Jusman Syafii Djamal: HP Presiden Mestinya Tak Bisa Disadap

Foto: Sayangi.Com/Emil

Jusman Syafii Djamal, mantan menteri perhubungan yang sejak 17 Desember 2010 menjabat komisaris utama PT Telkom, mengungkapkan bahwa hand phone (HP) Presiden SBY dilengkapi sistem anti sadap yang canggih melalui metode enkripsi dan dekripsi berlapis. Australia pasti sulit memahami apa materi pembicaraan SBY yang mereka sadap.

Dalam wawancara dengan wartawan Sayangi.Com Gayatri A.A, di Gedung Telkom, Jakarta, Rabu (20/11), alumnus ITB kelahiran 28 Juli 1954 ini menuturkan beberapa rencana strategis PT Telkom dalam mengembangkan teknologi telekomunikasi yang makin canggih dan aman. Itu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, sekaligus memperkuat integrasi Indonesia sebagai negara kesatuan.

Berikut petikannya.

Ini sedang heboh Australia menyadap HP Presiden Susilo Bambang Yudhoyono . Bagaimana pandangan Anda?
Menurut berita, ini terjadi pada Agustus 2009. Setahu saya, alat komunikasi Presiden termasuk HP-nya sudah dilengkapi software anti sadap yang berlapis. Pertama, dengan mengacak sinyal jaringan. Kalau kita berada di dekat Presiden kan sulit menelpon, karena ada sistem yang mengacak sinyal jaringan.
Kedua, dengan metode enkripsi dan dekripsi yang mengubah bahasa komunikasi menjadi kode-kode sandi tertentu. Sederhananya begini. Kita menelpon menggunakan bahasa Indonesia, tapi saat disalurkan bahasanya diacak menjadi kode-kode tertentu yang ada kuncinya, dan ketika sampai ke penerima telpon diubah kembali ke bahasa Indonesia. Disini ada peran operator telpon untuk membuat agar tidak ada jeda waktu dalam proses enkripsi dan dekripsi tersebut. Juga ada peran lembaga sandi negara untuk membuat konsep bagaimana mengubah bahasa umum menjadi bahasa kode dan sandi. Semua itu ada sistem prosedur operasional atau protokolnya.

Artinya, meski HP disadap, materi pembicaraan Presiden SBY tidak bisa dimengerti. Anda yakin?
Kalau protokolnya berjalan dengan baik, kita tidak terlalu khawatir tentang materi pembicaraan Presiden yang disadap. Setahu saya, Presiden SBY itu orangnya cermat dan hati-hati. Jadi, meski Australia menyadap, belum tentu mereka bisa mengolahnya.
Masalah utama bagi Presiden dan kita semua adalah masalah etika. Kita menganggap Australia sebagai sahabat. Hubungan bilateral juga baik, ada banyak kerjasama di bidang ekonomi, militer, dll. Kok bisa mereka melakukan penyadapan, seolah-olah Indonesia adalah musuh dan ancaman bagi mereka. Ini yang menyakitkan dan sulit kita terima. Pertanyaan seperti ini juga yang ada di negara-negara Eropa seperti Perancis dan Jerman terhadap Amerika Serikat. Kok bisa, Amerika memata-matai sekutunya sendiri.

Ada kemungkinan penyadapan melibatkan provider atau operator telpon seluler?
Pak Tifatul kan sedang mengklarifikasi ke semua operator. Tapi kalau ada operator yang terlibat, itu mudah diketahui karena kita kan menguasai teknologinya. Harus ditindak.

Ada kerisauan, Indonesia rentan disadap karena ada terlalu banyak operator dan sebagian sahamnya dimiliki asing?
Operator di Indonesia saat ini ada sebelas operator seluler. Menurut saya itu terlalu banyak dan perlu dikonsolidasikan. Bukan karena potensi penyadapan, tapi lebih kepada kebutuhan untuk membangun industri seluler yang sehat dan tangguh.

Maksudnya?
Prospek bisnis telekomunikasi di Indonesia, khsusnya seluler sangat besar. Pasarnya cerah. Cuma karena persaingan yang sangat ketat, ingin mengejar banyak pelanggan, semua operator terjebak melakukan banting harga. Sampai ada operator yang menawarkan sms Rp1. Dari segi kepentingan konsumen atau persaingan dengan kompetitor, perang harga muingkin baik. Tapi itu kan tidak sehat secara industri. Investasi di bisnis seluler ini besar, lalu dari mana bisa kembali kalau pendapatannya rendah?
Perang harga jangan sampai membuat mutu pelayanan akhirnya rendah. Kita menelpon, baru bilang halo sudah mati. Telpon lagi, mati lagi. Pada akhirnya konsumen yang dirugikan. Saya ambil contoh di industri penerbangan. Kalau kita bicara low cost ada standarnya, penerimaan dari tiket tidak boleh lebih rendah dari biaya perawatan pesawat. Jika terlalu rendah pasti akan mengurangi biaya perawatan pesawat dan itu membahayakan konsumen. Di industri seluler juga perlu dibuat standar seperti itu.

Anda menganjurkan ada pembatasan operator?
Sebaiknya jangan tambah lagi dari 11. Kalau bisa, yang ada sekarang dikonsolidasikan supaya lebih kuat. Sekarang 2 G dan 3 G. Kalau mau masuk ke 4 G tentu butuh biaya besar. Bagaimana konsolidasinya, itu yang perlu dicari jalan keluar oleh para operator bersama Pemerintah sebagai regulator.

Ini ada kaitannya dengan ribut-ribut jatah frekuensi?
Yah, itu ada kaitannya dengan bandwidth. Ini yang perlu diatur oleh Keminfo bagaimana caranya agar semua operator mendapat bandwidth yang cukup besar untuk melayani pelanggan dengan baik, mencakup tiga hal: suara, data, dan video. Untuk hal ini PT Telkom tidak ada masalah, karena sudah punya cukup besar dan tidak perlu diubah.

Sebagai komisaris utama, bagaimana Anda melihat performance PT Telkom saat ini?
Telkom ini perusahaan publik yang sudah 18 tahun terdaftar di New York Stock Exchange. Kita juga termasuk saham blue chips di Bursa Efek Jakarta. 2 tahun lalu harga sahamnya Rp7.000. Nah empat bulan mencapai Rp10.000 per saham, lalu dilakukan split satu saham menjadi lima dengan harga baru Rp2000 per saham. Alhamdulillah sekarang sudah naik sekitar Rp2.200 persaham. Itu salah satu ukuran kinerja perusahaan publik.

Ada ekspansi Telkom untuk mengembangkan bisnis keluar?
Ada. Telkom berekspansi keluar dengan pola mengikuti orang, seperti yang juga dilakukan Australia. Kita ekspansi ke negara-negara yang ada banyak orang Indonesia-nya seperti Malaysia dan Hongkong. Kita bujuk mereka untuk menggunakan produk seluler yang familiar dengan mereka.

Di dalam negeri, apa rencana strategis yang akan dikembangkan Telkom?
Misi besar Telkom adalah bagaimana mencapai target, agar tahun depan, saat peralihan kepemimpinan nasional, bisa mengkoneksikan 80 persen ibukota kabupaten di Indonesia dalam jaringan serat optik. Kalau itu bisa dicapai maka sistem komunikasi dalam bentuk suara, data, dan video bisa lebih baik dan kuat. Dengan begitu orang-orang pintar gak perlu ke Jakarta, cukup di daerahnya mengembangkan berbagai inovasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
Dengan misi itu, Telkom akan menyumbang dua hal. Pertama, membangun sistem komunikasi yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan 3% broadband diperkirakan dapat menyumbang terhadap pertumbuhan PDB sebesar 1%. Kedua, menuntaskan konsep Palapa Ring yang dahulu dibangun di era Soeharto. Telkom menjadi bagian penting dari integrasi negara kesatuan ini melalui teknologi telekomunikasi yang canggih dan aman.

Satelit Telkom saat ini masih oke?
Masih oke. Tapi tahun 2016 akan meluncurkan satu lagi yang beberapa waktu lalu batal diluncurkan.

Apa kelebihan satelit yang mau diluncurkan itu?
Hebatnya, melalui satelit itu bisa jadi broadband juga. Sekarang kan baru voice dan data saja.

Komunikasi berkembang cepat. Baru investasi sudah muncul teknologi baru. Bagaimana strategi Telkom menghadapi situasi ini?
Prinsipnya begini, Telkom sudah mentransformasi infrastruktur lama seperti kabel tembaga dengan infrastruktur yang lebih maju yakni serat optik. Kita punya bandwidth yang besar dan punya satelit. Jadi kalau ada pergantian teknologi, bisa dengan cepat dan mudah menggantinya.

Bagaimana dengan SDM?
Dibandingkan dengan operator lain, sumber daya manusia Telkom saya kira masih terbaik. Kita punya universitas telkom, dulu STT. Kita punya pusat pelatihan sendiri. Dan mulai tahun ini kita kirim seratusan pegawai untuk ambil S2 dan S3 ke luar negeri.
Selain itu, Juga ada yang kita sebut global talent, yaitu orang-orang terbaik di Telkom yang berangkat dari level bawah kita kumpulkan buat tim untuk mengembangkan ke Malaysia, Hongkong, Arab Saudi, Timor Leste dsb. Dengan begitu mereka punya global view, punya pandangan tentang persaingan telekomunikasi tingkat dunia. Telkom sangat concern dengan pengembangan SDM. Ada beberapa operator seluler yang hanya fokus ke manajemen dan sistem saja, sedangkan SDM-nya di-outsourcing