Jumhur Hidayat: Hariman Siregar Sangat Paham Hati Nurani Aktivis

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) Tahun 1974 sebagai kritik strategi pembangunan Soeharto, sebagaimana pengakuan beberapa tokoh aktivis ternyata juga menginspirasi gerakan mahasiswa di era selanjutnya. Jumhur Hidayat (Kepala BNP2TKI), tokoh gerakan Mahasiswa ITB yang pernah dipenjara selama 3 tahun, menuturkan  kepada wartawan Sayangi.com Eman MG, bahwa dirinya dan kawan-kawannya sangat  terinspirasi dari gerakan Hariman Siregar dalam peristiwa Malari tahun 1974. Berikut petikan lengkap wawancaranya:

Kapan Pertama Kali Kenal Hariman Siregar?

Saya kenal dengan Hariman Siregar sejak tahun 1992 setelah keluar dari penjara, tapi sebenarnya nama besar Hariman sudah lama saya dengar terutama dengan peristiwa Malari.

Apa Yang Anda Kenal dari Jalan Pikiran Seorang Hariman Siregar?

Menurut saya gagasan dan pandangan beliau itu sangat ideologis. Peristiwa Malari itu jangan dilihat dari peristiwa kerusahan saja, itu implikasi saja, tetapi harus dilihat sebagai perjuangan mahasiswa yang kental dengan visi ideologis yang sampai saat ini masih relevan. Malari sebagi kritik atas strategi pembanungan orde baru (yang sangat pro dengan modal asing, Jepang) justru saat ini makin menggurita dan mengkhawatirkan masa depan bangsa Indonesia.

Peristiwa demonstrasi di ITB itu apakah Anda juga terispirasi dari peristiwa Malari?

Sebetulnya semuan gerakan mahasiswa pasca Malari itu sangat terinpirasi dari gagasan dan gerakan Hariman Siragar. Saya yakin aktivis yang muncul setelah tahun 74 pasti pernah bersentuhan dan bertukar pikiran dengan Hariman Siregar, itu bisa saya pastikan,  bahkan sampai sekarang.

Selain sebagai inspirator gerakan mahasiswa, apalagi yang Anda ketahui tentang Hariman Siregar?

Saya tahu Hariman tidak berorientasi pada kekuasaan. Saya ngak ngerti, apakah itu kelamahan dia atau kelebihan? karena menurut saya, wajar saja jika seorang aktivis itu juga punya keinginan duduk di kekuasaan dalam konteks untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Herannya,  Bang Hariman itu yang saya lihat tidak punya ambisi dan tidak silau melihat kekuasaan. Yang saya perhatikan, Hariman Siregar hanya tertarik memberikan input dan kritkik kepada kekuasan. Dengan kata lain ia adalah seorang aktivis sejati, yang tidak terkotori oleh masalah politik praktis.

Apa hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa Malari bagi kepentingan bangsa dan negara?

Dari kritik Hariman terhadap modal asing, kita tidak boleh sepenuhnya bergantung kepada modal asing. Kita harusnya memperlakukan modal asing itu sebagai partner dari modal nasional.  Jangan ada pikiran bahwa tanpa modal asing negara kita tidak bisa berkembang. Jika para konglemerat nasional kita digabungkan dengan kekuatan keuangan negara kita sesunguhnya kita dapat melakukan investasi besar-besaran disegala bidang. Dan jangan lupa yang mendapatkan keuntungan dari investasi modal asing sudah bisa dipastikan adalah orang asing. Lebih mengerikan lagi kalau modal-modal asing itu masuk ke sektor-sektor produktif yang seharusnya milik rakyat.  Misalnya batu bara, minyak, gas dan pangan. Ini yang menurut saya harus kita kritisi secara serius. Karena itu milik rakyat bentuknya bisa BUMN. Persoalannya BUMN kita selama ini tidak mendapatkan konsesi besar-besaran seperti modal asing.

Selain sebagai aktivis dari peristiwa Malari, apa sisi lain yang Anda kenal dari Hariman Siregar?

Wah Kalau hal ini saya bisa berceritera banyak. Hariman itu tahu hatinya aktivis. Dia tahu bahwa aktivis itu punya idealisme dan tidak tahu caranya cari uang untuk hidup. Banyak aktivis mahasiwa yang kesulitan ekonominya dibantu oleh hariman.  Seperti saya dulu, jika sedang kesulitan pasti akan mencari Bang Hariman. Dan yang paling menarik, beliau hampir tidak pernah menolak membantu mengatasi kesulitan aktivis mahasiswa. Dan ini adalah salah satu hal yang perlu kita teladani dari beliua. Karena itu saya menghimbau kepada rekan-rekan aktivis yang secara ekonomi membaik agar mau membantu adik-adik aktivis mahasiswa entah itu BEM dan lain sebagainya. Bangsa ini butuh aktivis, aktivis itu pemikir bebas masih independen dan punya pikiran cerdas untuk melakukan perubahan. Artinya dia tidak punya kepentingan  seperti para politisi. Kadar idealismenya masih tinggi, jadi kalau mereka gak dibantu, yah bangsa ini rugi.  Sebaiknya  Negara ini kedepan dipimpin oleh para aktivis, seharusnya  negara ini mampu memanfaatkan pikiran-pikiran cerdas dari para aktivis yang bisa dikristalkan dalam bentuk kebijakan. Sayang sampai sekarang belum ada aktivis yang jadi penguasa

Di Tahun Politik Ini, Apa Saran Anda untuk Partai Politik?

Menurut saya, kedepan nanti yang harus diperjuangkan itu adalah gagasan tentang kerakyatan dan kemandirian. Menurut saya, saat ini sudah ada beberapa partai sudah memulainya di samping gagasan kebangsaan yang sudah sering dibicarakan. Hal-hal mengenai toleransi, pluralisme itu baik tetapi tidak cukup jika kita melupakan gagasan kerakyatan dan kemandirian. Saya ingin mengajak seluruh elemen yang saat ini mau berkuasa (nanti setelah pemilu) mulailah menggagas konsep kerakyatan dan kemandirian. Misalnya saat ini, kredit secara nasional yang dikucurkan sebesar Rp 3.000 Triliun lebih, tetapi usaha kecil dan menengah kita dari dulu kreditnya kurang dari 20%, padahal ada 56 juta unit Usaha kecil menengah (UMKM) di Indonesia. Selama ini, yang mendapat perhatian lebih itu adalah pengusaha besar, mengapa tidak misalkan, dimasa yang akan datang kita rubah polanya dengan kita naikan 30, 40 persen atau bahkan bisa jadi anggaran kredit Rp 1.500 Triliun kita berikan kepada usaha kecil menengah. Pada soal kemandirian, kenapa kita tidak mau berpikir misalkan 5 tahun lagi kita sudah bisa berhenti mengimpor sapi, kedelai, jagung dan sebagainya.

Apa Saran Anda Terhadap Gerakan Mahasiwa saat Ini?

Menurut saya, mahasiswa saat ini sudah lebih sadar dengan apa situasi yang sesungguhnya kita hadapi. Situasi ini bisa menjadi bola salju yang akan terus bergulir jika pemerintah di masa yang akan datang terus mempertahankan keadaan seperti sekarang ini. Menurut saya ini bisa berbahaya jika gerakan mahasiwa nanti  berkolaborasi secara sungguh sungguh dengan gerakan buruh, petani, maka bisa saja akan terjadi people power. Dan sekarang ini sangat terasa, dimana-mana orang-orang selalu bicara partai gak beres, negara gak becus, pemerintahan tak adil. Hanya belum ketemu saja gerakan buruh, petani dengan gerakan mahasiswa. Kalau ini ketemu wah ini bahaya. Bisa krisis  kembali negara ini.