Tanpa Prabowo, Sidang Wilfrida Dengarkan Saksi Meringankan

Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.com – Sidang lanjutan kasus Wilfrida Soik, TKI yang terancam hukuman mati di Malaysia, karena tuduhan membunuh majikan, kembali digelar hari ini, Minggu (12/1). Kabarnya tanpa kehadiran Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto yang kali ini mengutus Saraswati Djojohadikusumo.

“Biasanya, dalam setiap persidangan kasus Wilfrida, Prabowo selalu hadir dan mengikuti persidangan di Mahkamah Tinggi Malaya Kota Bharu, Malaysia. Namun, pada persidangan hari Minggu ini Prabowo telah menugaskan Saraswati Djojohadikusumo untuk mengikuti persidangan,” kata Koordinator Media Center Prabowo Subianto, Budi Purnomo Karjodihardjo, di Jakarta, Minggu (12/1), seperti dilansir Antara.

Ia mengatakan, rombongan Saraswati Djojohadikusumo berangkat dari Halim Perdanakusuma pada Sabtu (11/1) sekitar 15.00 WIB. Saraswati merupakan pengurus DPP Partai Gerindra yang aktif memperjuangkan gerakan anti-perdagangan manusia dan perbudakan modern melalui Yayasan Parinama Astha yang diketuainya.

Pada persidangan hari Minggu (12/1) ini, rencananya tujuh orang saksi yang meringankan Wilfrida akan dihadirkan dalam sidang lanjutan. Kehadiran para saksi yang meringankan diharapkan bisa membebaskan Wilfrida dari hukuman mati.

Mengutip penjelasan Tan Sri Mohammed Shafee Abdullah, pengacara yang ditunjuk oleh Prabowo Subianto sebelumnya, mereka telah berhasil meyakinkan hakim untuk menyimak kembali testimoni dari tujuh orang saksi yang dapat semakin meringankan Wilfrida. “Pada persidangan sebelum ini kita berhasil meyakinkan hakim bahwa umur Wilfrida yang sebenarnya tidak sesuai dengan umur yang tertera di paspor. Ini artinya, Wilfrida tidak dapat dijatuhi hukuman mati,” kata Tan Sri.

Tan Sri juga mengatakan bahwa pihaknya telah berhasil meyakinkan hakim untuk memberikan izin kepada Wilfrida untuk keluar penjara dan menjalani pemeriksaan psikis di Rumah Sakit Permai di Johor Baru. “Kehadiran tujuh saksi di persidangan yang dijadwalkan berlanjut pada tanggal 12 Januari 2014 diyakini akan membuka jalan ke kebebasan Wilfrida,” ucapnya.

Selain itu, Tan Sri juga meyakinkan hakim untuk mengijinkan pembuatan analisa kondisi sosial masyarakat Belu, NTT untuk memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai asal Wilfrida. (MSR)