketegangan dengan mendatangi kerumunan warga, dan melakukan pendekatan dengan anggota TNI.

Politisi dari Partai Amanat Nasional itu meminta warga menahan emosi, sementara anggota TNI yang diperintahkan komandannya melakukan operasi penertiban penambangan ilegal dan pencurian minyak mentah agar tidak melanjutkan operasi, sehingga tidak terjadi bentrokan yang dapat menimbulkan banyak korban.

Upaya mediasi antara warga dan anggota TNI yang dilakukan wakil rakyat itu membuahkan hasil sehingga bentrokan dapat dihindari.

Setelah melakukan mediasi, Abusari menjelaskan kepada wartawan, sebagai wakil rakyat dirinya berhak melindungi dan membela rakyat, begitu juga dengan anggota TNI harus membela rakyat bukan membela perusahaan.

Abusari menuding kejadian itu akibat PT Pertamina tidak menaati kesepakatan dengan warga yang dilakukan pada 16 September 2013 di ruang rapat Pemkab Muba tentang pembahasan kegiatan penambangan sumur migas PT Pertamina EP Field wilayah Babat Toman.

Dalam pertemuan antara warga dengan pihak PT Pertamina yang disaksikan oleh Sekretaris Daerah dan sejumlah pejabat Pemkab Muba terdapat empat kesimpulan yang harus ditaati oleh kedua belah pihak, di antaranya penetapan jadwal turun ke lapangan untuk menginventarisasi lahan milik Pertamina dan milik masyarakat.

Setelah proses inventarisasi lengkap dilakukan perwakilan perusahaan (Pertamina) akan menyampaikan ke atasannya di Jakarta, sebelum permasalahan itu selesai atau diperoleh solusi yang tepat, apabila ada warga yang tetap ingin bekerja mengelola sumur minyaknya maka diperbolehkan. Namun PT Pertamina tidak bertanggung jawab tentang masalah keamanannya.

Dari kesepakatan itu sangat jelas bahwa masyarakat boleh bekerja di sumur minyak. Apalagi persoalan inventarisasi oleh PT Pertamina belum selesai sehingga masyarakat masih bekerja mengelola sumur minyak itu hingga sekarang.

“Seharusnya PT Pertamina jangan hanya mempermasalahkan sumur minyak yang dikelola oleh warga Mangun Jaya saja, sebab di Desa Sungai Angit jumlahnya jauh lebih banyak namun mengapa tidak dipersoalkan, kalau di sini ditutup di situ juga harus ditutup,” ujarnya.

Setelah berhasil mencegah tindakan operasi penertiban oleh anggota TNI itu, warga Mangun Jaya yang menggantungkan penghasilan untuk menghidupi keluarganya dari mengelola sumur minyak itu dalam waktu dekat akan melakukan unjuk rasa secara damai besar-besaran ke Pemkab Muba guna meminta perlindungan dari Bupati Muba H Pahri Azhari. (MD/Ant)