Devadasi, Tradisi Persembahan Anak untuk Tuhan ke Pelacuran

India, Sayangi.com- India memang merupakan sebuah negara yang memiliki banyak sekali tradisi. Berbagai tradisi yang ada di India terkadang sangat unik, namun berbeda dengan tradisi yang satu ini, tradisi ini bernama tradisi Davadasi yang artinya persembahan untuk Tuhan.

Di sebuah Distrik bernama Bharatpur, India sebuah tradisi menjual seorang anak perempuan yang akan memasuki usia pubertas ke lembah prostitusi ini benar-benar menjadi sebuah cerita yang sangat jamak. Tidak hanya itu saja, hal ini bahkan menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat yang ditandai melalui upacara Nathni Utarna atau yang dikenal sebagai upacara menyambut masa pubertas.

Melalui upacara tersebut menjadi pertanda bahwa seorang gadis telah siap dikirim ke perdagangan seks dan juga siap untuk menghabiskan malam pertamanya dengan klien pertamanya juga.

Dalam hal ini, masyarakat di Distrik Bharatpur sama sekali tidak melihat ada yang salah di saat seorang ayah membawa anak gadisnya untuk diterjunkan kedalam bisnis seks. Atau bahkan ketika seorang laki-laki membawa adiknya ke tempat pelacuran. Mereka hanya memandangnya sebagai tradisi semata yang telah turun temurun.

Pernikahan dengan Dewa-dewa kuil
Tradisi ini bermula dari sebuah budaya yang bernama Devadasi. Menurut adat India kuno, anak-anak gadis sebelum memasuki usia pubertas akan “dinikahkan” atau dengan kata lain dipersembahkan dalam suatu pernikahan dengan dewa-dewa di kuil desanya. Jadi pada dasarnya mereka itu dinikahkan dengan kuil atau sama saja tidak meniah untuk selama-lamanya.

Anak-anak perempuan ini secara tidak langsung didedikasikan sebagai pekerja seksual atas nama agama. Biasanya mereka pandai bernyanyi, menari dan juga bermain sandiwara. Selain itu ada pula sebagian dari mereka yang kemudian memberikan pelayanan seksual kepada para pendeta dan penghuni kuil. Mereka ini percaya bahwa pelayanan yang mereka lakukan adalah merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada para dewa.

Kemudian tradisi yang pada awalnya ini merupakan persembahan keagamaan berubah menjadi ladang bisnis yang ternyata dapat menjanjikan kehidupan yang layak. Menurut pengakuan salah seorang devadasi, mereka mengakui dengan keahlian yang mereka miliki, mereka dapat bertahan hidup tanpa adanya seorang suami untuk mencukupi segala kebutuhan mereka.

Atas latar belakang kemiskinan tadi, dengan menggunakan pengaruh agama dan ideologinya atas kaum petani, maka para pendeta merekayasa suatu cara untuk melegalkan praktek prostitusi dari sudut pandang agama. Para gadis yang berasal dari golongan miskin dan berkasta rendah ini pada mulanya dijual melalui lelang tertutup untuk kemudian dipersembahkan ke dalam kuil. Maka disitulah praktek prostitusi bermula.

Sebenarnya pemerintah India sendiri telah mengeluarkan undang-undang untuk menghentikan praktek Devadasi ini, namun sangatlah sulit untuk dapat dihentikan sepenuhnya. Penyebab utama para orang tua ini tetap memilih anak gadis mereka untuk dijadikan sebagai Devadasi adalah karena faktor kemiskinan. (berbagaisumber)