Untung Rugi Jika RI-Australia Putus Hubungan

Foto: ABC

Hubungan Indonesia – Australia semakin panas menyusul sikap PM Australia Tony Abbott yang menyatakan tidak akan meminta maaf atas skandal penyadapan terhadap HP Presiden Susiso Bambang Yudhoyono yang dilakukan Australia pada Agustus 2009.

Dubes RI di Australia sudah dipanggil pulang ke Jakarta, Indonesia sudah menyatakan untuk menghentikan kerjasama militer dan intelijen dengan Australia, dan belakangan ini muncul desakan agar Pemerintah Indonesia memutus hubungan diplomatik dengan Australia.

Jika hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia benar-benar putus, inilah dampak dan untung ruginya.

Pertama, pasti akan berdampak pada perdagangan kedua negara. Kerjasama perdagangan Indonesia dan Australia pada 2012 tercatat mencapai US$ 10,2 miliar. Dan sebelum terjadi ketegangan akibat skandal penyadapan, Pemerintah Indonesia dan Australia sepakat untuk meningkatkan volume perdagangan sebesar US$ 15 miliar pada 2015.

Siapa yang lebih diuntungkan dari perdagangan kedua negara? Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami surplus pada tahun 2010 dan tahun 2011. Tapi, pada tahun 2012 Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 392.235. Dan hingga Agustus tahun 2013, defisit Indonesia mencapai US$ 521.983.

Berdasarkan data kementerian perdagangan, komoditas yang dimpor Indonesia dari Australia antara lain ternak dan daging sapi, susu, dan buah-buahan. Sedangkan Australia lebih banyak mengimpor bahan tambang dari Indonesia.

Mengacu pada statistik perdagangan di atas, Australia yang lebih rugi jika terjadi pemutusan hubungan antara kedua negara. Indonesia tak perlu khawatir lantaran Australia bukanlah pasar ekonomi utama Indonesia saat ini. Hubungan Indonesia dengan Australia tidak begitu besar dibandingkan dengan pasar ASEAN dan China.

Terkait dengan impor ternak dan daging sapi, bila impor dari Australia ditutup, masih ada sumber impor dari Selandia Baru, walaupun tidak sebanyak Australia.

Kedua, pemutusan hubungan RI-Australia juga akan berdampak pada bidang pendidikan. Terutama, terhadap para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di negara Kanguru itu. Menurut data Kementerian Pendidikan Nasional, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia saat ini mencapai 19 ribu orang. Sedangkan jumlah pelajar dan mahasiswa Australia di Indonesia hanya sekitar 900-an orang.

Dari perbandingan jumlah pelajar dan mahasiswa kedua negara, nampaknya Indonesia yang akan lebih dirugikan jika terjadi pemutusan hubungan kedua negara. Para pelajar dan mahasiswa Indonesia di Australia pasti akan repot untuk mengurus Visa, Izin Belajar, dan sebagainya.

Ketiga, dampak terhadap di sektor pariwisata. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, angka kunjungan turis asal Australia pada 2011 berjumlah 886.495, pada tahun 2012 sebanyak 909.176 orang, dan hingga mendekati akhir tahun 2013 ini telah mencapai satu juta. Sedangkan jumlah wisatawan Indonesia ke Australia setahun tidak mencapai 200 ribu orang.

Pemutusan hubungan diplomatik Indonesia dan Australia tentu akan membawa dampak terhadap kedatangan wisatawan asal Australia ke Indonesia. Ini jelas akan berpengaruh terhadap penerimaan devisa Indonesia dari sektor pariwisata. Sumbangan sektor pariwisata terhadap PDB Indonesia pada tahun 2012 memang masih sekitar 5%. Tetapi perlu diingat, ada sekitar delapan juta orang yang hidup dari industri pariwisata.

Selain berdampak pada sektor perdagangan, pendidikan, dan pariwisata, pemutusan hubungan antara Indonesia dan Australia juga akan berdampak pada bidang-bidang lain seperti investasi, kerjasama teknologi, dan masih banyak lagi.

Pada akhirnya, pemutusan hubungan antara dua negara pasti punya dampak merugikan terhadap masing-masing negara. Kita berharap Australia tidak terus bersikap arogan dan punya itikad baik untuk menyelesaikan masalah ketegangan dengan Indonesia saat ini. Jika tidak, terlepas dari untung rugi yang akan timbul, Presiden SBY harus berani bersikap tegas demi menjaga harga diri dan martabat bangsa Indonesia.