Jusman SD: Hariman Bilang, Jadi Aktivis Itu Sebuah Kehormatan

Sayangi.com/Fahri

Sayangi.comSejak pertama bertemu pada 2 Januari 1978, Jusman Syafii Djamal punya kenangan yang mendalam terhadap Hariman Siregar, tokoh Malari 1974. Mantan menteri perhubungan yang kini menjabat Komisaris Utama PT Telkom ini sangat terkesan dengan sikap Hariman yang suka menolong para aktivis yang sedang kesusahan. 

Jusman, kelahiran Langsa, Aceh Timur, pada 28 Juli 1954, selama 3 tahun pada 1978-1981 pernah berguru pada Hariman. Toh begitu, ia mengaku tak kuat mengikuti pola hidup Hariman yang aktivis tulen. Maka, setelah lulus dari ITB ia memilih bekerja di IPTN pada tahun 1982.  Berikut petikan wawancaranya dengan Bursah Zarnubi dan Fahri Haidar dari Sayangi.com , di kantornya, Kamis (9/1) lalu.

Anda seangkatan dengan Hariman Siregar?

Saya dengan Hariman beda kampus dan beda angkatan 4 tahun. Hariman mahasiswa FKUI, tokoh gerakan mahasiswa tahun 74.  Saya di ITB, aktivis tahun 78, seangkatan dengan Lukman Hakim dan Bram Zakir di UI. 

Bisa cerita awal perkenalan Anda dengan Hariman Siregar?

Saya datang ke rumahnya, kalau nggak salah 2 Januari 78. Bang Hariman keluar dari penjara sekitar Agustus tahun 1976.

Apa yang melatarbelakangi Anda menemui Hariman?

Dewan Mahasiswa (Dema) ITB waktu itu baru selesai mengadakan pemilihan ketua dewan. Heri Ahmadi terpilih sebagai ketua. Dan saya diangkat sebagai wakil ketua dewan bidang kemasyarakatan. Bidang kemasyarakatan itu tugasnya menggalang demonstrasi. Kemudian Heri Ahmadi bilang, kalo kita mau demo tanya saja ke jagoannya, namanya Hariman. Langsung saja saya telpon. Dan hebatnya Hariman, biarpun belum kenal saya, tapi dia menyuruh saya datang ke rumahnya. Maka datanglah saya ke Jl. Brawijaya, di rumah Prof. Sarbini, mertua Hariman. 

Dalam pertemuan itu, apa pandangan Hariman yang paling berkesan bagi Anda? 

Yang paling berkesan buat saya itu satu hal, dia itu kan belum lama keluar dari penjara akibat peristiwa Malari. Dalam pertemuan itu, Hariman bercerita bahwa gerakan Malari 1974 itu bukan sekadar anti modal asing. Itu adalah gerakan anti kebijakan pembangunan yang bersifat top down, cuma dinikmati sekelompok golongan, dan tidak membawa efek kepada kesejahteraan rakyat. Hariman waktu itu mengatakan, udah lah gak usah ngomong yang lain. Kalau mau ngomong ya soal Soeharto atau soal strategi pembangunan. Jadi, saya melihat pikirannya konsisten, gak berubah meskipun sudah dipenjara.

Jadi, sejak awal Hariman mengkritik strategi pembangunan nasional?

Iya, sejak awal dia ngomongin strategi pembangunan. Kalau strategi pembangunan didasari modal asing atau dasarnya kapitalisme pasti tidak akan pro rakyat. Jadi, katanya, kalau kau mau berjuang untuk rakyat  kau harus balik konsepnya. Dasarnya jangan pasar, jangan kapitalisme. Yang namanya Pak Harto dengan rezimnya pasti nggak pro rakyat, pasti pembangunannya begini modelnya, nggak bakal ada kesejahteraan.

Demo Malari bukannya menolak kedatangan PM Tanaka?

Itu sebenarnya cuma alat, cuma simbol. Dia mengatakan, Tanaka itu simbol masuknya modal asing.

Bagaimana soal isu asisten Presiden?

Hariman nggak ngomong soal aspri. Sejak awal dia ngomong soal anti modal asing. Intinya modal asing boleh masuk, tapi bukan untuk memonopoli Indonesia. Modal asing itu harus menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi yang bermanfaat untuk rakyat. Bukan terbalik, modal asing yang jadi tuan.  Sejak awal dia ngomong gitu, sejak saya ketemu dia, saya dikuliahin soal itu. 

Setelah itu, bagaimana Anda intens bertemu Hariman?

Waktu itu dia tanya, terus kamu mau ngapain? Ngapain kamu buat demo kalau gak mau demo Soeharto? Kalau jadi dewan mahasiswa ya harus demo Soeharto. Saya bilang, anak ITB itu kurang berani seperti abang ini. Dia tanya, yang berani berapa orang? Saya bilang yang berani kurang lebih 10 orang. Dia bilang, itu cukup. Aku dulu cuma dua orang, katanya. Saya bilang, nah kalau gitu aku undang Bang Hariman ke ITB. Coba semangatin kita yang 10 orang ini. Gila kau, katanya, aku baru keluar dari penjara udah kau undang. Nah tanggal 15 Januari 78 kita adakan acara di ITB khusus merayakan tentang Malari.

Terus, Hariman datang ke ITB?

Hariman datang dan menceritakan fakta tentang Malari. Dia bilang nggak benar kalau dia ditunggangi Ali Murtopo. Dia juga cerita tentang petisi 28 Oktober, tentang maksud dia demo Tanaka.  Intinya mengkritik Soeharto. Dia itu menggebu-gebu, datang bersama Rahman Toleng dan lain-lain. Ada 7 orang datang. Saat itu rame sekali ITB karena yang datang Hariman, acara sampai malam. Kemudian tanggal 16 Januari, ITB mengeluarkan buku putih yang intinya mengkritik kebijakan strategi pembangunan yang sering dia omongin. Buku putih itu juga menolak Soeharto kembali dicalonkan menjadi presiden. Jadi ada pernyataan sikap, ada buku putih. Nah NKK/BKK itu akibat dari gerakan 78. Setelah gerakan itu, ITB, Dema seluruh Indonesia juga demonstrasi. UI itu Lukman Hakim, kemudian Farid Faqih di IPB Bogor, di ITS Harun Al Rasyid, nah akhirnya kopkamtib turun. Ada 6 koran dibredel, kemudian seluruh dema dibubarkan.

Tokoh mahasiswa banyak ditangkap waktu itu?

Iya, gerakan tahun 1978 itu disebut dengan kampus kuning. Sekitar 300 mahasiswa ditangkap dan diadili. Aku ikut ditangkap, tapi akhirnya aku dijadikan saksi, dipanggil terus bolak-balik. Dari ITB yang jadi terdakwa adalah yang menulis buku putih yaitu Rizal Ramli, Heri Ahmadi, Al Hilal Hamdi, Indro Tjahjono. Dari UI yang ditangkap antara lain Lukman Hakim dan Bram Zakir.

Menurut Anda, apakah Hariman bisa disebut sebagai inspirator gerakan mahasiswa?

Iya, dia itu inspirator. Sejak Hariman keluar dari penjara, setiap ada gerakan mahasiswa pasti ada Hariman. Sampai ada pameo: Kalau mau jadi aktivis, kalau tidak datang ke Hariman artinya bukan aktivis. Dia biasanya aneh-aneh, punya banyak cara untuk nguji kita dulu, punya nyali nggak kita. Kalau jadi aktivis nggak punya nyali gimana? Dan satu yang menonjol lagi, Hariman itu setiap diminta tolong pasti memberi. 

Menurut Anda, Hariman punya solidaritas sosial yang tinggi?

Hariman yang saya kenal, siapapun yang sudah dianggap kawannya, kalau lebih muda dianggap seperti adik. Apa yang jadi kesusahan kita, pasti jadi kesusahan dia. Saya pernah ikut dia dari 78 sampai 81. Semua aktivis kalau datang ke dia pasti ditolong. Ditolong dalam artian kalau kita nggak punya duit untuk melakukan kegiatan pergerakan, dia pasti bantu. Dia selalu bilang,  kalau orang punya ide  membuat kegiatan untuk rakyat, pasti ada yang akan membantu. Kalau kita nggak punya jalan keluar, dia akan mencarikan jalan keluar. Kedua, dia juga selalu menghormati kawannya.  Kalau kita datang ke tempatnya di Lautze, sebelum kita pulang dia nggak akan pulang. Dia bisa dari jam 4 sore sampe jam 4 pagi. Dia nggak peduli aktivis kiri atau kanan, yang penting kita aktivis. Nggak ada sekat-sekat ideologi, agama, atau apapun. Yang penting aktivis itu cinta  sama rakyat dan bangsanya.

Kata orang Hariman itu gak punya rasa takut, betul begitu?

Sebagai aktivis dia itu nggak ada takutnya. Sebagai manusia, mungkin dia punya takut juga, tapi nggak pernah diperlihatkan. Asal ada undangan, kemana aja, tempatnyapun nggak jelas, dia tetap datang. Bahkan yang ngundang kadang dia nggak kenal. Jadi setiap orang ada inisiatif, dia pikir ini pasti punya bakat dan mungkin jadi pemimpin. Siapa tahu dia lebih hebat dari kita. Dan itu nggak cuma di Jakarta.

Sebagai seorang ‘kakak” kepada ‘adik’, apa nasihat Hariman yang paling berkesan?

Tahun 1981 saya lulus dari ITB, jurusan aerodinamika, pesawat terbang. Ia selalu menganjurkan, memberikan pilihan, mau jadi aktivis atau jadi profesional. Saya ikut dia dari 78 sampai 81, selama 3 tahun ikut dia saya merasa nggak kuat. Ikut jadi aktivis sama dia itu 24 jam. Saya tanya sama dia, Man kenapa nggak buat kantor? Dia bilang Nggak, kantor itu kau sendiri, hidup kau itu kantor. Kerjanya nolong aja, dia kan dokter. Jadi jiwanya nolong aja. Misalnya kita lagi duduk-duduk, tiba-tiba ada panggilan, ada tokoh buruh di Priok sakit jantung. Dia langsung berangkat mau kenal atau nggak. Yus ikut, katanya. Sampai sana, badan tokoh buruh itu gedenya minta ampun. Kita berdua manggul dari tingkat dua rumah kusam itu. Kita bawa turun, kita bawa ke RS Cipto. Ada yang meninggal dia datang, ada yang kesusahan dia datang. Terus juga ada panggilan di manapun juga, orang mau demonstrasi, orang mau diskusi, dia datang. Waktu itu kan dilarang diskusi, orang takut. Dia datang kemana aja diundang. Kalau kita takut, dia bilang ngapain takut. Tapi saya nggak kuat mengikuti pola hidupnya. Dunia aktivis model begini saya nggak kuat, bukan model saya kaya gini. Akhirnya Hariman kasih nasihat,  kalau gitu kau kerja di IPTN aja Yus. Saya pun masuk ke IPTN tahun 1982.

Karena dekat Hariman, apakah selama bekerja di IPTN pernah ditegur atasan?

Ditegur sih sering. Orang tahu saya dekat dengan hariman. Susah ngedapetin orang kaya dia. Mungkin karena dia itu dokter ya. Dan kecintaannya kepada dunia aktivis itu luar biasa. Bayangin aja tahun 74 itu istrinya sakit, anaknya meninggal. Tapi dia tetap kuat. Dia itu hanya pulang ke rumah kalau istrinya manggil. Dia itu cinta sekali sama istrinya.

Apa kenangan tak terlupakan dengan Hariman Siregar?

Yang nggak bisa dilupakan ya ikut dia 3 tahun itu. Lalu, waktu tahun 1998 dia telpon saya. Dia bilang Yus, Soeharto udah jatuh. Kau harus tinggalkan pekerjaan kau. Kalau nggak kau nggak akan bisa menikmati kebebasan dan perubahan ini. Tapi saya bilang nggak bisa. Karena saya bertanggung jawab kepada pak Habibie. Wah, kata Hariman, kalau gitu kau lebih memilih pekerjaan daripada perubahan yang akan terjadi. Tapi setelah itu ketika dia ikut di dalam MPR, dia tetap telpon. Dia bilang Yus, kita sudah merdeka nih. Jadi, menurut saya, Hariman adalah orang yang membuktikan bahwa sejak19 74 sampai sekarang 2014 dia paling konsisten. Kalau orang lain kan pasti belok-belok. Yang menarik, kawan Hariman itu ganti-ganti dan selalu ketemu orang muda. Sama saya aja bedanya 4 tahun, belum lagi generasi-generasi selanjutnya.

Selain Anda, siapa saja yang dekat dengan Hariman?

Dulu ada Bram Zakir, Rizal Ramli. Kalau dengan Rizal Ramli dekat tapi tidak secara pribadi. Kalau secara gerakan dan ideologi, dia lebih dekat dengan Dipo Alam. Guru Hariman adalah pengalamannya sendiri, karena dia nggak pernah takut bertanya, berdiskusi dan berdebat dia terbuka. Jadi banyak gurunya. Kalau dia mau tau tentang kiri ada namanya Max Lane dari Australia. Dia ngobrol sama Max Lane. Nah kalau ada orang dari luar negeri mau riset tentang perubahan politik Indonesia, salah satu referensinya ya Hariman. Hariman itu keunggulannya satu. Dengan kekayaan atau uang itu dia nggak silau. Karena orang lain belum kaya dia udah kaya. Nggak pernah uang atau kekayaan itu bisa menyebabkan dia berubah. Nggak pernah dia putus perkawanan karena duit atau kekayaan. Dia sering ditinggalkan orang tapi nggak pernah ninggalkan orang lain. Nggak pernah lupa sama akarnya. Kalau ingat kita, nggak pernah ingat yang jeleknya, pasti dia ingat yang baiknya. Secara pikiran dia lebih dekat ke Sutan Syahrir, dekat dengan Prof Sarbini. Demokrasi kerakyatan. Jadi dia nggak pernah percaya dengan fundamentalisme pasar, dengan kekuatan pasar. Dia juga nggak mau berpartai, karena dia sendiri sudah seperti partai. Dia itu nggak pernah nggak ada acara. 24 jam bisa penuh itu. Belum ada yang kaya dia lah. Kawannya banyak, saya nggak bisa punya kawan sebanyak dia yang menembus lintas aliran. Bahkan orang yang punya kekuasaan juga belum tentu punya jaringan, perkawanan, seperti dia. Dan dia nggak peduli ada yang ninggalin dia, terus balik lagi tetap diterima.

Waktu Anda jadi menteri bagaimana tanggapan Presiden SBY?

Waktu saya jadi menteri, pertama kali saya bilang sama SBY, teman saya banyak. Saya dekat dengan Hariman Siregar. Jadi kalau bapak dengar dari orang lain saya dekat dengan Hariman, itu benar. Dia malah bilang, itu kawan saya. Saya kenal. Dulu sama-sama di Panitia Ad Hoc di MPR. Semua presiden, kecuali presiden Soeharto itu berteman dengan Hariman.

Kesan lain tentang Hariman?

Kalau mau ditanya sama saya apa yang menjadi kesan ya banyak. Yang paling utama caranya dia memandang orang lain sebagai sahabat. Sahabat bukan dalam pengertian pergaulan saja, tapi sahabat untuk bersama-sama mencari cara agar Indonesia jadi lebih baik, rakyatnya lebih sejahtera. Sejak awal dia ngomong soal kesejahteraan, kekuasaan untuk kesejahteraan, demokrasi untuk kesejahteraan, modal asing untuk kesejahteraan. Dia bukan anti modal asing, tapi dia bilang jangan menghamba kepada modal asing. Modal asing harus dikendalikan dan digunakan untuk kesejahteraan. Dia mengatakan untuk mengendalikan itu tidak mudah. Harus ada struktur yang benar, kultur yang benar, pemimpin yang benar. Nah upaya untuk mendapatkan pemimpin yang benar itu nggak bisa sekali jadi. Jadi jatuh bangunnya pemimpin itu ditentukan oleh seberapa besar dia bisa menyejahterakan rakyat. Kalau dia nggak bisa ya dia pasti jatuh. Dan kita nggak bisa ngomong 2,3,4,5 atau 10 tahun, kalau nggak bisa sejahterakan rakyat ya dia pasti jatuh. Gimana kita bisa tahu bahwa pemimpin tidak bisa membangun kesejahteraan rakyat, itulah peranan aktivis. Aktivis itu, karena dia dekat dengan rakyat, dia tahu bahwa ini pemimpin cocok atau tidak. Tugas aktivis itu jadi kekuatan rakyat. Karena itu, Hariman nggak peduli ada aktivis yang jatuh bangun, berganti-ganti. Ada aktivis yang cuma satu tahun, 2 tahun dia nggak permasalahkan itu. Makanya orang di dekat dia itu ganti-ganti. Buat dia, gelar aktivis itu jauh lebih besar daripada Presiden. Dia bilang, jadi aktivis itu sebuah kehormatan, warga negara kelas satu.

Kalau bisa Anda simpulkan, sosok Hariman itu ibarat apa?

Dia seperti kereta api yang terus berjalan, mungkin dari Moskow sampai India. Terus jalan siang malam. Yang naik ganti-ganti tapi dia tetap di lokomotifnya.