Petualangan Seks: Membaca Revolusi Seksual Dunia Arab & Barat

Foto: Sayangi.com/MI

Judul              : Seks dan Hijab
Penulis           : Shereen El Feki
Penerjemah     : Adi Toha
Penerbit         : PT Pustaka Alvabet, 2013
Peresensi        : Moh. Ilyas

Sayangi.com – Kisah petualangan seks di dunia Arab, khususnya Mesir, barangkali masih tabu di sebagian benak kita. Ini tidak lain karena perbincangan terbuka hingga praktik vulgar yang berbau seksual jauh dari tradisi Negeri Piramida itu.

Bila dipertautkan dengan sepakbola misalnya, seks di dunia Arab berkebalikan 180 derajat. Di sana, semua orang berbicara tentang sepakbola, tetapi hampir tidak ada yang memainkannya. Tetapi seks, semua orang melakukannya, tetapi tak seorang pun mau membicarakannya. Inilah yang diungkap seorang ginekolog Mesir dalam Buku Seks & Hijab Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah karya Shereen El Feki, seorang wartawan sekaligus peneliti yang berani menyelidiki jantung terdalam kehidupan seksual.

Dalam buku ini, El Feki betul-betul mengeksplor berbagai fenomena seksual masa kini di Jazirah Arabia yang berbeda dengan tempo dulu. Dulu kata dia, mu’aksa atau rayuan laki-laki terkesan lebih lembut. Sapaan-sapaan “Ya helwa, ya gamela (hai manis, hai cantik) biasa didengar di Pusat Kota Kairo atau Alexandria tahun 1960-1970an. Namun kali ini rayuan laki-laki kurang sopan, “Ya labwa (hai jalang)” dan seterusnya.

Ia juga menggambarkan bahwa dunia Arab, khususnya Mesir hari ini bukanlah sebuah tempat suci dan bebas dari praktik-praktik seksual. Bahkan El Feki menyarankan, “Jangan ke lingkungan al-Batniyya, dekat Masjid Al-Azhar, dengan lorong-lorong gelapnya yang terkenal dengan beraneka macam keburukan. Itu termasuk pelacuran (da’ara), di sana banyak pelacur siap sedia melayani kebutuhan pelanggan mereka.”

Namun boleh jadi mereka bukanlah pelacur murni, karena di Mesir masih dikenal istilah “Zawaj mut’a” atau pernikahan musim panas alias nikah kontrak. Dalam pernikahan ini, kedua belah pihak dan pengacara menyimpan salinan kontrak, yang dirobek begitu pasangan sudah berpisah. Pernikahan ini bubar tanpa banyak persyaratan; perempuan bisa melenggang pergi dengan sejumlah uang yang dijanjikan di muka. Ini juga hampir sama dengan yang dikenal dengan sebutan zawaj ‘urfi atau pernikahan adat. Pernikahan ‘suka sama suka’ yang hanya bermodal kesepakatan berdua tanpa sepengetahuan keluarga sudah lazim di Mesir. Bahkan kini ia banyak menular di kalangan pemuda dan mahasiswa. Dalam sebuah penelitian terhadap lebih dari 45.000 warga Mesir berusia 18-30 tahun, sekitar 6 persen diperkirakan menjalani hubungan ini.

Ini belum lagi praktik yang disebut “perkawinan darah”, di mana kedua pasangan mengesahkan kontrak mereka dengan jari yang ditusuk peniti. Praktik semacam ini banyak terjadi karena nikah formal membutuhkan biaya mahal, dan banyak pemuda yang berpenghasilan rendah atau pengangguran tak mampu melakukannya.

Revolusi Seksual: Arab Vs Barat

Ada banyak kesenjangan dalam persoalan seks antara Arab dan Barat. Dalam memandang hak-hak seksual misalnya, dunia Arab memandangnya sebagai sebuah ranjau yang tak lebih dari kependekan agenda sosial Barat yang berarti homoseksualitas, seks bebas, prostitusi, pornografi, dan lereng yang licin menuju penghancuran Islam dan nilai-nilai “tradisional” Arab.

Di dunia Barat, khususnya Amerika Utara dan Eropa Barat, El Feki menceritakan kisah masa muda ibunya yang berasal dari Wales, negara bagian dari Britania Raya. Ia tidak menyangka jika seks di Barat bisa sevulgar saat ini, karena pada tahun 1930an sampai 1950an di pedesaan Wales, seks tidak pernah diperbincangkan, tetapi semua orang tahu bahwa gadis baik-baik menunggu sampai menikah. Pada zaman sebelum adanya pil, di mana kontrasepksi merupakan untung-untungan dan aborsi adalah hal ilegal dan rumit untuk dilakukan, sikap ini merupakan persoalan kepraktisan sekaligus moralitas.

Namun hal berbeda terjadi di Mesir. Melalui kisah muda ayahnya yang berasal dari Kairo pada 1930an sampai 1950an, ia mengungkapkan bahwa orang-orang Mesir kala itu merespon seks dengan penuh kebebasan dan keterbukaan.

“Mereka tidak pernah malu ketika berbicara tentang perempuan dan tentang seks atau ketika menulis tentang semua hal tersebut. Saya percaya bahwa kebebasan mereka yang besar merupakan penyebab ketaan yang kita temukan saat ini,” kata Salahudin al-munajjid, salah satu sejarawan arab modern pertama yang memandang dengan baik warisan seksualitas kawasan ini. Inilah yang disebut El Feki sebagai revolusi seksual.

Buku terbitan PT Pustaka Alvabet ini juga mengungkap kisah-kisah Sayyid Qutb yang sangat benci tradisi Barat yang begitu vulgar dalam urusan seks. Ia bahkan mengecam “keprimitipan” Amerika–masyarakat hina yang biadab tanpa landasan spritual atau materialistis. “Kecabulan”, begitu ia menyebut orang-orang Amerika, yang menyambutnya saat dia berangkat berlayar. Dalam perjalanan ke New York, perempuan cantik berpakaian minim dan mabuk berat muncul di pintu kabinnya mencari tempat menginap.

“Pesona tubuhnya sangat menggoda,” kata Qutb, tetapi rayuan wanita itu langsung dikalahkan oleh ketaatannya yang lebih besar terhadap Islam, sehingga Qutb langsung mengusirnya.

Petualangan seksual seperti itu terus berlanjut di daratan. Bahkan di Greeley, Colorado, kota kecil yang dikunjungi Qutb, kaum perempuan muda memiliki pandangan yang terbuka tentang seks, sebagaimana salah satu mahasiswa menjelaskan kepadanya.

“Persoalan seks bukanlah persoalan moral, itu hanyalah persoalan biologis. Dan ketika kita melihatnya dari sudut pandang ini, kita mendapati bahwa menggunakan kata-kata seperti dosa dan kebajikan, baik dan buruk, dalam menggambarkan hal ini merupakan penempatan yang keliru; dan jika Anda melakukan hal itu, tampaknya sangat menggelikan bagi kami,” tulis Qutb menuturkan kisahnya.

Bagi Qutb sendiri, ia lebih merasa terkejut daripada geli. Kemana pun dia menoleh, dia melihat tubuh-tubuh dipertontonkan, lelaki memamerkan otot mereka, dan perempuan memamerkan aset mereka. Bahkan gereja-gereja menurut Qutb, mengandalkan seks. Para pendeta tertarik dengan kehadiran rutin gadis-gadis cantik untuk mengundang para pemuda dan memenuhi bangku-bangku gereja, dan dalam tarian-tarian gereja “lengan melingkari lengan, bibir bertemu bibir, dan bertemu dada, dan suasananya penuh gairah”.

Dalam buku ini, El Feki juga banyak menyandingkan pandangan-pandangan imam madzhab terkemuka soal seks maupun budaya dalam Islam. Misalnya Imam Syafii, pendiri salah satu mazhab utama hukum Islam pada abad 18 yang mengatakan masturbasi hukumnya haram. Ini berbeda dengan Ibnu Hanbal yang membolehkannya, karena ia lebih baik dari perzinahan.

Dikupas pula perdebatan seputar sunat atau female genita mutilation (FGM) bagi perempuan. Ada yang menganggap perempuan disunat untuk meredam nafsu mereka, karena mereka akan semakin buas. Pandangan ini menyebut bahwa wanita-wanita Barat yang ‘buas’ secara seksual, seperti banyak digambarkan dalam film-film porno, disebabkan karena mereka tidak disunat. Namun, ada pula yang tidak sepakat dengan pandangan ini.

Buku ini menjadi layak dibaca tidak hanya karena data-data statistik yang memperkaya isinya dan menjadikannya ilmiah, ataupun persandingan berbagai argumentasi ilmuan Barat dan Islam di dalamnya. Tapi lebih dari itu, wawancara setiap fenomena yang digalinya begitu kuat, sehingga membuat argumentasi buku ini juga menjadi matang. Selamat Membaca!