Defisit Transaksi Berjalan Ancaman Nyata 2014

Foto : indonesiainfrastructurenews.com

Jakarta, Sayangi.com – Ekonom Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty mengungkapkan, kondisi makroekonomi Indonesia menghadapi ancaman overheating atau kepanasan, walaupun masih dalam tingkat moderat.

“Penelitian kami mengenai overheating index pada 2013 menunjukkan adanya tendensi peningkatan ‘,” katanya dalam diskusi Bauran Kebijakan Makroekonomi Indonesia untuk Menghadapi Gejolak Ekonomi Global di Jakarta, Sabtu (15/11).

Ia menyebutkan, kajian Bank Dunia terhadap ekonomi Indonesia yang pada awal tahun masih positif dimana pada 2014 akan lebih baik antara lain karena akan ada Pemilu, pada Oktober 2013 berubah menjadi lebih rendah dari 2013.

Misalnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2013 diperkirakan mencapai 5,6 persen, kemudian pada 2014 diperkirakan lebih rendah yaitu mencapai 5,3 persen.

Pertumbuhan investasi yang pada 2013 diperkirakan 5,3 persen, untuk 2014 hanya 4,9 persen.

Sementara ekspor pada 2013 diproyeksikan tumbuh 5,6 persen dan 2014 diperkirakan tumbuh 5,7 persen.

Namun pertumbuhan impor lebih besar lagi yakni pada 2013 diperkirakan 2,4 persen dan 2014 mencapai 4,5 persen.

Menurut Ketua Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FE-UI itu, Indonesia menghadapi permasalahan struktural perekonomian sehingga membelenggu neraca pembayaran.

Indonesia mampu mempertahankan keseimbangan internal, namun mulai mengalami ketidakseimbangan eksternal.

Ketidakseimbangan eksternal itu bersumber dari permasalahan di sektor pangan, energi, rendahnya daya saing energi, ketergantungan terhadap ekspor komoditas, dan ketergantungan terhadap impor bahan baku dan barang modal.

Menurut dia, komponen ekonomi yang mengalami overheating dan mengkhawatirkan adalah neraca transaksi berjalan yang defisit, pertumbuhan kredit yang terlalu tinggi, dan gejolak nilai tukar rupiah.

Telisa menambahkan, ke depan, nilai tukar rupiah masih menghadapi ancaman depresiasi antara lain karena adanya dampak dari moderasi (perlambatan) pertumbuhan ekonomi China, ketidakpastian di AS dan Eropa, dan masalah defisit transaksi berjalan.

Sementara itu, kebijakan yang sudah diambil untuk memperkuat rupiah antara lain menerbitkan foreign exchange swap untuk pendalaman pasar, memperpanjang bilateral swap agreement dengan negara lain, dan menerbitkan term deposit valas dan sertifikat deposito Bank Indonesia.

Lalu, meningkatkan dan memperkuat kebijakan devisa hasil ekspor, memperkuat pasokan valas melalui trustee dan koordinasi dengan pemerintah untuk menghadapi permasalahan struktural pada neraca pembayaran.

Untuk masalah defisit neraca pembayaran, menurut dia, membutuhkan penyelesaian struktural terkait ketergantungan impor pangan dan energi.

Selain itu, perlu kebijakan diversifikasi dan industrialisasi berkelanjutan. 

“Ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional juga perlu dikurangi dan kebijakan pengelolaan devisa perlu diperkuat,” kata Telisa. (MD/Ant)