Tekan Defisit Transaksi Berjalan, BI Rate Naik Jadi 7,5%

Foto: Sayangi.Com/Emil

Jakarta, Sayangi.Com – Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,5%. Suku bunga Lending Facility ditetapkan 7,5%, dan suku bunga Deposit Facility 5,75%.

Kebijakan ini diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) di Gedung BI, Jakarta, Selasa (12/11).

Dalam siaran persnya Selasa sore, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Difi A. Johansyah
mengatakan, kebijakan menaikkan BI Rate diambil untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dan menjaga inflasi tetap terkendali menuju target 4,5% pada tahun 2014.

BI, menurut siaran pers tersebut, akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah khususnya dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan. Termasuk kebijakan untuk memperbaiki kondisi struktural ekonomi di tengah risiko ketidakpastian global yang masih tinggi.

Pergeseran Ekonomi Dunia

Dewan Gubernur BI menilai, perkembangan ekonomi global pada Oktober 2013 cenderung membaik, namun masih dibayangi risiko ketidakpastian yang tinggi. Perkembangan positif ekonomi global terutama dipengaruhi sentimen positif pasar keuangan global terhadap penundaan pembahasan debt ceiling AS dan penundaan tapering off the Fed (Bank Sentral AS).

Namun demikian, BI mencermati perkembangan ekonomi global masih diliputi oleh ketidakpastian. Pola pertumbuhan ekonomi dunia cenderung bergeser dengan melambatnya ekonomi negara berkembang dan menguatnya ekonomi negara maju. Selain itu, siklus harga komoditas dunia yang tinggi diperkirakan akan berakhir sehingga dapat menghambat upaya pemulihan ekonomi nasional. Kedua kecenderungan ini akan berpengaruh terhadap kinerja eksternal ekonomi Indonesia.

Menurut BI, perekonomian Indonesia pada triwulan III-2013 tumbuh 5,6% (yoy), lebih lambat dari triwulan II 2013 sebesar 5,8% (yoy). Perlambatan ekonomi terutama tercatat pada sisi investasi dengan menurunnya investasi bangunan dan rendahnya pertumbuhan investasi non-bangunan. Sedangkan konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah menunjukkan peningkatan.

“Perlambatan ekonomi tersebut, dipengaruhi kebijakan stabilisasi yang dilakukan Pemerintah dan Bank Indonesia guna membawa pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih sehat dan seimbang,” kata Difi A. Johansyah.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2013 masih dalam kisaran proyeksi sebelumnya di level 5,5-5,9%, dan akan meningkat pada kisaran 5,8-6,2% di tahun 2014.