Ismet: Hariman Menyemai Benih Perlawanan Melalui Pemikiran

Jakarta, Sayangi.com Hari ini di peringati 40 Tahun Peristiwa Malapetaka limabelas Januari 1974 (Malari), ternyata memberi pesan yang sangat kuat bukan hanya mengenai penolakan terhadap dominasi  modal asing, tetapi juga mengenai perlawanan terhadap Orde baru yang sarat dengan KKN. Adalah Ismet Hasan Putro, aktivis mahasiswa era 80 an , pendiri Lingkar Studi Indonesua yang saat ini menjabat sebagai Dirut Rajawali Nusatara Indonesia (RNI) kepada Sayangi.com menuturkan bahwa gerakan yang dilakukan oleh Hariman Siregar cs tersebut membuka peluang kepada aktivis untuk terus berbicara lantang menentang strategi pembangunan yang tidak adil. Berikut petikan wawancara Ismet kepada wartawan Sayangi.com Eman MG: 

Apa yang anda Fahami tentang Hariman Siregar ?

Hariman adalah insprirasi bagi banyak aktivis untuk  menuangkan visi dan gagasannya  tentang Indonesia yang lebih baik. Hariman adalah orang yang tidak punya pretensi untuk memberikan apa yang dia miliki,apa yang dia ketahui dan apa yang dia fahami tentang komitmennnya kepada bangsa ini untuk menjadi bahan atau refleksi bagi anak anak muda yang sedang mencari jati dirinya. Karena saya sadar pada saat itu, sebagai mahasiswa saya harus menempa diri, mencari pengalaman sekaligus mencari figur yang menjadi semacam sandaran bagi aktifitas yang saya lakukan. Nah, Hariman Siregar adalah sala satunya yang saya kagumi pada waktu itu selain  saat itu saya juga mengagumi Heri Ahmadi ketua Dema ITB angkatan 1978/1979.

Tepatnya kapan Kenal Hariman  dan apa inti gerakan Malari ?

Hariman saya kenal sekitar tahun 80-an, dan dia   sebagai salah seorang tokoh Malari 1974 (malapetaka 15 januari). Gerakan Malari yang saya fahami  merupakan refleksi dari perlawanan mahasiswa terhadap dominasi investasi  Jepang di Indonesia. Saya kira, salah satu point dari perjuangan Hariman Cs waktu itu adalah bukan samata mata menentang dominasi ekonomi Jepang terhadap Indonesia dan  menentang praktek KKN yang kuat pada  di lingkungan kekuasaan Soeharto, tetapi juga perjuangan Hariman adalah soal strategi pembangunan yang tidak memihak kepada rakyat yang mengakibatkan adanya kesenjangan  kemiskinan yang makin dominan dalam struktur perekonomian kita. Saya ingin mengatakan bahwa, sebetulnya Hariman itu adalah orang yang secara lantang menyuarakan penolakannnya terhadap ketidakadilan pembangunan rezim orde baru.

Maksudnya ?

Begini, dalam konteks Pelita (Pembangunan Lima Tahun) yang di bangun pada waktu itu terlihat jelas bahwa ada sistem pembagian  kue pembangunan,  bukan pemerataan pembangunan. Sebab waktu itu Soeharto mengutamakan tentang bagaimana memperbesar kelompok tertentu dalam penguasaan aset ekonomi kemudian itu didistribusikan. Dalam prakteknya konsep ekonomi yang mendistribusikan  itu tidak terjadi. Yang terjadi adalah  konsentrasi pembangunan di jawa dan konsentrasi penguasaan ekonomi oleh segelintir pengusaha. Apalagi konsep pembangunan itu hanya terfokus pada sektor sektor yang tidak menyerap tenaga kerja sehingga tidak dapat menyerap percepatan untuk terjadinya pemerataan. Sehinhgga muncullah penolakan secara konseptual seperti yang di pelopori oleh Prof. Sarbini  dan Dr. Sjahrir tentang pembangunan yang berkeadilan yang lalu di lanjutkan oleh Lembaga Studi Pembangunan pimpinan  Adi sasono dengan konsep pembangunan ekonomi alternatif sebagai antitesis terhadap konsep pembangunan yang tetap mengutamakan tentang kue yang di bagi bukan pendistribusian yang berbasiskan pemeraataan pada masyarakat.

Apakah Bisa dikatakan  bahwa Gerakan Malari itu cukup berbasis ideologi dibanding gerakan mahasiswa masa sekarang ? 

Harus kita akui bahwa pada level visi dan  ideologi, mahasiwa tahun 1974 itu lebih memiliki konsep walaupun letupannya berimplikasi pada tuduhan makar (karena memang ada permainan intelejen disitu). Serial diskusi yang saya lalukan di Lingkaran Studi Inodnesia (LSI 1984) yang saya pimpin yang saya dengar dari cita-cita Dr. Sjahrir, Indra. K Budinani dan termasuk Dipo Alam, sebenarnya gagasan Malari 74 itu, adalah counter terhadap stretegi pembangunan ekonomi yang tidak adil dan tidak berpihak pada rakyat

Kalau kita kaji, apakah peristiwa Malari 1974 itu masih punya relevansi terhadap situasi sekarang?

Nah, Kalau kita lihat dengan situasi sekarang maka Gerakan Malari  masih sangat relevans dengan situasi sekarang bahkan lebih kompleks lagi. Kita sudah kehilangan orientasi pembangunan untuk rakyat.  Indonesia saat ini tidak lagi memiliki kekuatan dasar untuk menguasai sendi-sendi ekonomi seperti migas dan pangan,misalnya.  Karena khususnya migas 80 persen dikuasai perusahan Amerika dan  Eropa (Cevron, Sell, Freport  dan Newmont).  Hal Ini mengindikasikan bahwa, kita semakin tidak punya kedaulatan. Bangsa ini semakin tidak berdikari untuk membangun kekuatan dasarnya yang berbasis pangan dan  energi.

Jadi benar dong, gerakan malari itu dalam rangka melawan dominasi  modal asing?

Nah sekarang terbukti, kita sudah sangat dikuasai. Dari bidang energi, migas,  kita dikuasai Amerika, China dan eropa . kemudian import sapi di kuasai oleh Australia,  dan  kita harus impor pangan  dari  Amerika. Ini adalah bukti bahwa bangsa ini tidak lagi beradulat dan hanya merupakan pangsa pasar yang empuk bagi barang produksi asing. Sementara itu, Pertumbuhan ekonomi kita itu sangat absurd, karena pada prakteknya tidak mampu mengangkat derajat sekian puluh juta orang miskin yang ada di Indonesia.

Jadi apa yang harus kita lakukan?

Saya tidak ingin kalap dengan mengatakan stop import. Tetapi harus ada grand design baru untuk memperbaiki ketahan pangan kita. Sudah saatnya kita kembali membangun irigasi-irigasi. Harus diakui bahwa, selama 25 tahun terakhir ini penambahan sawah kita sangat minimal dan produksitifitas sawah kita sangat kecil. Vietnam itu bisa penen 4 kali setahun, kita paling tinggi 3 kali setahun. Dan produksi sawah kita hanya 7 ton perhektar sedangkan di vietnam bisa 12 atau 15 ton perhektar.  Selain itu, menurut saya ada tiga ketahanan yang paling menentukan bagi suatu bangsa. Yaitu ketahanan militer, pangan dan energi.  Tanpa tiga ketahanan ini bangsa ini menjadi bangsa yang lumpuh. Yang ingin saya katakan adalah bahwa kondisi Indonesia itu lumpuh karena ia tidak lagi memiliki ketahanan untuk menjadi bangsa yang berdikari dan berdaulat. Mengapa? Indonesia tidak memiliki cadangan minyak yang cukup apabila harus menghadapi perang bahkan hanya dalam waktu satu bulan.  Indonesia tidak punya cadangan pangan ketika ada blokade tehadap pangan nasional kita. Apakah itu beras, gandum dan lain-lain. Apalagi dari aspek pertahannan nasional kita, diserang Malaysia pun belum tentu kita menang. Jadi yang mau saya katakan adalah, bahwa realitas bangsa  saat ini jauh dari cita-cita para pendiri bangsa karena pemikiran para pendiri bangsa makin dikucilkan oleh para pemimpin saat ini. Pemimpin kita lebih memilih bermesra, berkubang dengan para pemburu rente.

Dalam kaitan dengan peringatan 40 tahun peristiwa malari 1974 ini, apa pesan pesan anda untuk aktivis mahasiswa? 

Saya ingin mengajak rekan-rekan mahasiswa untuk  menghidupkan kembali diskusi kelompok Cipayung (HMI, GMNI, PMKRI,GMKI, PMII) dan kelompok-kelompok aktivis lainnya untuk mengevaluasi dan introspeksi perjalanan kehidupan bangsa ini.  Mahasiwa tidak boleh larut dengan rutinitasnya, mereka harus menjadi ideolog muda untuk menyelamatkan arah bangsa ini kedepan. Karena ditangan merekalah harapan pembangunan peradaban Indonesia pada masa yang akan datang. aktivis mahasiswa Indonesia harus belajar dari keteguhan hati seorang Hariman.  Karena dia bukan hanya mempertaruhkan nyawa dan hartanya tetapi hampir seluruh keluarganya ikut berkorban. Hariman adalah contoh perjuangan dan pengorbanan untuk kepentingan bangsa dan negara ini. Hingga saat ini, Hariman tetap menyemai benih-benih  perlawanan melalui pemikiran-pemikiran dan juga heroisme yang ia berikan kepada anak-anak muda yang mampir dan  datang  berinteraksi dengannya.