‘Partai Islam Berharap Koalisi? Rasanya Susah’

Foto: pemiluindonesiaku

Jakarta, Sayangi.com – Ketua DPP PKB Marwan Jafar menilai gagasan koalisi partai berbasis massa Islam masih sulit terjadi pada Pemilu 2014, terutama dalam mengajukan bakal calon presiden dari masing-masing parpol.

“(Koalisi parpol Islam) sebagai wacana bagus saja, soal implementasinya masih susah apalagi nanti mengajukan calonnya masing-masing akan tambah susah,” kata Marwan di Jakarta, Selasa (12/11/2013).

Ia mengatakan, koalisi tersebut bukan wacana baru dan mulai dihidupkan kembali dalam perpolitikan nasional. Namun dia menilai rencana tersebut masih baru wacana dan belum konkret dalam implementasinya.

“Saya kira dalam konteks koalisi partai Islam masih jauh dari harapan,” ujarnya.

Ia mengatakan komunikasi politik antar partai sudah terjadi selama ini, baik yang berbasis massa Islam maupun Parpol nasionalis.

Namun menurut dia, dalam dunia politik segala kemungkinan dapat terjadi terutama dalam hal koalisi dalam Pemilu Presiden antar partai Islam.

“Kita lihat saja nanti setelah Pemilu Legislatif karena penentuan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) setelah itu,” katanya.

Selain itu Marwan menegaskan PKB merupakan parpol Islam yang memiliki sejarah sendiri dan bukan lahir dari partai tertentu. PKB menurut dia lahir pasca reformasi dan dibidani oleh Nahdatul Ulama.

“Orang yang mengatakan PKB pecahan dari PPP itu adalah orang yang tidak tahu sejarah partai-partai politik di Indonesia,” tegasnya.

Partai Persatuan Pembangunan kembali menggulirkan wacana koalisi partai-partai berbasis massa Islam menjadi satu kekuatan menjelang Pemilu Presiden 2014.

Konvensi itu untuk menjaring calon presiden yang mewakili umat muslim Indonesia secara menyeluruh. Melalui mekanisme tersebut, PPP mengharapkan dapat menjaring tokoh-tokoh alternatif bagi umat Islam.

PPP menilai melalui pelibatan parpol berasa Islam atau berorientasi pemilih Islam dan organisasi masyarakat Islam maka ada penguatan yang terjadi di antara sesama muslim untuk meentukan nasib bangsa Indonesia. (MI/Ant)