Boni Hargens: Hariman dan Malari Pelajaran Penting Buat Mahasiswa

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Peristiwa “Malari” (Malapetaka Limabelas Januari) tak bisa dilepaskan dari sejarah politik bangsa ini. Demo mahasiswa yang terjadi pada 15 Januari 1974 itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Tanaka Kakuei berkunjung ke Jakarta. Mahasiswa menyambut kedatangannya dengan berdemo. Usai demo yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan itu, Jakarta berasap. Mengenang peristiwa tersebut, wartawan Sayangi.com Eman M.G mewawancarai pengamat politik Boni Hargens. Berikut petikannya:

Sayangi.com: Sebagai pengamat politik, apakah arti peristiwa “Malari 1974” bagi negara ini?

Boni Hargens: Itu peristiwa yang mahal dalam sejarah. Mahal karena “Malari” bukan sekadar gerakan melawan pemerintahan otoriter Suharto, melainkan terutama melawan (modal) asing. Ini gerakan antiliberalisme, sehingga ia dilihat sebagai gerakan yang berbasis ideologi. Ini pelajaran yang penting bagi gerakan mahasiswa setelah 1974, dan bahkan untuk gerakan mahasiswa di masa mendatang. PM Jepang Tanaka itu cuma simbol dari kehadiran asing. “Malari” melawan intervensi asing dan kehadiran modal asing. Sebuah upaya mempertahankan kedaulatan negara di bidang ekonomi.

Apakah peristiwa tersebut ada relevansinya terhadap situasi sakarang?

Relevansinya jelas seperti saya katakan tadi. Ini gerakan berbasis ideologi dan harusnya gerakan mahasiswa memang seperti itu. Dalam memperjuangkan apapun, termasuk mengkritisi kehadiran kekuatan asing di negeri ini, mahasiswa harus berdasar pada ideologi, supaya gerakan mempunyai roh yang kuat. Dan dengan itu juga memiliki orientasi yang jelas untuk masa depan bangsa dan negara.

Seberapa kuatkan pengaruh peristiwa itu terhadap proses bernegara setelah 1974?

Gerakan itu memberi semangat bagi mahasiswa pasca-1974 untuk semakin berani dan kritis, dan saya kira gerakan 1998 pun banyak menimba semangat dari 1974. “Malari” selalu menjadi cerita sejarah penting bagi aktivis mahasiswa dan selalu ada semangat yang lahir dari kisah itu. Kalau bicara pengaruh langsung terhadap negara, saya kita tidak banyak yang bisa terukur. Tapi yang jelas, dengan gerakan itu, negara Orde Baru pasca 1974 makin mewaspadai gerakan mahasiswa. Kampus pun dipenuhi intelijen, seluruh aktivitas akademik dipantau total oleh “negara Suharto”. Menariknya, justru kontrol berlebihan itu menambah radikalisme mahasiswa dalam melawan militer dan rezim Orba.

Bagaimana juga Anda melihat sosok Hariman Siregar, sang tokoh “Malari”?

Hariman adalah tokoh pergerakan yang turut membentuk sejarah pembangunan demokrasi sipil di Indonesia. Bicara “Malari” adalah bicara Hariman dan Sjahrir. Tapi lebih dari itu, konsistensi Hariman untuk bertahan hidup sebagai aktivis yang tidak tergoda untuk masuk partai politik, membuat ia lebih besar dari sekadar aktivis “Malari”.  

Apakah benar tuduhan liberalisme dulu yang dilawan Hariman dan kawan-kawan hari ini terbukti?

Saya kira liberalisasi terjadi secara tak terkendali setelah 1967, yakni ditetapkannya UU Nomor 1 tahun 1967 soal Penanaman Modal Asing, UU pertama produk Pemerintahan Suharto. Ini UU yang membuka pintu bagi kekuatan asing untuk menggarap sumber alam Indonesia. Malari 1974 justru menjadi penting karena ia menjadi perlawanan perdana yang serius terhadap kehadiran modal asing setelah 7 tahun UU itu berlaku. Ekonomi Indonesia setelahnya makin liberal, apalagi setelah Washington Consensus ditandatangi tahun 1978. Liberalisasi yang ditakuti mahasiswa 1974 menjadi virus yang telah merusak ekonomi Indonesia setelahnya, bahkan sampai hari ini.      

Apa kritik Anda terhadap gerakan mahasiwa saat ini, jika ditarik ke belakang sampai pada peristiwa “Malari”?

Pertama, gerakan mahasiswa belakangan tidak lagi solid. Terjadi perpecahan yang serius di tengah kelompok gerakan mahasiswa. Kedua, gerakan mahasiswa makin kehilangan ideologi. Kecenderungan untuk pragmatis membuat gerakan banyak yang terkontaminasi dengan kepentingan politik kekuasaan. Inilah dasar kenapa gerakan mahasiswa dewasa ini makin tidak memiliki rohnya.

Dalam tahun politik ini, apakah ada pesan dari gerakan “Malari” yang bisa diimbau kepada parpol peserta Pemilu?

Pesannya jelas, partai politik harus sensitif dan responsif terhadap segala bentuk kritik dan perlawanan mahasiswa, karena tidak ada perubahan yang terjadi tanpa keterlibatan kaum muda (mahasiswa). Pesan lain, partai politik harus berpegang pada ideologi dalam merumuskan kebijakan dan dalam menjalankan roda partai. Parpol harus kritis terhadap arus pasar liberal dan globalisasi secara keseluruhan agar bangsa ini tidak kehilangan jati diri. (MSR)