Kadin Ingatkan Pemerintah Antisipasi Krisis Moneter 2014

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi potensi krisis moneter pada 2014.

“Posisi perekonomian Indonesia selama setahun terakhir sudah memasuki lampu kuning dan harus diantisipasi pemerintah agar jangan sampai terjadi krisis moneter,” kata Ketua umum Kadin Indonesia Rizal Ramli, di Jakarta, Selasa.

Rizal Ramli menjelaskan, ada empat indikator utama perekonomian nasional secara makro yang seluruhnya sudah pada posisi defisit, yakni neraca perdagangan, neraca berjalan, neraca pembayaran, dan anggaran.

Pada perdagangan internasional, kata dia, pada 2008 posisinya surplus hingga 20 miliar dolar Amerika Serikat (AS), tapi saat ini justru minus hingga 6 miliar dolar AS.

Kemudian transaksi berjalan, kata dia, saat ini defisit hingga 9,8 miliar dolar, neraca pembayaran defisit hingga 4 miliar dolar, serta anggaran dalam asumsi APBN 2013 maksimal minus 1,5 persen.

“Namun praktiknya bisa lebih dari asumsi tersebut,” katanya.

Rizal Ramli menjelaskan, posisi perekonomian Indonesia secara makro yang defisit ditambah beban utang luar negeri sekitar 47 triliun dolar AS, jika tidak bisa dikendalikan secara baik maka akan berdampak pada terus merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Jika kondisi ini tidak bisa diantisipasi oleh pemerintah, Rizal memperkirakan, nilai rukar rupiah akan terus merosot hingga sekitar Rp12.000 per dolar AS.

“Jika hal ini sa mpai terjadi, maka Indonesia akan kembali memasuki krisis moneter,” katanya.

Mantan Menko Perekonomian pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid ini menilai, kalaupun sampai terjadi krisis moneter tidak separah kondisi krisis moneter tahun 1998.

Jika pada 1998, banyak pengusaha nasional berskala besar menjadi bangkrut, maka jika sampai terjadi krisis moneter pada 2014 tetap ada pengusaha nasional berskala besar yang akan bangkrut.

“Pemerintah melalui Menteri Keuangan dan Bank Indonesia, harus segera mengantisipasi jangan sampai nilai tukar rupiah terus merosot,” katanya.

Rizal menilai, salah satu penyebab posisi ekonomi makro Indonesia menjadi defisit karena tingginya utang luar negeri.

Ia mengharapkan, Pemerintah Indonesia saat ini bisa menyikapinya secara cerdas dan taktis untuk mengantisipasi potensi krisis moneter.

Rizal mengusulkan, agar Pemerintah Indonesia melakukan restrukturisasi perekonomian nasional sehingga tetap terjadi keberlangsungan pertumbuhan ekonomi. (ANT)