Di Banten Saja, 27.000 Anak Tidak Mengenyam Pendidikan

Foto: harysoemarwoto

Pandeglang, Sayangi.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Hudaya menyatakan sekitar 27.000 anak usia sekolah dasar di daerah itu tidak bersekolah.

“Ini merupakan ‘potensi’ penambahan tuna aksara, kalau memang mereka benar-benar tidak bersekolah,” katanya di Pandeglang, Jumat (23/11/2013).

Anak-anak usia sekolah tersebut, kata dia, berumur antara 7-11 tahun, dan seharusnya sedang mengenyam pendidikan pada sekolah dasar (SD).

Mengenai penyebaran anak yang tidak sekolah tersebut, menurut dia, terdapat di delapan kabupaten/kota di Banten, namun yang terbanyak di Kabupaten Tangerang.

Pemerintah Provinsi Banten, kata dia, bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota terus berupaya agar mereka dapat bersekolah, diantaranya dengan memberikan pemahaman pada orang tuanya.

Ia juga menyatakan, anak-anak tersebut tidak bersekolah bukan karena faktor ekonomi, tapi lebih disebabkan karena budaya.

“Para orang tua kita sampaikan kalau masalah biaya tidak perlu difikirkan karena banyak bantuan dari pemerintah sehingga anaknya bersekolah tidak perlu bayar,” katanya.

Hudaya juga menyatakan, Pemerintah Provinsi Banten sedang berupaya mengentaskan tuna aksara, dan diharapkan pada 2017 masalah tersebut bisa dituntaskan.

Menurut dia, dua tahun terakhir ini upaya pengentasan buta aksara di daerah itu menunjukkan hasil yang memuaskan sehingga tingkat pengurangannya cukup besar.

Pada 2011, kata dia, jumlah penderita tuna aksara usia produktif 15-44 tahun di daerah itu sehingga penyandang masalah itu hanya 1,12 persen dari jumlah penduduk 10 juta jiwa.

Kemudian dengan berbagai upaya yang dilakukan pada 2012 terjadi pengurangan jumlah menjadi 0,90 persen dari total penduduk Banten sebanyak 11 juta jiwa, atau dibawah target rata-rata nasional lima persen.

Untuk mewujudkan pengentasan tuna aksara pada 2017, kata dia, Pemerintah Provinsi Banten telah dan sedang melakukan berbagai upaya, diantaranya berkerja sama dengan kalangan perguruan tinggi, kelompok pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).

Kemudian, juga pengadaan kendaraan perpustakaan keliling, desapokasi dan pembinaan kelompok usaha bersama (kube) untuk meningkatkan keterampilan warga belajar.

Terkait bentuk kerja sama dengan perguruan tinggi, menurut dia, melalui kuliah kerja lapangan para mahasiswa.

“Setiap ada kegiatan kuliah kerja lapangan kita minta para mahasiswa untuk menangani warga penderita tuna aksara 4-5 orang sehingga bisa baca, tulis dan berhitung,” katanya. (MI/Ant)