Pasar Properti Melemah, LSM Waspadai KPR Macet

Ilustrasi foto: rwnetworks.com

Jakarta, Sayangi.com – Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Indonesia Property Watch meminta otoritas berwenang mewaspadai potensi peningkatan jumlah kredit pemilikan rumah (KPR) macet akibat kenaikan harga properti.

“Pasar properti yang melemah menyusul harga yang naik memang sedikit banyak mengurangi aksi spekulasi jangka pendek yang terjadi 2-3 tahun belakangan ini,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (14/1).

Ali juga mengingatkan, kenaikan suku bunga acuan menjadi 7,5 persen dari 5,75 persen dalam kurun waktu yang singkat membuat perbankan mulai menaikkan suku bunga KPR. Apalagi, ujar dia, umumnya suku bunga KPR tiga persen lebih tinggi dibandingkan dengan “BI Rate” atau suku bunga acuan. “Namun demikian banyak bank yang menaikkan sampai lima persen di atas BI Rate. Hal ini tentunya akan memukul pangsa pasar KPR yang ada,” ucapnya.

Karena itu, ia berpendapat bahwa pasar konsumen yang saat ini yang tengah melakukan pembelian properti dengan KPR terancam berpotensi kredit macet karena tidak dapat melunasi cicilan yang ada. “Bayangkan konsumen yang tadinya telah melakukan pembelian dengan suku bunga KPR 8,5 persen ‘fixed’ (tetap) dua tahun, setelah berakhir masa bunga tetap tahun ini, suku bunga melonjak menjadi 12,5 persen ‘floating’ (mengambang). Hal ini tentunya akan mengerus daya beli konsumen yang harus menambah porsi cicilan per bulannya Rp 500 ribu-Rp 1 juta,” katanya.

Karena itu, Ali Tranghada merekomendasikan kepada otoritas berwenang guna mengambil langkah-langkah untuk menghindari kredit macet yang diperkirakan akan mulai terjadi di Triwulan I 2014. Apalagi, ia mengingatkan bahwa potensi kredit macet juga bukan hanya berasal dari konsumen di sisi permintaan pasar, tetapi juga dari sisi pengembang sebagai pemasok rumah.

Sebelumnya Ali menyatakan, pengembang bakal bersaing ketat dalam memperebutkan segmen pelanggan untuk sektor properti 2014 yang diprediksi semakin jenuh terutama setelah kenaikan BI rate. Menurut dia, meski terjadi perlambatan di sektor properti tetap akan ada permintaan pasar sehingga harga properti diprediksi juga tidak akan jatuh tetapi hanya mengalami fenomena penundaan permintaan dari pasar.

Ia berpendapat bahwa memasuki 2014 ini, secara keseluruhan pasar properti akan melambat karena pasar segmen menengah atas dihadapkan dengan harga yang sudah terlalu tinggi sehingga banyak pengembang yang merasa terlalu tinggi untuk menjual produknya.

“Sedangkan di sisi permintaan telah mengalami kejenuhan. Hal ini membuat aksi spekulasi semakin menurun. Para pengembang pun mulai melakukan ‘resizing’ dengan memasuki pasar perumahan di segmen lebih rendah. Harga rumah Rp500 juta sampai 1 miliar akan menjadi primadona di 2014,” ujarnya.

Di segmen menengah, menurut Ali, permintaan menjadi sedikit tertunda dengan naiknya suku bunga KPR, menyusul naiknya BI Rate di tingkat 7,5 persen yang menyebabkan bank-bank mematok suku bunga KPR diatas 10,5 persen. Indonesia Property Watch menyatakan bahwa dengan naiknya suku bunga tersebut, diperkirakan permintaan terhadap sektor properti juga diperkirakan akan anjlok sebesar 20-25 persen pada tahun 2014. (MSR/ANT)