Buruh Unjuk Rasa Tuntut Pemrov Kawal Ketetapan UMP Sumsel

Ilustrasi foto: Antara

Palembang Sayangi.com – Baru saja beberapa hari dilantik, Gubernur Sumsel Alex Noerdin telah disambangi oleh puluhan massa Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Mereka meminta Gubernur mengawal penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumsel sebesar Rp1.825 ribu.

Menurut Ali Hanafiah, Koordinator Aksi (Korak) unjuk rasa SBSI, saat ini ketetapan UMP oleh Gubernur Rp1.825 ribu belum diterapkan oleh banyak perusahaan. “Perusahaan masih menerapkan UMP sebelumnya yang sebesar 1630ribu,” kata Ali berorasi di halaman depan kantor Gubernur Sumsel (11/11).

Ali menilai, kenaikan UMP tahun 2014 diduga hanya merupakan langkah aman pemerintah untuk meredam aksi buruh tanpa memikirkan apakah berjalan dan terealisasi secara baik

Dilanjutkan oleh Hanafiah, pihak buruh mencium adanya rekayasa keputusan dalam penetapan SK UMP tahun 2014. Untuk itu, pemerintah diminta transparan dan menjelaskan kepada pihak buruh tentang ketetapan tersebut.

Ali juga meminta agar pemerintah pemerintah mengevaluasi semua perusahaan yang ingkar dan tidak memenuhi kewajibannya selama bertahun-tahun tapi dibiarkan saja.

Sementara itu, Gubernur Alex Noerdin yang menemui pengunjukrasa sekitar jam 09.00 mengatakan akan akan mengawal ketetapan yang telah dikeluarkan.

Selain itu, Alex berpesan agar para buruh melakukan perundingan. “Sampaikanlah keinginan dan aspirasi secara baik-baik. Sebab kalau aksi unjukrasa dilakukan secara anarkis akan berdampak luas,” ucap Alex saat menemui para pendemo.

Alex mengatakan di Jabodetabek sudah ada 140 ribu buruh yang di PHK, karena perusahaan tidak sanggup bayar gaji yang terlalu tinggi, ratusan perusahaan akan hengkang.

“Harus ada kesepekatan antara buruh, pengusaha dan ditengahi oleh pemerintah dalam menentukan upah,” ujar Alex.

UMR saat ini sudah ditetapkan, terima sajalah, kata Alex. “Jika masih kurang rembuk saja lagi. Apakah perusahaan sanggup atau tidak itu yang perlu kita fikirkan, atau kalau sudah mengajukan keberatan perusahaan tidak sanggup, ya tutup saja perusahaanya,” tegas Alex.

Buruh itu tak lain tuntutannya untuk lebih sejahtera, sambung Alex, tapi di Sumsel ini buruh lebih beruntung ketimbang di tempat lain. “di Sumasel buruh tidak perlu lagi membayar uang sekolah untuk anak-anaknya dan yang paling besar nilainya lagi adalah buruh tidak perlu membayar pelayanan kesehatan dan obat kalau ternyata sakit,” jelas Alex. (VAL).