Harga Kopi Bali Naik Rp 2000 per Kg

sayangi.com/doc

Denpasar, Sayangi.com – Harga kopi di tingkat petani di Tabanan, Buleleng, Jembrana, Bangli, dan Gianyar, Bali, awal tahun ini naik rata-rata Rp2.000 per kilogram menjadi Rp34.000/kg jenis arabika dan Rp27.000/kg jenis robusta.

“Petani di daerah Pupuan-Tabanan salah satu pusat penghasil kopi di Bali, cukup bergairah untuk berproduksi mengingat harga yang menggiurkan,” kata Made Ruta pekebun setempat yang dibenarkan rekannya Made Sura, Minggu (19/1).

Perkebunan rakyat di daerah itu tergabung dalam organisasi tradisional, Subak Abian, sehingga para pekebun bisa diberikan penyuluhan dalam proses berproduksi secara mantap, baik dalam pemupukan, pemberantasan penyakit, dan soal petik buah.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bali I Dewa Made Buana Duwuran mengakui bahwa Subak Abian adalah organisasi petani di lahan kering di daerah ini dan sebagai mitra Dinas Perkebunan setempat dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurut dia, keberadaan Subak Abian sangat membantu pelaksanaan pembangunan perkebunan di Bali. Oleh sebab itu, keberadaan organisasi petani kebun tersebut hingga kini tercatat 1.127 subak abian yang tersebar di sembilan kabupaten/kota.

Ia mengatakan bahwa petani menikmati harga yang baik tentu berkat upaya petani yang selalu memperhatikan kualitas produksi dengan melakukan petik yang sudah matang sehingga harga tetap lebih baik dari rata-rata pasaran internasional.

Sementara itu, petani Bali menyambut baik adanya kestabilan harga cengkih, hasil perkebunan rakyat lainnya di daerah ini yang tetap stabil, yakni Rp135.000/kg pada minggu kedua Januari 2014 dan angka itu tidak mengalami perubahan dari sebelumnya.

“Harga itu sudah cukup baik diterima oleh petani di Buleleng, kami tetap bersyukur hasil petani dihargai segitu walaupun belum mencapai harga Rp200.000/kg seperti pada tahun-tahun sebelumnya,” ujar seorang petani cengkih.

Petani di daerah itu berharap harga hasil perkebunan rakyat itu tetap merangkak naik lagi mengingat produksi yang ada sekarang agak berkurang akibat adanya penyakit tanaman sehingga penghasilan pekebun daerah ini agak berkurang.

Menyinggung masalah vanili yang selama ini dibudidayakan masyarakat belum mengalami perkembangan yang berarti karena harga hasil perkebunan itu belum mengalami perubahan, yakni sekitar Rp100.000/kg kering dan Rp25.000/kg basah. (MD/Ant)