Rocky Gerung: First Chemistry Malari adalah Moral Forces

Sayangi.com/Emil

Dalam usianya yang lewat dari setengah abad, dosen filsafat politik Universitas Indonesia (UI) ini tetap tampil muda dan enerjik. Satu hal lagi, Rocky Gerung tetap konsisten dengan pemikiran mondialnya dan tetap kritis terhadap segala hal, termasuk dalam mengulas peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 yang lebih dikenal dengan sebutan Malari. Berikut ulasan Rocky Gerung tentang Malari, Gerakan Mahasiswa dan lainnya kepada Bursah Zarnubi dan Marlin Dinamikanto dari Sayangi.com yang bertandang ke kantornya Jl Guntur Raya No 57, Manggarai, Jakarta Selatan, Kamis (9/1) kemarin.

Apa pandangan anda tentang Malari?

Malari itu kimia pertamanya, first chemistrynya adalah moral forces. Sebenarnya kan itu. Kalau mau dipanjang-panjangin sejarahnya, maka yang mesti dibikin panjang adalah ingatan tentang moral forces. Itu yang nggak ada sekarang kan? Jadi kalau kita evaluasi dari 15 Januari 1974 hingga 15 Januari 2014, kita bisa melihat di mana sebenarnya moral forces itu hilang.

Contoh kongkritnya?

Ada gerakan mahasiswa 78, sebagian juga akhirnya kehilangan daya pikat karena kehilangan energi moral forces. Lalu pindah ke gerakan 80-an, lalu pindah ke gerakan 98. Mungkin kita bisa buat semacam statitistik yang bisa mengatakan bahwa jumlah peserta gerakan mahasiswa bertambah tapi skala moral forcesnya itu jatuh ke bawah. Apalagi kemudian mereka masuk ke system yang sebenarnya mau memanfaatkan suasana demokrasi untuk melakukan akumulasi materi. Itu yang terjadi sekarang.

Bagaimana Anda menjelaskan adanya indikasi kepentingan elite dalam gerakan Malari?

Bahwa Malari itu ada proses politik yang lain, memang iya. Tapi sebenarnya kita bisa bicara,  sesungguhnya moral forces itu adalah umpan politik yang enak untuk pertandingan antara elite pada waktu itu. Jadi orang selalu mau ada semacam bagian yang indah dari gerakan politik mahasiswa. Namun dasarnya, politik mahasiswa adalah gerakan di luar politik sistem yang koruptif. Itu yang kita sebut moral forces.

Adakah kesinambungan antara Malari dan gerakan sesudahnya?

Sambung menyambung dari satu gerakan ke gerakan yang lain seharusnya didasarkan oleh moral forces. Itu yang membedakan politik mahasiswa dan politik institusional yang melembaga di dalam partai atau aktifitas oposisi dan seterusnya. Nah karena sambung menyambung itu putus oleh titik-titik oportunis, kita sebenarnya nggak bisa lagi menyebutkan ada sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Yang ada adalah sejarah perebutan ide gerakan mahasiswa oleh elite-elite politik informal. Jadi, yang terjadi sekarang sebetulnya adalah begitu banyak peternak politik yang memanfaatkan gerakan mahasiswa sebagai lahan beternaknya. Dan itu sebetulnya yang terjadi.

Dengan begitu pelaku gerakan mahasiswa sudah terbelah-belah?

Seperti itulah. Jadi kalau misal kita bikin buku seratus tahun sejarah gerakan mahasiswa, kita bisa nyari 33 tokoh gerakan mahasiswa dan 33 itu dibikin saja clusternya, mana yang sebetulnya idealis, mana yang sebetulnya, oke pragmatis, tapi akan lebih banyak lagi yang oportunis. Pragmatis bolehlah, dilihat dari suasana Golput nggak jalan maka dicoba masuk partai segala macem, tapi tetap dilakukan dalam upaya untuk meloloskan pikiran tentang keadilan dan segala macem. Tapi yang oportunis? Dia nggak peduli itu. Dia langsung lompat untuk akumulasi materi.

Bukankah Malari lahir sebagai kritik terhadap strategi pembangunan kala itu?

Benar. Itu yang saya bilang tadi, dari peristiwa Malari itu yang semestinya diingat adalah upaya dari sekelompok orang, mahasiswa UI ketika itu, untuk mengingatkan disparitas. Jadi tetap ada tema keadilan sosial di situ. Bedanya dengan gerakan mahasiswa sesudahnya, keadilan itu diucapkan sebagai retorika. Dalil kemandirian lah, dalil berdiri di atas kaki sendiri, dalil swasembada segala macem, yang nggak ada studinya itu. Kalau Malari itu dimulai dari studi dengan kelompok-kelompok diskusi di UI terutama, yang keras pikirannya. Jadi dihitung dengan metodologi. Jadi metodologi diucapkan secara metodologis.

Kenapa bisa menjadi demonstrasi besar-besaran?

Dari gagasan itu kemudian bertemu dengan fakta-fakta politik, mulai ada keretakan di dalam rezim, sehingga ada faktor obyektif yang memungkinkan gerakan itu meledak. Tapi ledakannya itu tidak semata-mata karena adanya energi yang terkumpul pada gerakan mahasiswa. Ada eksternal faktor yang memanfaatkan itu. Dan itu sampai sekarang orang perlu studi lebih banyak. Korbannya ya bukan saja mahasiswa, tapi juga politisi yang bersimpati dengan ide kerakyatan pada waktu itu. ide keadilan sosial yang ada hitungannya, begitu.

Bagaimana dengan tokoh sentralnya, Hariman Siregar?

Hariman ya okelah. Dia tokoh mahasiswa, kan? Yang diingat dari seorang Hariman adalah karena keberanian dia yang mendekati taraf kegilaan, begitu.

Sejumlah kalangan menilai reformasi telah gagal. Kalau benar, bagaimana penjelasannya?

Setelah reformasi kan kita berharap, ada, apa istilahnya reformasi total. Jadi berubah secara kualitatif dari sistem yang totaliter ke sistem yang terbuka demokratis. Tapi, pada waktu itu kan kecepatan konsolidasi dari kelompok-kelompok reformasi total ini kalah dibandingkan dengan proposal yang sekedar menginginkan reformasi kelembagaan, dengan brand reformasi damai dan segala macam. Jadi sebetulnya dari awal ide (reformasi total) itu sudah ditelantarkan. Tiba-tiba kita masuk pada suatu eforia bahwa oke terima saja itu reformasi. Tapi kita lupa bahwa selama kita tidak pernah melakukan perubahan infrastruktur politik, dalam pengertian ide tentang berpolitik, tidak kita lakukan, maka kita tidak sampai pada ide bahwa kita telah melakukan perubahan.

Terus apa bedanya dengan Gerakan Malari?

Itu beda dengan (Gerakan Malari ) 74, semua (yang terlibat dalam gerakan) berpikir kuat tentang ide keadilan. Ide tentang apa akibat utang luar negeri kepada keadilan sosial itu dihitung. Jadi keluarnya sebagai argumen yang utuh. Gerakan mahasiswa setelah itu kan memang lebih suka tiba cepat-cepat di jalan raya daripada meluruskan terlebih dahulu pikiran. Memang ada defisit gagasan ketika (reformasi 98) itu. Satu-satunya yang mempersatukan adalah kita marah kepada Soeharto. Tapi kalau sebenarnya ada semacam refleksi tentang peristiwa itu, ya karena kita nggak suka saja sama Soeharto yang otoriter.

Apa implikasi dari defisit gagasan itu?

Akibatnya, kita permisif terhadap misalnya sebut saja kita mengijinkan orang-orang yang sesungguhnya tidak boleh masuk ke DPR karena terlibat Orde Baru, tapi okelah, karena sudah terbuka masuklah mereka ke situ. Dan sekarang jebakan itu terjadi kan. Mereka yang duduk di parlemen sekarang adalah mereka yang kita undang pada waktu itu untuk menempati kursi-kursi reformasi di situ. Sekarang begitu mereka di dalam mereka kunci pintu dari dalam sehingga ngetok minta masuk pun nggak boleh.

Kenapa?

Karena sudah di DPR maka demokrasi adalah urusan membuat UU begitu, padahal demokrasi bukan semata-mata urusan membuat UU melainkan yang lebih penting lagi adalah menyelenggarakan kebudayaan yang percaya kepada aktivitas Civil Society, pada aktivitas warga negara. Akibatnya karena kehilangan pakem terhadap gagasan besar demokrasi, setiap aktivis sekarang cari selamat melalui fasilitas politik praktis. Kalau dia mencari selamat sekedar mencari arah lain untuk mengucapkan ulang pikiran politiknya nggak ada soal. Tapi ini cari selamat dengan motive mencari kekayaan. Gejala itu yang sesungguhnya menggelisahkan.

Bagaimana Anda menanggapi kerisauan terhadap modal asing?

Kan faktanya kita hidup dengan parameter-parameter dunia. Jadi misal kita tolak modal asing, anti modal asing, dan konsisten dengan itu, maka kita menutup diri dari bukan sekedar pergaulan ekonomi, tapi juga pergaulan pikiran dunia. Karena di dalam itu, semua pikiran itu menyatu di dalam apa yang disebut transmisi kebudayaan. Jadi memilih kita jadi autarky menutup diri atau bergaul di dalam pikiran internasional. Itu soalnya. Begitu sekarang kita menyatakan menutup diri, maka besok ibu-ibu yang di rumah sakit itu mati karena tidak mendapatkan suplai anti biotik yang masih diimpor dari luar. Itu kan yang terjadi dalam pemikiran mikro. Jadi nggak mungkin kita menutup diri di situ.

Bagaimana dengan kepentingan nasional?

Ya, saya mengerti yang dimaksudkan. Misalnya utang luar negeri naik, tapi proporsi utang terhadap PDB masih mencukupi. Kalau utang 2000 triliun, kalau mau dilunasi gampang. Separo dari BUMN dijual akan ketutup semua utang luar negeri itu. Kita mampu mengatakan tidak terhadap utang luar negeri, tapi kita harus hitung pikiran itu. Jadi, kekawatiran itu sebetulnya karena kita takut, gugup dan gagap untuk bergaul dengan pikiran internasional itu. Kita tahu pergaulan Internasional itu adalah permainan Superpower di bidang ekonomi di bidang militer, tapi kalau kita bisa intip lebih cermat mana yang menguntungkan maka apa salahnya.

Jadi anda setuju dengan modal asing?

Bagi saya menutup diri dan mengatakan modal asing itu adalah maksiat, itu sesungguhnya juga membunuh ide dari negeri ini yang ingin bergaul di dunia internasional, memajukan masyarakat internasional dan mengupayakan perdamaian internasional. Kalau menutup diri kita tak ada partisipasi di dalam pergaulan internasional. Tapi saya faham ada semacam nasionalisme yang diedarkan di negeri ini, satu jenis nasionalisme yang sebetulnya mendekati chauvinisme. Mulai membenci asing, itu yang berbahaya. Lagi pula, secara riil sesungguhnya absurd menutup diri dari modal asing karena modal asing tidak dateng dibawa oleh kapal, namun modal asing dibawa lewat cyber-space. Pikiran asing masuk di situ, transaksi ekonomi masuk di situ, bagaimana mencegahnya? Kan sama saja mencegah pornografi yang nggak mungkin itu.

Terus bagaimana menjaga kepentingan nasional?

Ya, kita jaga kepentingan nasional kita. Dengan cara apa? Ya dengan cara memperkuat pengetahuan kita tentang hukum sehingga saat deal dengan perusahaan multinasional itu kita nggak dirugikan. Misal kita nggak boleh gagal membaca klausul yang ditulis dalam bahasa Inggris misalnya. Nah, itu yang membuat kita sering ditipu kan?